Love Has Left [Chapter 3]

Thursday, November 24, 2016

Kalo berani update berarti berani kena omel ya re. MANCEMANS GALAK BANGET SI SARKASTIKNYA ELAH SANTE KALI jahat deh gua dikeroyok terus TT_TT Emangnya salah gue kalo gue mau motong chapter nanggung? salah gua sih emang, wek.

Udahlah, kayak baru pertama kali aja gua update nanggung. JANGAN MARAH-MARAH MULU NTAR GUA GA UPDATE LAGI JANGAN TANYA SALAH SIAPA YA! 

hehe, becanda mancemans.



Untuk menanggapi itu, Minseok hanya bisa tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga; hanya bersama Luhan dia bisa merasa seperti itu. Disamping luka yang sudah pernah dia dapatkan dari lelaki yang sama.


“Aku tetap beritahu Jongdae kalau aku akan pulang bersamamu,” Minseok bicara sambil mengecek barang yang dibawanya lagi, tampak sibuk. “Dia bilang kau boleh datang.”

Luhan tetap fokus menyetir, meskipun dia sangat ingin melihat wajah Minseok; apalagi ketika dia sedang bicara. Menggemaskan.  “Jongdae ada dirumah?”

“Setelah ujian akhir dia tidak memiliki aktivitas selain kelas vocal dan dance yang dia ikuti,” Jawab Minseok sambil memperhatikan jalanan. “Tapi untuk hari libur seperti ini dia beristirahat di rumah. Bagaimana denganmu, apa yang sedang kau lakukan?”

Luhan mematikan mesin mobil karena mereka sudah sampai di depan rumah Jongdae, membantu Minseok mengambil barang dan membawanya dibelakang Minseok. “Aku sedang berusaha mendapatkanmu kembali.”

Lagi, Minseok tersenyum tanpa dia perlu berpikir. Senyum itu mengembang dengan sendirinya, seperti sudah seharusnya dia tersenyum. Tidak lama, Jongdae membukakan pintu. Jongdae menganggukkan kepalanya begitu dia melihat Luhan di depan pintu, mengambil barang-barang Minseok yang dia bawa. “Masuklah.”

Luhan merasa lebih tenang dari kali terakhir dia menginjakkan kaki dirumah ini, waktu itu dia merasa tegang dan gugup. Tapi kali ini, dia merasa hangat. Minseok berjalan mendekati sofa, melepas jaket dan menaruh tasnya kemudian duduk di sofa itu. Jadi Luhan mengikutinya juga.

“Aku hanya ingin menjelaskan semuanya dengan lebih jelas lagi.” Luhan membuka pembicaraan setelah Minseok kembali dari membuat minuman untuk mereka berdua. “Kau butuh tahu lebih banyak untuk bisa memaafkanku.”

Minseok menyesap teh yang dia buat sedikit, memandang Luhan. “Aku sudah memaafkanmu, kau tau itu. Aku merasa tidak pantas untuk membencimu.”

“Tentu kau memiliki hak penuh untuk membenciku, melaporkanku ke kantor polisi atas tindak kekerasan. Tapi kau memilih tidak melakukannya dan menyimpannya sendiri. Bagaimana bisa kau memaafkanku?”

“Aku tidak tahu, aku hanya sudah. Memaafkan tidak sulit, Luhan. Yang sulit adalah melupakan.”

“Kau mencoba melupakanku?”

Minseok tidak sadar kalau dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Luhan yang indah, damai. Mata Luhan yang dulu. “Aku hanya mencoba melanjutkan kehidupan, sepertimu. Kau juga melanjutkan kehidupanmu.”

Sedikit demi sedikit, Luhan kembali merasa bersalah. Penyesalan datang terlambat, ‘kan? “Aku sudah selesai dengan Baekhyun, dia yang meminta duluan. Lagipula aku rasa kami tidak cocok, sifat kami berdua sangat keras.”

Daritadi Minseok hanya tersenyum, tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya dia. “Aku tidak tahu kau masih dengan Baekhyun.”

“Tentu kau tidak tahu, kau selalu di dalam kelas saat jam istirahat. Kalau kau suka main ke kantin, kau akan lebih sering melihat kami. “  Luhan tertawa menyindir Minseok, karena lelaki itu selalu menolak pergi ke kantin.  “Aku masih sekolah untuk satu tahun kedepan, aku akan mencoba pergi ke kantin kalau begitu.”

