Love Has Left [Chapter 4]
Friday, April 28, 2017
Love Has Left jadi ff pembuka
kembalinya gua dari ujian-ujian. Juga karena rasanya udah lama banget gua lupa
update [emang!] shit, maaf. Alesan gue ya karena ujian,
HEHEHEHE. Tapi gue berhasil update ff lagi setelah sebulan hilang dengan Love
Has Left.
YES. Jadi, gue udah selesai UN-nya. Iya, jelas udah selesai
soalnya gue update hal lain TAPI KENAPA LOVE HAS LEFT NGGAK, RE? Sabar, sabar.
Kan mesti ada transisi antara habis ujian dan liburan, lol. anw sebenernya
sekolah belom libur tapi gue udah nggak ada aktivitas lagi jadi gue anggep
libur, sih. Untuk dua bulan kedepan gue bakal update semua fanfiction,
masing-masing satu. [termasuk Alvin's Online Diary walaupun dia bukan
fanfiction.]
▲
Minseok benar-benar akan pergi dari rumah – Jongdae tidak percaya ini, hal yang paling dia takutkan benar-benar terjadi. Iya, Luhan memang memiliki hak penuh untuk itu, Jongdae juga bisa menerimanya. Tapi dia sedih dan merasa pahit.
“Minseok,”
Jongdae membantu Minseok membantu packing,
melipat dan memasukan beberapa potong pakaian kedalam tas. “Aku memohon untuk
yang terakhir.”
Minseok
berhenti memasukkan peralatannya dan menatap Jongdae. “Jongdae, aku janji tidak
akan melupakanmu. Tapi aku minta maaf, aku sudah bilang aku tidak bisa tetap
tinggal. “
Baiklah,
Jongdae menyerah. Jongdae tidak bisa menggenggam Minseok selamanya kalau memang
tidak ditakdirkan untuknya. Dia pasti masih bisa melihat Minseok sesekali,
Minseok sudah berjanji. “Kau benar-benar berjanji?”
“Aku
janji,” Minseok mengembangkan senyumnya dan berjalan mendekati Jongdae, memeluk
Jongdae. “Kita semua teman, jadi kita pasti bisa berkumpul bersama lain kali.”
Tok tok tok.
Itu
pasti Luhan – Jongdae sudah menunggu dengan jantung yang berdegup tidak tenang.
“Tolong kau yang buka, aku mau mandi dulu,”
Jongdae bersiap dengan senyum andalannya, berpura-pura semua baik-baik
saja untuknya.
Dia
berjalan ke pintu, membukanya dan memasang senyumnya. Luhan yang berada diluar
juga melebarkan senyum yang tidak kalah lebar dengan milik Jongdae. “Selamat
pagi, Jongdae. Bagaimana harimu?”
Jongdae
menghela nafas sambil mempersilahkan Luhan masuk. “Well, Tugas kuliah belum terlalu sulit jadi aku masih bisa agak
bersantai. Minseok baru saja pergi mandi. Omong-omong, kau juga bagaimana?”
“Aku
ingin memulai sesuatu yang baru, Jongdae. Jadi aku mencoba lebih rajin dan
belajar lebih giat supaya aku bisa mengejar banyak hal.”
“Semoga
berhasil untukmu, Kau pasti bisa,” Jongdae kembali dari dapur setelah dia
mengambilkan minum untuk Luhan. “Itu adalah awal yang baik.”
Luhan
meminum air itu beberapa teguk dan melanjutkan, “Aku juga berharap ini tidak
bertahan di awal saja, haha. Omong-omong, kau sudah tau kalau Minseok akan ikut
bersamaku?”
Itu hal yang pasti tidak akan pernah terlupakan, Luhan.
Jongdae
mencoba memasang ekspresi yang biasa saja, sebisa mungkin dia terlihat senang.
“Tentu saja, Minseok sangat senang dan memberitahuku berkali-kali.” Suasana berubah hening, tidak ada satupun
dari mereka yang melanjutkan percapakan untuk beberapa menit.
“Jongdae,
aku berjanji padamu akan menjaganya. Aku pernah melukainya dan itu melukaimu
juga, kan? Aku minta maaf, aku sudah berjanji padanya aku akan berubah, dan
sekarang aku berjanji padamu. Pukul aku
kalau aku melukainya lagi, oke?”
Jongdae
tertawa, dia senang Luhan berubah sedikit demi sedikit. Setidaknya, akan ada
perubahan disetiap hari Minseok, dan hal itu menenangkannya. Membuktikan segala
hal bahwa Luhan adalah orang yang cocok dengan Minseok, walaupun orang itu
bukan Jongdae.
“Aku
tau kau tidak akan melakukannya lagi. Makanya kalau kau sampai melakukannya,
aku akan menghajarmu sampai mati, mengerti?” Jongdae memperlihatkan tinjunya
sambil tertawa, Luhan juga ikut tertawa melihat kepalan tangan Jongdae.
Mengingat dia pernah merasakan sakitnya kepalan tangan itu.
“Apa
aku mengganggu?” Minseok muncul dari balik pintu kamar – sudah rapih dengan
pakaian dan tas nya yang berisi banyak barang bawaan.