“Minseok,” Luhan memandang lurus ke dalam mata Minseok, seperti rumah itu kosong dan hanya ada mereka berdua. “Ya?”

“Apa kita teman sekarang?” Luhan memutuskan, sekarang belum saat yang tepat untuk mengajak Minseok kembali bersamanya. Luhan akan mengambil langkah pelan, karena dia juga ingin mengobati luka yang dia buat sendiri.

Sementara itu, Jongdae tidak pergi kemana-mana. Dia hanya ke dapur supaya juga bisa mendengar sedikit percakapan mereka. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau Minseok memaafkan Luhan, maka dia juga memaafkannya. Karena itu, sekarang Jongdae sudah tidak memiliki alasan untuk membenci Luhan.Tidak tahu bagaimana, tapi dia tau Minseok membutuhkan lelaki itu kembali . Jongdae tahu hal itu akan terjadi. Rasa sayang yang dia miliki untuk Minseok akan selamanya bertahan sebagai sahabat; tidak lebih dari itu. Minseok membutuhkannya sebagai seorang sahabat, bukan seorang kekasih. Begitu juga dengan dirinya, dia menginginkan Minseok sebagai kekasihnya, tapi itu bukan yang dibutuhkannya. Minseok telah mengajarkan banyak hal dalam hidup, dan itu adalah pesan yang disampaikan seorang sahabat. Dia telah membantu semaksimal mungkin, melindunginya sebagai seorang sahabat, itu mencakup semua hal yang dibutuhkan Minseok.

Merepotkan – tidak, sama sekali tidak. Jongdae melakukannya dengan senang hati, karena dia juga tidak mendapat kerugian dari membantu seorang teman. Banyak hal yang tidak bisa dipaksakan, hal itu salah satunya adalah perasaan. Sifat awal Jongdae adalah seorang yang keras, namun kehadiran Minseok mampu merubah sifat tersebut menjadi sesuatu yang lebih lembut, tapi tetap mempertahankan apa yang menjadi dasar untuk Jongdae. Minseok mengajarkannya untuk tidak memaksakan perasaannya sendiri, dan sekarang dia bisa menerima itu – dia tahu sekarang adalah saatnya untuk menggunakan nasihat Minseok, dan Jongdae berterima kasih karenanya.

“Jongdae,” Jongdae kembali dari pemikirannya yang dalam ketika mendengar Luhan memanggil namanya.  “Aku ingin pulang.”

Jongdae hampir merasa malu karena dia hanya duduk di depan meja makan yang kosong – tanpa satupun makanan- dimana kakinya berada di atas meja itu. “Aku akan mengantar kedepan,”

“Kita sudah mengobrol banyak,” Minseok kembali mengeluarkan bahan makanan yang dia beli tadi “Aku tidak mengantar ya, Lu. Aku harus memasak siang ini karena Jongdae belum makan. Akan lebih baik kalau kau ikut makan siang sebentar,”

“Aku ingin, tapi aku tidak bisa. Aku baru pindah rumah dan harus cepat membersihkannya, karena beberapa minggu lagi aku akan sibuk belajar untuk tes masuk universitas.”

Jongdae menepuk pundak Luhan beberapa kali, “Tidak apa, kau selalu bisa datang lain kali, Luhan. Kalau begitu sebaiknya kau bergegas pulang supaya bisa beristirahat.”

“Baiklah,” Luhan membalikkan badannya dan berjalan bersama Jongdae ke pintu depan. “Terima kasih sudah memaafkanku juga, Jongdae. Rumah ini benar-benar berisi kehangatan.”

Jongdae tersenyum, dan membukakan pintu untuk Luhan. “Kau tau, Minseok yang membuat rumah ini menjadi hangat. Dan aku memang memaafkanmu – tentu saja, karena kau temanku Luhan.”

Luhan terus berjalan bersama Jongdae sampai Luhan masuk kedalam mobilnya, “Aku akan berkunjung lagi lain kali. Kita akan bertemu di pengumuman kelulusan, kalau begitu?”

“Yap, jangan lupa. Dua hari lagi.”

“Tentu. Semoga berhasil untukmu, Jongdae. semoga kau bisa mengalahkan Joonmyeon,” Mereka berdua tertawa. Joonmyeon si ketua organisasi itu, berkali-kali bilang kalau Jongdae tidak akan pernah bisa mengalahkannya. “Kau juga, semoga berhasil. Untukmu aku berharap lulus sajalah,”

“Aku memang tidak sepintar kau, tapi aku juga pasti akan lulus. Baiklah, sampai jumpa lagi.” Luhan menyalakan mobilnya, dan melambaikan tangan pada Jongdae untuk yang terakhir kalinya hari ini. “Hati-hati dijalan.”


Beberapa hari terakhir ini Minseok sedang tidak bisa tidur. Walaupun dia lelah karena tugas sekolahnya, tapi tugas yang belum terselesaikan lebih kuat untuk membuatnya terjaga. Jongdae yang tidur disebelahnya tidak kalah lelah, bahkan dia tetap tertidur tanpa mengetahui temannya itu masih terbangun.

Minseok hanya menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri, merasa bosan. Diluar juga sedang hujan, menambah hawa dingin di kamar yang membuat suasana jadi kurang nyaman. Minseok memperhatikan  tetesan hujan itu berirama dengan detak jarum jam di kamarnya, sampai dering ponselnya mengangetkannya.

Luhan, nama yang tertera di layar ponsel itu.

“Halo?” Minseok mengangkat dengan hati-hati, takut membangunkan Jongdae.
Sapaan Minseok disambut dengan tawa kecil di seberang telepon, terkikik pelan. 

“Ini sudah lewat tengah malam, kenapa kau belum tidur?” Memecah keheningan yang hanya ditemani oleh tetesan air hujan, nada Luhan terdengar cemas.

Minseok menghela nafas sebentar, mengatur nafas supaya suaranya tetap rendah. “Belum, aku tidak mengantuk.”

Luhan menguap sekali, tanda sebenarnya dia sudah mengantuk. Dan itu menjelaskan kenapa Luhan merespon lambat. “Aku sudah mengantuk, tapi aku juga sedang belajar. Aku hanya ingin meneleponmu, tidak tahu kau akan benar-benar mengangkatnya.”

“Kapan tes mu itu berlangsung?”

“Minggu depan, hahaha. Aku sudah meminta bantuan Jongdae tapi tetap ada beberapa soal yang aku belum mengerti. “ Minseok mendengar suara gumaman Luhan yang tidak jelas, tidak mengerti dia bicara apa.

“Belajarlah yang giat, minggu depan itu sebentar, Lu.  Kau juga jangan lupa untuk istirahat.”  Luhan kembali merespon lambat, malah Luhan tidak merespon sama sekali. Minseok merasa mungkin Luhan tertidur untuk sepersekian detik. “Kenapa kau ingin meneleponku?”

Terdengar suara seperti Luhan sedang membalik-balikan halaman bukunya, dan menulis sesuatu. “Aku memikirkanmu.” Suara mengantuk Luhan terdengar bergetar dan rendah, membuat Minseok menginginkan Luhan menemaninya tidur sekarang juga.

Minseok menyukainya. Terdengar seperti Luhan sedang berkata manis untuknya. “Kenapa memikirkanku?”

“Kau tidak menjawabku?” Luhan yang ada disebrang telepon kembali tertawa, seharusnya Minseok sudah tahu jawabannya. “Kenapa malah tertawa?”

“Tidak ada. Seharusnya kau tau kenapa, Minseok.”

“Kenapa?”

“Aku merindukanmu.”

Minseok diam. Perasaan bahagianya benar-benar meledak sampai ke dada, benar-benar menghangatkan tubuhnya yang kedinginan akibat hujan yang semakin deras.

“Minseok?” Suara bergetar itu kembali memanggilnya, seperti tersadar secara paksa membuat Luhan terdengar lucu. Mungkin Luhan meminta Minseok untuk berbicara setelah Minseok hanya menanggapi Luhan dengan perasaan yang akan meledak.

“Ya, Luhan?”