Jongdae
dan Luhan menoleh ke arah Minseok – Luhan berdiri dan mengambil alih barang
bawaan Minseok. “Kau tidak menggangu, tentu saja. Baiklah, kita berangkat
sekarang?” Luhan pergi ke mobilnya
dengan sebagian keperluan Minseok, memasukkannya ke mobil. Menyisakan Minseok
dan Jongdae yang berdiam diri di ruang tamu.
“Jongdae,
jangan lupa untuk datang berkunjung.” Jongdae mengantarkan Minseok ke depan
pintu, Minseok mengenakan sepatunya sementara Jongdae tidak keluar ke halaman
rumah. “Aku janji akan sesekali datang ke rumahmu.”
“Aku
pastikan akan datang nanti.” Minseok tersenyum pada Jongdae, mengambil tas nya
lalu naik ke mobil Luhan, sementara itu Luhan selesai memasukkan barang-barang
dan dia menghampiri Jongdae.
“Terima
kasih untuk semuanya, Jongdae. Kau menjaganya dan membahagiakannya disaat aku
melukainya. Aku minta maaf. Aku benar-benar berjanji akan berubah.”
Aku melakukannya bukan untuk mu, Luhan. Aku menjaganya
karena aku mencintainya.”Well,
aku hanya mencoba membantunya.”
“Aku
minta maaf pernah berbicara kasar padamu di atap sekolah waktu itu. Aku
berusaha membuatmu membenciku juga.”
Jongdae tertawa, menepuk bahu kiri Luhan sambil menjawab santai, “Aku
tidak membencimu, kita ini teman.”
Jongdae
mengantarkan Luhan sampai dia masuk di kursi pengemudi, dimana disebelahnya
sudah ada Minseok yang juga sedang melihat padanya. Jongdae tidak percaya ini.
Minseok benar-benar pergi. Dia memandang Minseok, dia pikir ini adalah yang
terakhir kalinya dia bisa memandang Minseok tanpa hal lain yang mengganjal
pikirannya. “Baiklah, kalian hati-hati kalau begitu.”
Luhan
dan Minseok memasang sabuk pengaman, dan Luhan menyalakan mesin mobilnya.
“Terima kasih untuk semuanya, Jongdae. Kami akan datang berkunjung.”
Setelah itu,
Jongdae bisa melihat mobil itu perlahan menjauh dan lama-kelamaan hilang di
kejauhan. Dia memasang langkah gontai dan berjalan masuk ke dalam rumah,
menguncinya dan membuka gorden – supaya rumah yang kembali suram ini setidaknya
mendapat cahaya. Walaupun itu bukan
cahaya yang berasal dari mata Minseok. Harus berapa kali dia mengulang
kata-kata ini? Minseok. Benar-benar. pergi. Hari masih pagi, tapi dia bisa
merasakan kegelapan dari kenyataan yang dia hadapi.
▲
“Minseok?” Luhan
memanggil Minseok disebelahnya yang hanya menundukkan kepalanya, memandangi
ponsel sambil mendengarkan lagu. “Ya?”
“Aku ingin
mengajakmu ke suatu tempat yang spesial. Kau tidak keberatan kan kalau kita
tidak langsung pulang?” Minseok mengernyit bingung, tapi sedetik kemudian dia
langsung menyetujui.
“Baiklah, aku juga sedang ingin jalan-jalan.”
Mereka berhenti
di sebuah kafe – tapi itu bukan hanya kafe, itu kafe kesukaan Minseok. Mereka
selalu kencan di kafe itu, karena Minseok suka sekali minum kopi dan makan kue
keju di kafe itu. “Luhan,” Luhan menoleh kearah Minseok untuk menjawab
panggilan itu. “Kau masih ingat.”
“Minseok, untuk
hal-hal seperti ini aku tidak akan lupa. Karena semua yang berhubungan denganmu
sangat penting.”
Sudut matanya
sudah membentuk bendungan air mata – terharu. Dia merasa, memang seperti inilah
mereka seharusnya. Minseok memesan menu yang selalu dia pesan – Espresso dan Cheesecake.
Luhan juga memesan menu favoritnya – Milkshake. Ketika pesanan datang, Minseok
yang pertama kali memasukkan sepotong besar kue ke dalam mulutnya.
Memperlihatkan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia senang, karena dia sudah
lama tidak makan itu.
“Kue keju disini
selalu enak,” Minseok mengunyah dan mengunyah, sementara Luhan hanya
memandangin Minseok yang begitu sibuk makan. “Luhan, kau tidak makan juga?”
Luhan tertawa
menjawab pertanyaan Minseok, memegang tangan kiri Minseok yang bebas dan
mengelusnya pelan. “Melihatmu makan sudah cukup untukku.” Kue
strawberry berakhir tidak tersentuh oleh Luhan, dan Minseok yang menghabiskan
semua itu.
“Sudah kenyang,
Minseok?” Luhan bersiap membayar untuk pesanan mereka, tapi Minseok menggeleng.
“Ini makanan pembuka untukku,”
Luhan kembali
tertawa mendengar jawaban Minseok – dia lupa, Minseoknya sangat suka makan.
“Baiklah, kau ingin memesan lagi atau tempat selanjutnya pilihanmu?”
Minseok
berpikir sebentar, lalu dia membuka mulutnya. “Tempat selanjutnya pilihanku.”