“Ehm, aku tidak bisa menelepon terlalu lama, kau sudah menyuruhku tidur dan aku sudah tertidur beberapa kali daritadi. Sekarang juga sudah lewat tengah malam, besok kau sekolah. “

Minseok bisa membayangkannya, bagaimana Luhan yang setengah mengantuk menahan kepala beratnya diatas buku pelajaran yang tebal, yang dia yakin sudah ditutup saat Minseok mendengar suara lembaran kertas tadi. “Ya, tidurlah. Kau bilang kan besok pagi kau harus ke toko buku,”

“Aku matikan, ya. Sampai ketemu lagi. Selamat malam, Minseok. Cobalah untuk tidur,”
Minseok mengusap kulit tangannya karena merasa dingin yang menusuk, walaupun dia sudah menggunakan selimut menutupi seluruh badannya. “Aku akan usahakan.”

“Tidur yang nyenyak. Jangan lupa, aku merindukanmu.”

“Iya, kau juga tidur yang nyenyak.” Tidak lama setelah itu, Luhan mematikan sambungan dari seberang sana. Minseok menaruh kembali ponselnya di sampingnya, membenarkan posisi tidurnya dan mencoba untuk tidur. Dan berpikir, apakah ini sudah saat yang tepat untuk membalas Luhan dengan aku juga merindukanmu.

Jongdae sudah terbangun sejak pertama dering ringtone Minseok berbunyi. Jongdae tidak berniat mencuri dengar semua itu, tapi dia tidak bisa langsung tertidur lagi. Hanya dengan mendengarkannya, Jongdae yakin Minseok terus tersenyum selama panggilan itu berlangsung. Dia sendiri juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kalau Minseok bahagia.  Jongdae turut merasa senang ketika Minseok memiliki sesuatu yang dapat membuatnya tersenyum. Dia benar-benar sudah mendukung mereka untuk kembali bersama, itu adalah pilihan yang paling tepat.

Keadaan sangat sunyi disamping rintik-rintik hujan. Minseok melihat Jongdae yang tidur di sebelahnya – membelakanginya; berharap Jongdae tidak terbangun. “Jongdae? kau tidur ‘kan?”

Jongdae bergerak, membalik tubuhnya berhadapan dengan Minseok. “Menurutmu?” 

Minseok menghela nafas, ikut membalik badannya dan berhadapan dengan Jongdae. “Sudah kuduga. Aku minta maaf, mungkin ringtone ponselku membuatmu kaget.”

“Minseok,” Jongdae merasa kembali mengantuk,dia memejamkan matanya. “Biarkan dia merindukanmu – kadang ketika kau selalu ada, He takes you for granted  karena dia pikir kau akan selalu tetap tinggal.” Minseok tidak menjawab, dia mencerna kata-kata itu. 

Jongdae benar.


Minseok semakin banyak tertawa – bebannya pasti banyak berkurang. Salah satunya adalah Luhan yang kembali untuknya. Otomatis, Jongdae juga bahagia. Dia tidak pernah membuat Minseok tertawa sebahagia itu – hanya tertawa saja.

Luhan sangat cocok untuk Minseok. Bahkan dengan orang yang sama yang membuatnya terluka sekalipun, Minseok bisa tertawa lepas.“Semakin hari kau semakin terlihat bahagia,” Jongdae masih mengantar jemput Minseok – ditambah berbulan-bulan waktu liburnya, Jongdae tidak memiliki banyak aktivitas dirumah. 

Minseok memegang wajahnya, mengerucutkan bibirnya dan membulatkan matanya – menatap Jongdae. “Benarkah? Hari ini hari terakhir sekolah – dan semua tugas sulit sudah lepas dari beban pikiranku, jadi tidak heran kalau aku bahagia.”

“Dan Luhan juga sudah kembali padamu.”

Minseok hanya tersenyum – mungkin sebenarnya sekarang dia sedang melukai perasaan Jongdae, dia tidak tahu harus berkata apa. “Apakah itu sesuatu yang bagus, untukmu?”
Jongdae mengembangkan senyumnya yang tenang sambil mengikuti Minseok masuk kedalam rumah setelah dia membuka pintu. “Tentu saja, dengan Luhan kembali kebahagiaanmu juga kembali. Senyum yang selalu aku lihat dari kecil juga kembali.”

“Tapi aku sudah tersenyum dari kemarin-kemarin, Jongdae,”

Jongdae tersenyum lagi. “Tapi kau benar-benar bahagia baru beberapa hari belakangan ini,” dia mendudukkan dirinya di sofa sementara Minseok di dapur menyiapkan makan siang.  “Aku mau tanya sesuatu, Jongdae.”