Luhan membayar
tagihan dan mereka kembali ke dalam mobil. Luhan menjalankan mobilnya dan
mereka sampai pada simpangan pertama. “Kita ke arah mana?” Karena tempat
selanjutnya adalah pilihan Minseok, maka Minseok yang mengarahkan jalan.
“Lurus
terus.”
Minseok terus
mengarahkan jalan sampai mereka sampai pada sebuah kedai kecil di pinggir
jalan, agak kumuh kalau dilihat dari luarnya – tapi dalamnya di hias sehingga
terasa hangat. Minseok mengambil duduk di salah satu kursi panjang, Luhan
,mengikuti disebelahnya. Memandang ke segela arah kedai itu dengan tatapan
aneh.
“Ini tempat apa,
Minseok? Bagaimana kau tau tempat seperti ini?”
“Kenapa?” Minseok
memandang Luhan aneh, karena dia juga memberikan tatapan aneh pada tempat ini.
“Kau lupa ini tempat apa?”
Luhan memandang
Minseok bingung, sambil mengingat-ingat. “Aku minta maaf, tapi aku benar-benar
tidak ingat.” Pesanan makanan mereka datang, Minseok mengambil sumpit dan
sendok untuk dirinya dan Luhan sambil tertawa. “Aku tidak heran kalau kau tidak
ingat tempat ini,” Minseok mulai mengaduk ramen
nya, meniupnya karena masih panas. “Kita makan dulu, baru aku beritahu nanti.”
Minseok
membersihkan bibirnya dari sisa yang berantakan, sementara Luhan sudah selesai
daritadi, menunggu jawaban dari Minseok. “Kau masih tidak ingat?” Luhan hanya
menggeleng.
“Ini tempat
pertama aku melihatmu, Luhan. Sebelum kita bertemu di sekolah, kita pernah
bertemu disini.” Tempat itu sangat sepi.
Sementara Luhan berjalan ke kasir, Minseok masih bisa bercerita dari tempat
duduk mereka. “Aku tidak tau bisa dibilang bertemu atau tidak, tapi pokoknya
aku melihatmu.”
Luhan masih
menunggu kalimat penjelas lain karena dia masih tidak ingat. “Itu kali pertama
aku tau kau suka bersepatu roda, waktu itu kau dan teman-temanmu masuk dan
semua orang termasuk kau membawa sepasang sepatu roda.”
“Well, Kau
pernah makan di tempat yang kau anggap kotor ini.” Minseok bisa melihat tatapan
risih yang Luhan berikan pada tempat ini, padahal
makanan disini sangat enak.
Luhan merasa dia
mulai ingat tempat ini, walaupun dia tidak ingat Minseok. “Aku tidak merasa ada
kau.” Minseok tertawa mendengar jawaban
Luhan. Benar, dia tidak mungkin ingat.
“Bagaimana kau
bisa ingat? Aku duduk dibangku paling ujung dan kau hanya tertawa terus.”
“Kau di paling
ujung?” Luhan mencoba mengingat walaupun pikirannya masih menolak untuk
memberikan gambaran Minseok. “Kau yakin kalau itu aku?”
“Aku yakin
ketika berada disekolah, aku melihatmu. Sangat mirip dengan topi yang selalu
kau sampingkan.”
Sekarang dia
ingat, laki-laki kecil yang memakai jaket tebal dan selalu menunduk, lelaki itu
adalah Minseok. “Ey, Jadi sejak awal
kau sudah memperhatikanku?”
Minseok merona
sedikit, tidak bisa menyangkal tapi juga tidak bisa membenarkan. “Aku- Bukan
begitu! Kau berisik sekali, tau tidak? Untuk penyendiri sepertiku, kau dan
teman-temanmu benar-benar mengganggu.”
Luhan membayar
tagihan untuk pesanan mereka, berjalan menuju mobil dengan Minseok mengikuti
dibelakangnya, menggerutu. “Aku benar-benar tidak menguntit, Luhan.”
“Iya, aku
percaya. Kalau kau semakin banyak mengulang, kau semakin mencurigakan.” Luhan
tertawa melihat ekspresi terkejut Minseok, dia langsung terdiam ketika Luhan
sudah menjalankan mobil. Tidak ada yang bicara lagi dalam perjalanan pulang
yang jauh ini. ketika dia menoleh kesamping, Minseoknya sudah tertidur pulas.
Minseoknya, sangat tampan.
Ketika mereka
sampai, hari sudah gelap dan Minseok tidak terbangun. Luhan turun terlebih
dulu, menurunkan barang yang kira-kira dibutuhkan Minseok besok dan membuka
pintu. Lalu dia kembali lagi ke mobil, membuka pintu Minseok dan menggendong
Minseok. Sangat berhati-hati supaya Minseok tidak terbangun.
Luhan membaringkan
Minseok di kasur. Melepaskan sepatu dan jaket yang dikenakan Minseok perlahan,
dan menyimpannya. Luhan hanya mencuci wajah dan berganti pakaian, lalu menyusul
berbaring disebelah Minseok, menarik selimut menutupi dada – tidur nyenyak
sambil memeluk Minseoknya.
▲
Luhan ingat
janjinya kalau dia ingin berubah, maka dia mencoba memberikan waktu lebih
banyak untuk Minseok hari ini dengan berencana mengajaknya ke pantai – tapi
Minseok belum tau.
“Minseok,” Luhan
sudah siap dengan barang yang diperlukan – sunblock; baju ganti dan uang, tentu
saja – lalu menghampiri Minseok yang sedang memasak. “Aku mau mengajakmu pergi
ke pantai.”
Minseok membalik
badannya ketika merasa terpanggil, dia menatap bulat satu pasang celana yang di
angkat Luhan. “Kau ingin pakai yang mana?” Sementara Minseok masih kaget, dia
hanya memilih.
“Yang abu-abu?”
Luhan kembali
melipat celana abu-abu itu dan memasukkan ke dalam tas, dan berjalan menyebrang
dapur lalu mengambil kotak makan kosong dari lemari. Luhan membuka beberapa,
“Masukkan masakanmu kesini ya nanti kalau sudah tidak terlalu panas,” Luhan
kembali bergerak ke rice-cooker, memasukkan beberapa sendok nasi dan menutup
kotak makan itu.
Luhan melihat
Minseok yang membulatkan matanya. “Ada apa? Kau tidak ingin pergi?”
Setelah kembali
dari lamunannya, Minseok tersenyum, “Aku ingin pergi, Aku sedikit shock karena
kabarnya mendadak,” Tapi Minseok tetap
merasa senang.
“Aku ingin
supaya terdengar surprise untukmu -
Kalau dengan persiapan nanti tidak asik.” Luhan membalas dengan senyum,
dan membantu Minseok memasukkan makan siang yang harusnya mereka makan dirumah
ke dalam beberapa kotak makanan.
Minseok
melepaskan celemeknya dan juga mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai
sementara Luhan – yang sudah menyiapkan semuanya- memasukkan barang-barang ke
mobil.
“Semua sudah kau
masukkan?” Tidak seperti biasanya, Luhan lah yang menyiapkan segala keperluan
dan itu membuat Minseok tidak tenang.
Belum lagi ini mendadak –untuknya-
dan bepergian seperti ini adalah hal baru.
“Handuk, pakaian
ganti, sublock, tiket, makanan, dan uang – tentu saja.”
“Tiket?” Apalagi
hal yang tidak diketahui Minseok?
“Oh ya, tentu
saja aku belum memberitahumu. Aku dengar jam 4 sore ada pertunjukan drama dari
kampus setempat dan mereka menjual tiket. Pertunjukannya digelar di pantai itu,
jadi aku rasa tidak ada salahnya menonton.”
Diam-diam
Minseok bersorak dalam hati, karena dia sangat menyukai pertunjukan.
“Omong-omong, kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke pantai?”
Selagi menyetir,
Luhan menyempatkan tersenyum dan menoleh kearah Minseok. “Aku ‘kan berjanji
untuk berubah, dan aku rasa aku bisa memulai dengan menghabiskan lebih banyak
waktu denganmu.”
Lagi, dia tidak
bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Mengembang senyum, menunduk dan
memilin ujung bajunya. “Eh- terima kasih kalau begitu.”
Luhan
memarkirkan mobilnya di pinggiran pantai yang berbatasan dengan jalan raya –
dimana mobil lain juga diparkirkan. Membawa sebagian perlengkapan yang berat,
dan membiarkan Minseok membawa sisanya, berjalan di depan Luhan.
“Bagaimana,
Minseok? Kau suka pantai?” Matahari sudah bisa dikatakan terik, tapi itu tidak
menghalangi mereka untuk berenang dan sekarang, bermain di tengah pantai.
Minseok begitu semangat ketika dia melihat padang pasir datar yang bersih – yang dikhususkan untuk mereka, kata
Minseok.
“Hari ini tampak
cerah, semuanya terlihat berwarna dan panas matahari tidak menusuk. Aku rasa
itu adalah alasan aku mulai menyukai pantai,” Jawab Minseok. ”Juga banyak sekali
orang, padahal ini hari biasa. Kenapa begitu banyak orang yang pergi ke
pantai?”
Luhan tertawa
kecil mendengar jawaban sekaligus pertanyaan Minseok. “Mungkin sebagian sama
seperti kita – menghabiskan waktu bersama orang yang paling mereka sayangi,”
Luhan menghapus sedikit surai coklat yang tercetak di pipi Minseok. “Dan
memandangi ciptaan Tuhan yang begitu indah bagi masing-masing orang,”
Minseok merona.
Mencubit tangan Luhan dan tertawa.
Minseok menutup wajahnya dengan sepasang telapak tangan –malu- ketika
dia melihat Luhan yang juga sedang melihatnya. Mereka menikmati keheningan
dengan saling berpegangan tangan. Memejamkan mata sambil menikmati hembusan
angin yang menyapu pipi mereka, sampai Luhan terduduk dari posisi tidurnya.
“Sudah hampir
setengah 4, Minseok. Ayo siap-siap,” Luhan bangkit pertama kali. Dia bangun dan
membereskan sisa makan siang mereka –yang sebagian besar dihabiskan Minseok– Minseok
tidak ingin hanya diam, dia juga ikut bangun dan mengeluarkan pakain ganti
miliknya dan Luhan.