“Tanya apa?”  Minseok mendatangi Jongdae yang duduk di sofa ruang tamu. “Temani aku duduk di dapur.” Jongdae berjalan mengikuti Minseok didepannya, memilih duduk di seberang Minseok. “Aku ingin bertanya beberapa pertanyaan tidak masuk akal,”
Minseok menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, melihat Jongdae sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke meja. “Tentang Luhan, yah.  Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang Luhan,”

Jongdae tersenyum, mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja makan. “Luhan? Dia orang baik. Tentu saja – kau pasti sudah tahu. Kenapa?”

Minseok menghela nafas, kali ini sudah berani menatap langsung mata lawan bicaranya. “Aku merasa aneh. Kau tau, tampaknya seperti aku tidak mungkin mencintainya lagi-“

“Tapi kau tidak pernah berhenti mencintainya.” Jongdae memotong cepat, memang seperti itu kenyataannya. 

“Ahm- Apakah begitu jelas terlihat diwajahku?”

Jongdae tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Minseok. “Begitu jelas terlihat di wajahmu.” Minseok mengerucutkan bibirnya, menarik nafas. “Maksudku, aku sempat bahagia tanpanya, Jongdae.  Aku tidak mengerti, kenapa aku dengan begitu mudah mengatakan kalau aku mencintainya.”

“Itu bagus untukmu. Berarti kau sudah menemukan orang yang tepat.”

Minseok mengerutkan dahinya, bingung. “Kau mendukungku?”

“Sangat.”

“Aku tidak mengerti.”  Minseok berhenti. “Aku tahu kau marah padanya untukku, tapi aku kira kau membencinya.”

Jongdae kembali tertawa santai, menhela nafasnya dengan tenang. “Kau mau tau apa yang akhirnya akan memperbaiki keadaan dan banyak hal lainnya?”

“Apa?”

“Waktu.”

Minseok hampir menangis. Jongdae tidak banyak berbicara – tapi banyak hal penting yang keluar ketika dia berbicara. “Jongdae…”

“Sudah, jangan menangis. Aku benar-benar mendukungmu, seharusnya kau bahagia kan?”

“Ini namanya tangis bahagia.” Minseok tidak tahan untuk meneteskan air matanya – kali ini untuk Jongdae. Minseok menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dan tersenyum. “Tidak pernah mendengar yang namanya air mata bahagia?”

Well, Aku hanya lebih mengharapkanmu tertawa.” Jongdae bangkit dari kursinya dan beralih ke makanan yang ada kompor. “Omong-omong, hari ini Luhan akan datang, apa dia memberitahumu juga?”

“Terima kasih, Jongdae. Kau yang terbaik.” Minseok ikut bangkit dari kursinya, tidak menjawab. Dia mengikuti langkah Jongdae. “Boleh aku memberimu pelukan?”

Jongdae tertawa pelan, dia membalikkan badannya dan merentangkan kedua tangannya. “Kemari kalau begitu.”  Minseok setengah berlari menghampiri Jongdae, menabrakkan dirinya dan memberikan Jongdae pelukan erat. “Terima kasih.”

Jongdae membalas pelukan itu sambil tersenyum, tidak kalah erat dengan pelukan Minseok. “Kau pantas mendapatkan banyak kebahagiaan.” Jongdae melepaskan pelukan itu lebih dulu, memandang Minseok. “Kalau beberapa orang mengatakan kau tidak pantas mendapatkannya, itu karena mereka iri padamu.”

Tok tok tok.  

Tidak lama, ada yang mengetuk pintu. “Itu pasti Luhan.” Jongdae bergerak duluan dan berjalan untuk membuka pintu. “Oh ya, dia tidak bilang kalau ingin datang. Dia ada urusan denganmu?” Minseok berjalan dibelakang, mengikuti.

“Hari ini hasil tes nya keluar, jadi bagus atau tidak bagus, dia akan datang.” Jongdae memegang gagang pintu, membukanya dan melihat Luhan.

“Kau sebaiknya mendapatkan bell  untuk rumahmu.” Luhan memulai percakapan sambil tersenyum, sedikit tertawa dan memeluk sahabatnya itu. “Aku lulus, Jongdae.”

Jongdae membalas pelukan itu , dia juga membalas dengan senyum lebar andalannya, ikut merasa lega. “Selamat, kawan. Kami tahu kau akan lulus. Silahkan masuk,”

“Karena beritanya baik, jadi aku rasa aku sudah bisa tersenyum lega hari ini.”  Luhan mengikuti mereka berdua masuk, dan duduk di dapur. “Aku ingin mengajak kalian berdua merayakan ini. kau tau – lulus tes adalah suatu yang spesial untukku.”

Jongdae berbalik dan memandang Luhan, duduk di salah satu kursi. “Aku minta maaf, Luhan. Sebentar lagi aku harus mengajar di tempat les vocal ku.”

Luhan membulatkan matanya, kaget. “Apa? Kau sekarang sudah mengajar? Kau benar-benar jahat, menyembunyikan kabar seperti itu dariku.” 

Minseok dan Jongdae tertawa, sedikit merasa kasihan pada Luhan karena sangat sibuk belajar. “Kau sangat sibuk, jadi kami tidak tahu kapan waktu yang pas untuk memberitahumu.” Minseok menjawab sambil terus tertawa, merasakan kebahagiaan yang memenuhi rumah itu sekarang.

“Karena aku tidak bisa ikut, lebih baik kalian berdua saja kalau begitu.” Jongdae menuangkan air dingin yang baru dia ambil dari kulkas ke dalam gelas dan meminumnya.  “Bagaimana?”

“Hmm, bagaimana denganmu Minseok? Kau ingin pergi?” Luhan bertanya setenang mungkin, walaupun didalam hatinya dia sangat gembira. Kemungkinan berjalan bersama Minseok terbuka lebar di depan matanya.

“Tentu saja, aku juga mewakili Jongdae untuk merayakan keberhasilanmu, Luhan.”

Luhan setengah mati menahan gelombang bahagia yang dia rasakan, berusaha memasang ekspresi setenang mungkin, dan hanya mengembangkan senyum. “Kita pergi sekarang? Aku janji akan membawakan sesuatu untukmu, Jongdae. Selamat untukmu juga – kau sekarang setara seorang guru.”

Jongdae tertawa lagi. “Well, aku sendiri juga tidak menyangka. Hobiku adalah bakat, eh?” Luhan mengikuti Jongdae berjalan ke ruang tamu, sementara Minseok menyiapkan tasnya. 

“Aku harus mengakuinya, kau memang berbakat.”


“Aku tidak merencanakan ini, tadinya aku kira kita bertiga akan pergi. “  Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit merasa canggung karena Minseok tidak berkata apa-apa sejak mereka berada di mobil. “Kau merasa keberatan kalau tidak ada Jongdae?”

Minseok memandang Luhan –yang fokus menyetir- dan tersenyum. “Tidak, kenapa bilang begitu?”

“Habisnya kau tidak berkata apa-apa daritadi.” Luhan melihat Minseok sekilas, lalu melihat jam tangannya. “Kita pergi kemana?”

Minseok mengerutkan keningnya dan melihat Luhan dengan raut wajah bingungnya. “Hari ini acaramu, jadi kurasa terserah kau saja?” Luhan tetap menyetir sambil fokus menyetir. 

“Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu berdua denganmu. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat heoddeok di Myeongdong?”

Minseok tau apa maksud Luhan. Heoddeok. Kencan pertama mereka. “Luhan? Apa tebakan di kepalaku benar tentang heoddeok?” Luhan menghela nafas, memelankan laju mobilnya karena mereka sudah dekat dengan tempat parkir.“Kalau yang kau pikirkan sama denganku, maka benar. Kita akan pergi untuk kencan pertama kita – kesukaanmu.”

Heoddeok adalah cemilan kesukaannya. Luhan sangat sering mengajaknya makan ke tempat ini sepulang sekolah, dulu. Kelihatannya Luhan sengaja mengajaknya ke tempat ini lagi. “Bagaimana? Heoddeok disini masih terasa enak?” Minseok menganggukkan kepalanya selagi dia mengunyah heoddeok  yang masih panas. “Sangat enak, apalagi kalau masih panas seperti ini.”  