“Minseok.
kembali ke pasir itu. Pokoknya kau harus
tetap bersantai dan serahkan semuanya padaku.” Minseok mengerjapkan matanya
sejenak, dan detik berikutnya dia menuruti perintah Luhan. Ketika Luhan
selesai, dia menggandeng tangan Minseok dan membantunya berdiri – mengajaknya
meninggalkan sisi pantai ini dan pergi ke sisi yang lain.
“Pertunjukkannya
digelar di pantai Utara, kita harus bergegas kesana sebelum ramai.”
Mereka sampai
dan mengambil tempat duduk di paling depan, tidak ingin ketinggalan.
“Luhan,
pertunjukkan seperti apa yang akan mereka tampilkan?”
Luhan tampak berpikir,
menerawang ke atas dan sedikit mengerucutkan bibirnya. “Dilihat dari judulnya,
seperti drama musikal, tapi aku juga kurang tau.” Minseok suka drama musikal,
dan dia harap perkiraan Luhan benar.
Luhan pergi
membeli minuman dingin, sementara Minseok duduk menunggu dan dia tidak bisa
menghindari keinginannya untuk berpikir.
Luhan berubah.
Dan itu hal yang menyenangkan –sangat. Walaupun sekarang Luhan jadi sangat
sibuk dengan mengerjakan tugas, tapi Minseok sangat mendukung. Luhan
memperbaiki kebiasaan malas dan instant
miliknya. Buat orang seperti Luhan, menjadi rajin pasti sulit. Terlihat dari
bulan-bulan awalnya menjadi mahasiswa, Luhan sering sekali tidur telat hanya
untuk memastikan semuanya rapih, dia membuat jadwal miliknya yang dianjurkan
Minseok –dan luhan bilang itu sangat membantu. Nilai kuis dan ujian Luhan di
awal sangat buruk – walaupun bukan F. “Aku
sudah belajar, kau lihat sendiri, tapi rasanya aku benar-benar gugup dan tidak bisa menjelaskan hal yang aku
ketahui dengan baik.” Begitu menurut
Luhan. Tapi untuk Minseok, Luhan lebih seperti tidak memiliki teman yang cukup
pintar untuk dicontek. Sekarang, Luhan benar-benar membaik. Nilainya aman, dan
Luhan juga sering membawa teman kuliahnya kerumah. Luhan mengajak Minseok pergi
makan diluar untuk memberi mereka waktu libur berdua –libur materi kuliah untuk
Luhan dan libur memasak untuk Minseok.
Minseok tidak
sadar, kalau Luhan sudah kembali disisinya dengan dua kotak susu strawberry
kesukaan Minseok dan dua kotak lain rasa coklat, kesukaan Luhan. Sementara itu,
Luhan tidak berniat untuk membawa pikiran sibuk Minseok kembali, alasannya
karena wajah lucu dan polos itu; Luhan sangat menyukainya.
Baru ketika
suara tepuk tangan dan sebuah lagu diputar, tempat itu ramai dan keramaian itu
menyadarkan Minseok. “Eoh, Luhan, Sudah berapa lama kau kembali?” Luhan
memberikan dua kotak susu yang tadi dia pegang, dan membuka satu miliknya.
“Cukup lama untuk menyadari bahwa kau sangat cantik.”
Minseok merona
lagi. Tidak tahu sudah berapa kali Luhan membuatnya berbunga-bunga hari ini.
Ketika pertunjukan dimulai, Luhan tidak kalah fokus dari Minseok yang semakin
antusias – mengetahui bahwa ini benar drama musikal.
“Bagaimana? Kau
suka?” Minseok benar-benar menikmati drama musikal bertema komedi tadi, sangat
cocok dengan moodnya. Di akhir acara,
setiap penonton diberikan makanan dan kuisioner mengenai acara yang mereka
selenggarakan yang diisi panjang lebar oleh Minseok. “Aku sangat suka. Mereka
sangat hebat dalam memainkan peran, seharusnya mereka sudah debut dari dulu.”
“Namanya ujian
praktek, Minseok. Jadi kalau kau ingin menyelesaikan kuliahmu, pasti kau harus
melewati ujian seperti ini.” Minseok mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Setelah kursi-kursi yang semula ramai menjadi sepi, mereka berdua ikut
meninggalkan lokasi pertunjukkan dan kembali ke mobil.
Luhan mendesah
lelah dikursi pengemudi. “Baiklah, kau ingin pergi kemana lagi?” Minseok
memandangi wajah Luhan yang juga sedang menatapnya dengan senyum. Tidak begitu
jelas, karena hari sudah gelap dan pencahayaan yang kurang.
Minseok ingin
menghabiskan malam ini dengan menonton film di bioskop– tapi sepertinya tidak
mungkin, melihat wajah lelah Luhan yang coba dia sembunyikan. “Aku ingin pulang, Lu. Kau sudah lelah dan
aku tidak ingin kau menyetir dalam keadaan yang lebih buruk lagi.”
Luhan memasang
senyumnya dan mulai menyalakan mobil. “Aku masih bersemangat untuk melakukan
hal lain denganmu, Minseok. Kita tidak bisa sering-sering seperti ini.”
Lagi,
Minseok tersenyum. Dia yakin mereka berdua memiliki banyak kesempatan, walaupun
tidak dalam jangka waktu dekat. “Tidak apa-apa,
selalu ada lain kali. Ayo kita pulang dan istirahat.”