Luhan tertawa mendapatkan gambaran Minseok yang dulu, seperti 2 tahun yang lalu. Kencan mereka berdua dulu pasti selalu ke tempat makanan, kedai, apapun yang manis dan Minseok suka. Minseok tidak membutuhkan shopping barang-barang mahal, dia hanya suka makan.  “Kau masih suka makan?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku suka.” Minseok menjawab cepat, karena memang dirinya sangat suka makan. Luhan hanya memandangi Minseok memasukan heoddeok ketiganya kedalam mulutnya – sangat sibuk. Luhan sudah menemukan apa yang selama ini hilang, kenapa selama ini dia merasa sedih dan kosong. Dia hanya kehilangan Minseok, tapi perubahannya sangat besar. Mata Luhan menelusuri setiap garis yang ada di wajah Minseok, sampai dia melihat garis yang lebih gelap dari garis yang lainnya – bekas luka. “Minseok,”

Minseok menoleh sekilas, masih dengan mulut yang sibuk mengunyah – tidak ada perbedaan antara suka atau lapar. “Ya?” Luhan mengelus bekas luka itu, memandang Minseok. “Apa masih terasa sakit?” dia yakin, itu bekas Lukas yang Chanyeol buat – yang dia buat.

Minseok membalas dengan tersenyum, ikut memegang bekas luka itu. “Sudah tidak, hanya bekasnya saja yang masih kelihatan.” Sementara Minseok melanjutkan makannya, Luhan hanya terus memperhatikan Minseok. Itu baru satu luka yang terlihat, belum luka lain yang mungkin ada di tempat yang tidak terlihat. Di dalam hati, misalnya. “Minseok,”

“Ya?” Minseok menoleh lagi karena Luhan mengajaknya bicara.

“Berapa banyak luka yang sudah aku buat?”

Minseok tersenyum, menaruh satu buah heoddeok yang baru matang ke piring Luhan. “Aku tidak menghitung – aku tidak memperhitungkannya. Kan aku bilang aku sudah memaafkanmu.”

Luhan melihat bekas luka lain di tengkuk Minseok, yang ini lebih memar dan lebih lebar. “Tapi rasanya sakit. Belum lagi luka yang aku tinggalkan dihatimu. Pasti lebih sakit.” 

Minseok menarik nafas, menghela nafas. “Luka memang sakit. Tapi ada hal lain yang lebih sakit untukku.” Luhan memandang cemas Minseok yang tiba-tiba menunduk.

“Apa?”

“Tersenyum supaya air mataku berhenti mengalir.” Rasanya Luhan ditusuk dengan keras tepat dihati – memberikan rasa pahit di tenggorokannya, meskipun heoddeok manis yang baru saja dia telan. “Hal paling sakit adalah sesuatu yang tidak kau mengerti, kau tau?”

“Aku benar-benar minta maaf, Minseok. Aku harus bagaimana supaya kau memaafkanku?”
Minseok tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sepertinya kau tidak pernah mendengarkanku. Aku bilang aku sudah memaafkanmu.”  

Luhan menghela nafas berat, sangat tidak percaya. “Tidak mungkin, aku sudah menyakitimu terlalu banyak, Minseok.” Sebaliknya, Minseok membalas dengan senyuman. 

“Tidak mungkin bagaimana?”

“Aku mencintaimu. Tapi aku tidak mengerti alasanmu memaafkanku.”  Luhan memandang Minseok dengan tatapan sendu. “Ya, aku senang kalau kau memaafkanku. Tapi berikan aku satu alasan kenapa.”

Minseok menopang dagunya dengan satu tangannya, memandang keatas. “Hmm, bagaimana dengan ‘aku menginginkanmu kembali tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya’?”  Luhan mematung ditempatnya, tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya lagi yang terkejut. Bukankah itu artinya Minseok juga mencintainya? Iya, pasti begitu. Tidak ada arti yang lain lagi. Baiklah, Luhan. Perlahan saja. Langkah selanjutnya adalah milikmu.

“Kita akan mulai semuanya dari awal. Minseok, apakah kau mau menjadi kekasihku lagi?” Luhan bicara selancar mungkin, walaupun sebenarnya otaknya tidak bisa menyusun kalimat dengan benar. Minseok, disisi lain sudah lupa bagaimana caranya berbicara. Dengan bibir yang mengembangkan senyum lebar, dia meganggukkan kepalanya beberapa kali; Dengan bendungan air di sudut matanya yang akan tumpah.

Luhan tersenyum – mengeluarkan satu kotak kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Mengeluarkan cincin yang ada didalamnya dan mengenakannya di tangan Minseok. 