▲
Minseok terkejut
ketika dia bangun dan melihat jam di sampingnya menunjuk jam 6, masih pagi sekali. Tapi dia lebih
terkejut lagi ketika dia melihat Luhan tidak ada disebelahnya. Di hari minggu
seperti ini, Luhan yang bangun lebih pagi adalah hal yang tidak mungkin.
Minseok bangun dari ranjangnya dan berjalan keluar, mencari Luhan.
“Luhan?” Rumah
baru Luhan lebih besar dari sebelumnya, mencari Luhan menjadi lebih sulit. Dia
mencari ke dapur, dan di dapur sudah ada dua piring sarapan di meja itu, tapi
tidak ada Luhan. Dia mencari ke kamar mandi, tapi Luhan juga tidak ada. Dia
turun ke lantai satu, dan Luhan sudah menunggu.
Minseok turun
perlahan dengan senyum yang mengembang diwajahnya, menghampiri Luhan yang
menunggu dibawah. “Minseok, aku mau mengajakmu ke sudut lain rumahku,” Luhan
menggandeng tangan Minseok dan menuntunnya ke belakang rumah, dan mereka sampai
pada sebuah ruangan kosong yang di cat putih.
Didalamnya ada
sebuah kotak besar yang ditutup kain, kotak itu lebih besar dan lebih tinggi
dari Minseok. Mereka mendekati kotak itu, dan Luhan berhenti. Minseok menoleh
kearah Luhan. “Kenapa?”
“Karena itu
milikmu.”
Minseok
memandang kotak besar itu lagi. “Boleh aku tarik kainnya, Luhan?” Luhan
menggangguk dan Minseok kembali berhadapan dengan kotak yang jauh lebih tinggi
darinya, tidak tahu apa yang ditutupi kain hitam itu. Dia menarik kain itu
perlahan, dan sekarang dia bisa melihat apa yang ada dibalik kain itu.
Kulkas.
Minseok
memandang kearah Luhan sambil tersenyum dan tertawa, “Aku tidak pernah minta
kulkas,” dia masih tertawa sementara Luhan berjalan mendekatinya, merangkul dan
memeluk Minseok.
“Selamat ulang tahun,
Minseok. Aku tidak akan pernah lupa hari ini hari apa, Semoga kau suka dengan
hadiah yang kuberi.”
Minseok
memandang kulkas putih itu lagi, menyentuh gagangnya dan sekitar kulkas itu. Tidak
tahu mengapa Luhan memberinya kulkas. “Aku tidak mengerti, aku tidak pernah meminta
kulkas padamu. Kau juga sudah memiliki kulkas di dapur. Aku pikir kau orang
yang romantis, Luhan, hahaha,” Minseok mengatakannya sambil tertawa, setengah
bercanda.
Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Luhan memberikannya kulkas,
tapi dia tetap penasaran akan isinya. Dia memegang gagang kulkas lagi dan
membukanya.
Kulkas itu
menyala dan terasa sangat dingin ketika sedikit dibuka, dan detik selanjutnya
Minseok tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Banyak sekali
bunga didalamnya. Bunga Lili lembah, kesukaan Minseok.
Minseok menutupi
mulutnya yang terbuka lebar, sangat terkejut. Matanya berkaca-kaca membendung
air mata yang siap tumpah. “Banyak sekali…”
Luhan maju
selangkah lagi dan mendekati Minseok yang terduduk di depan kulkas yang terbuka
sambil menangis. Memeluk badannya yang bergetar dan mengusap kepalanya. “Aku kira kau suka hal-hal romantis, tapi kau
malah sedih,” Luhan mencoba menghibur Minseok dan mengatakannya sambil tertawa.
Minseok mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan mata sembabnya yang mengalirkan
air mata.
“Aku- Terima
kasih, Luhan. Aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak yakin aku adalah orang
yang tepat untuk mendapatkan banyak bunga darimu,”
“Minseok, kau
adalah orang paling baik yang pernah aku temui, dan aku menginginkanmu disampingku
seumur hidupku. Aku hanya memberikanmu sedikit bukti bahwa aku sangat mencintaimu.”
Minseok
memandangi bunga-bunga yang memenuhi kulkas itu, dia sangat tidak menyangka
dalamnya akan seperti ini. Dia mengambil satu bunga ditengah yang terlihat
lebih besar dari yang lainnya. “Bunga ini sangat mahal, Luhan. Dan jumlahnya
banyak sekali…” Bunga itu benar-benar banyak, bahkan setelah Minseok mengambil
satu yang besar, tidak ada jejak kosong yang ditinggalkan bunga itu, bunga lain
sudah menutupinya dan masih tampak penuh. “Aku tidak tampan, aku tidak kaya.
Aku tidak populer, dan tidak akan pernah sebanding denganmu.”
Luhan ikut
mengambil bunga lain yang berwarna lebih terang, menyisakan sedikit tangkainya
dan memakaikan bunga itu ditelinga kiri Minseok. “Bukan itu yang aku inginkan
darimu. Aku melihat apa yang ada didalammu, dan Kim Minseok, kau sangat indah.
Aku tidak menilaimu dari luar, karena itu aku memberikan banyak bunga di dalam
kulkas. Agar kau melihat apa yang ingin aku sampaikan.”
Luhan mencoba
dengan keras untuk menenangkan Minseok yang tidak berhenti menangis. Dia
mengambil lebih banyak bunga yang tidak habis-habis itu dan menaruhnya di
genggaman tangan Minseok.
Tidak ada
satupun dari mereka yang berbicara untuk beberapa menit, hanya menikmati keheningan
dan waktu yang mereka miliki berdua sampai Minseok mengangkat kepalanya dan
kembali menatap Luhan. “Aku sangat berterima kasih untuk hadiah yang kau
berikan dan masih mengingat hari ini untukku. Aku tidak tahu bagaimana cara
mengembalikkannya.”
“Ini juga bentuk
permohonan maaf untuk kesalahanku, aku berharap sedikit demi sedikit aku sedang
menebusnya.”
“Kenapa kau
masih memberiku banyak hadiah? Maksudku, kau mencintaiku dan kita pernah
memiliki kenangan bersama. Dengan hadiah-hadiah sebelumnya, kau sudah pasti tau
kalau aku juga mencintaimu…”
Luhan tersenyum
mendengar jawaban Minseok. “Kim Minseok, jawabannya adalah karena kau tidak
bisa memberitahu seseorang bahwa dia mencintaimu. Kau hanya bisa berusaha
mendapatkannya, mengenai apakah dia mencintaimu itu akan menjadi takdir.”
Minseok menatap
Luhan berkaca-kaca lagi, dia tidak tau. “Mengenai hadiah, kau adalah milikku,
jadi membuatmu bahagia adalah tanggung jawabku. Aku hanya mencoba melambangkan
hal yang kau inginkan menjadi ukuran kebahagiaanmu.”
“Bagaimana
dengan kebahagiaanmu sendiri?”
“Kebahagiaanmu
adalah kebahagiaanku juga.”
Minseok
tersenyum mendengar jawaban itu, sedikit
lega. Dia mencubit pelan lengan kiri Luhan yang memeluknya. “Dasar,” Minseok tertawa kecil dan mengambil lebih
banyak bunga, walaupun tangannya sudah agak penuh.
“Omong-omong,
apakah kau yang membuat sarapan?”
Luhan membantu
Minseok berdiri –karena kedua tangannya penuh- dan mengajak Minseok ke dapur
setelah mendengar pertanyaan Minseok. “Tentu saja, aku juga akan mengerjakan
pekerjaan rumah hari ini. Untunglah hari ulang tahunmu hari minggu, aku jadi
bisa meluangkan waktu untuk kesayanganku.”
Minseok merona
merah mendengar jawaban itu, Luhan tidak henti-hentinya membuat Minseok merasa
senang. “Oh, artinya kau tidak ada tugas?”
“Aku akan
melupakan tugas untuk hari spesial ini.” Luhan mengarahkan Minseok untuk duduk
di bangku yang sudah dia sediakan, di hadapannya. Dengan sebuah piring sarapan
yang masih terasa hangat. “Aku bangun lebih pagi untuk sarapan ini, aku sangat gugup.
Aku hanya berharap rasanya enak dan layak dimakan.”
Minseok kembali
tertawa untuk yang kesekian kalinya di pagi hari ini. Mengambil garpu dan
sendok lalu mulai membelah telur dadar tepat ditengah, dan terlihatlah nasi
goreng yang masih mengebul panas. “Ini terlihat enak.” Minseok mengambil satu
sendok penuh, meniupnya sedikit dan memasukkannya kedalam mulutnya. Sementara
itu, Luhan bernafas dengan gugup. Sedetik kemudian Minseok menunjukkan ekspresi
terkejutnya.
“Kenapa?” Luhan
bertanya cepat, dia mendapat firasat buruk. “Sangat enak, Luhan. Aku suka
nasinya yang lembut dan telurnya tidak terlalu asin untukku. Semuanya terasa
enak.”
Luhan bernafas
dengan lega, dan selanjutnya dia juga mengambil sendok dan garpu lalu
menyuapkan satu sendok juga kedalam mulutnya. Rasanya tidak buruk, Luhan. Selamat.
“Apakah aku
berhasil?”
“Tentu saja,
berapa banyak kau berlatih?” Luhan memang tidak bisa memasak. Sama seperti
Jongdae, tinggal sendiri untuk waktu yang sangat lama membuat mereka terbiasa
dengan makanan cepat saji. Berbeda dengan Minseok yang harus banyak berhemat,
memasak adalah hobi dan caranya untuk memanfaatkan banyak bahan makanan. “Tapi
bagaimanapun, Ini diluar dugaanku.”
Luhan merasa
sangat senang mendengar pujian untuk masakannya, apalagi pujian itu datang dari
Minseok yang masakannya sangat enak. “Kau tidak hanya sedang memujiku, ‘kan?”
Luhan menyuapkan sendok lain kedalam mulutnya. “Aku berlatih lumayan sering dan
mungkin kau tidak menyukai fakta ini – aku sudah membuang banyak nasi, telur
dan bumbu lainnya untuk ini. Aku mulai dari benar-benar tidak bisa dimakan
sampai berhasil mendapat pujian darimu.”
Minseok kembali
tertawa. “Kalau begitu, kita bisa memasak hal lain bersama-sama.” Luhan
tersenyum lebar, itu adalah impiannya sejak dulu. Karena dia tidak bisa
memasak, dia hanya selalu memperhatikan Minseok berjalan kesana kemari di
dapurnya. Tapi sekarang, dia sudah bisa membantu tanpa menghancurkan rasa dari
makanan buatan Minseok.
Tidak lama
setelah mereka fokus sarapan, ponsel Luhan bordering dari kamar. “Ponselku berdering,
Minseok. Aku akan ambil sebentar.” Minseok mengangguk mengiyakan mengikuti
Luhan yang bangun dari kursinya dan pergi meninggalkan dapur. Minseok meneguk
segelas air dingin dan dia hampir memuntahkan air itu ketika dia melihat Luhan
sudah kembali dan berdiri di pintu dapur.
Dengan satu
buket mawar merah yang sangat besar, sampai menutupi tangan Luhan yang memegangnya.
Buket itu dihiasi dengan kertas berwarna coklat yang kontras dengan warna bunga
yang mahkotanya besar.
Minseok
membentuk mulutnya seperti O besar dan menutupnya dengan kedua telapak
tangannya, tidak mampu berkata apa-apa lagi. “Luhan…”
Luhan benar-benar
tau. Selain makanan, Minseok sangat menyukai bunga, dan Luhan mengerahkan
segala caranya untuk memenuhi hal yang sangat disukai Minseok. Luhan
menghampiri Minseok yang diam membeku di kursinya, ketika dia berada disamping
lelaki itu, Luhan berlutut.
Minseok memutar
kursinya agar berhadapan dengan lelaki yang sedang berlutut padanya. Mengangkat
bunga itu lebih tinggi, memberikannya pada Minseok. Minseok menerimanya
perlahan dengan tangan bergetar, dia gugup karena hal ini baru baginya. Setelah
Minseok menerima buket itu, Luhan mengambil satu kotak hitam kecil dari
sakunya, membukanya.
“Kim Minseok,
Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu menjadi pendampingku. Maukah kau menikah
denganku?”
Luhan
melamarnya.
Benar-benar
melamarnya.
Di hari ulang
tahunnya, Luhan melamarnya.
Ini adalah hari
terindah.
Matanya kembali
berkaca-kaca. Tidak cukup dengan ratusan bunga yang menumpuk di kulkas dua
pintu itu, Buket bunga yang sangat besar, hari ini Luhan memberikannya sebuah
cincin yang tampak cantik, dan Luhan pasti sudah tau bahwa Minseok menyukai
model seperti itu.
Perlahan,
Minseok menganggukkan kepalanya mengiyakan. Mulutnya mencoba menghirup udara
lagi karena hidungnya berhenti berfungsi. Matanya tidak bisa menahan bendungan
air lebih lama lagi.
“Aku mau menikah
denganmu, Luhan.”
Luhan memegang
tangan kanan Minseok, mengenakan cincin itu di jari manisnya. Luhan mengangkat
tangan kanannya dan menunjukkannya pada Minseok. “Lihat, aku memiliki cincin
yang sama denganmu. Ini akan menjadi bukti baru bahwa aku mencintaimu
selamanya, Kim Minseok.”
Minseok bangkit
berdiri dari kursinya, menyampingkan buket itu dan memeluk Luhan erat dengan
tangannya yang bebas. Menangis di dada Luhan, meremas bajunya karena dia tidak
tahan dengan kebahagiaan yang memenuhinya secara bersamaan.
“Terima kasih.
Kau sudah menunjukkan cukup. Aku mencintaimu, Luhan. Aku mencintaimu.” Ini benar-benar hari terbaik yang
mengejutkan. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, tapi tidak ada hal lain yang
dia inginkan selain bersama dengan Luhan.
Mendengar
jawaban Minseok, Luhan mengembang senyumnya secara otomatis dan mengusap rambut
cokelat Minseok pelan. Menenangkannya lagi, membalas pelukannya. “Aku akan
terus mencoba memperbaiki kesalahanku dan berjanji padamu aku tidak akan pernah
mengulanginya lagi, karena aku mencintaimu. Tolong berikan aku waktu seumur
hidup untuk membuktikannya padamu, Kim Minseok.”
FIN
▲
Makasih sekali lagi udah selalu nunggu-nunggu Love Has Left dan nggak bosen ngejar gue kesana-kesini, mancemans, gila, I love y'all so much. Jadi, dengan ini, Love Has Left udah selesai. Iya-iya pasti ntar ada yang ngomel-ngomel kenapa ga xiuchen kenapa luhan ga nyebur got ga ketabrak truk ;;; tbh gua juga pengennya Luhan kek dipersulit Jongdae dikit, kek. Tapi gimana ya. Gue ga tega bikin Jongdae jahat; itu bikin dia gebukin Luhan aja gua kek berdosa rasanya.
xiuchen shipper out there jangan gebukin gua lol udah ada percikan-percikan dikit lah, udah agak bagus (?) dibanding gua ga bikin xiuchen sama sekali kan. [gampar aja lah gausah takut.]
xiuchen shipper out there jangan gebukin gua lol udah ada percikan-percikan dikit lah, udah agak bagus (?) dibanding gua ga bikin xiuchen sama sekali kan. [gampar aja lah gausah takut.]
-kairay.
2 Comments
I can't believe it's already the end :(
ReplyDeleteawwww but a new series will be up soon!
Delete