“Minseok, kau adalah kebahagiaanku. Aku janji akan berubah untukmu.”


Minseok sudah sampai dirumah – juga ddeokbeokki  untuk Jongdae. Luhan tidak bisa menunggu Jongdae pulang, karena Jongdae mengajar sampai malam sedangkan jarak rumah barunya sekarang jauh. Jadi, Minseok menunggu sendirian, sambil berpikir bagaimana memberi tahu Jongdae kalau dia sudah kembali bersama Luhan.

“Jongdae, aku sudah kembali bersama Luhan.”

“Aku sudah kembali dengan Luhan.”


“Luhan mengajakku kembali, lalu aku menerimanya.”

Apa yang kau bicarakan sih, Minseok? Dia menggelengkan kepalanya cepat, bingung. Sebentar lagi Jongdae pulang dan sudah jelas dia akan bisa melihat ada sesuatu yang Minseok sembunyikan dari ekspresi wajahnya yang tidak tenang. Rasanya dulu ketika pertama kali bersama Luhan, memberi tahu Jongdae tidak sesulit ini. Sekarang dia takut akan bagaimana ekspresi Jongdae nanti.

“Minseok! Aku pulang,” Minseok sangat kaget, rasanya seperti suara Jongdae berada tepat disebelah telinganya. Dia bangkit dari kursinya, berjalan ke pintu dan membukanya. Lalu dia melihat Jongdae dengan kedua matanya yang membulat tidak tenang.

“Minseok? Kenapa, ada sesuatu?” yang benar saja. Aku baru membuka pintu dan dia langsung melihat sesuatu.

“Masuk dulu Jongdae,”  Minseok berjalan didepan Jongdae yang mengikutinya. Mencoba mengulur waktu sambil menyusun kalimat apapun yang ada dikepalanya.

“Itu- aku dan Luhan membelikanmu itu eh, ddeokbeokki. Tadi kami pergi ke Myeongdong.” Jongdae sudah masuk ke kamar mandi, sementara Minseok bercerita dari dapur. “Tadi kami makan heoddeok, tapi kan kau tidak suka manis. Jadi kami belikan cemilan kesukaanmu saja.”

“Kalian benar-benar ingat padaku? Aku kira Luhan bercanda akan membelikan sesuatu,” Jongdae menjawab dengan suara menggema dari kamar mandi. “Sejak kapan ddeokbeokki itu sampai?”

Minseok berjalan mengitari dapurnya, menyusun kalimat lain dikepalanya supaya pembicaraan ini tetap berlangsung. “Luhan dan aku hanya pergi makan dan jalan-jalan sebentar, jam 4 tadi kami sampai. Jadi kau bisa hitung sendiri sudah seberapa dingin ddeokbeokkimu ini.”

Minseok bisa mendengar Jongdae tertawa dari dalam kamar mandi. “Astaga, sekarang sudah jam 9 lewat,”

“Kau mau aku panaskan dulu ddeokbeokkinya? Kau sudah mau makan sekarang?”

“Iya, tolong panaskan untukku.” Jongdae menjawab dari dalam kamar mandi. “Kau sudah makan malam selain heoddeok?”

“Aku sepertinya tidak makan lagi. Aku makan banyak sekali heoddeok dan masih sangat kenyang.” Jantung Minseok berdegup kencang melihat Jongdae keluar dari kamar mandi. Masuk ke kamar dan mengenakan baju, Minseok menunggu dengan pikiran yang tidak tenang sambil memanaskan ddeokbeokki. Lalu dia duduk lagi dan menunggu Jongdae di meja makan dan melihatnya duduk dihadapannya dengan rambut yang masih basah.

“Minseok? Kenapa daritadi ekspresi wajahmu seperti itu?” Setelah mengambil duduk di depan Minseok, Jongdae tidak bisa mengerti tatapan aneh itu. Jongdae memasukkan satu ddeokbeokki pedas yang masih hangat itu kedalam mulutnya, mengunyah sambil menunggu jawaban dari Minseok. “Minseok?”

Minseok tidak menjawab. Tatapannya hanya memandang lurus ke mata Jongdae, tapi pikirannya seperti tidak ada disana.

Di sisi lain, Minseok tidak tahu kenapa kepalanya membuat masalah seperti ini menjadi rumit. Dia tahu, Pasti ekspresinya aneh sekarang. Tapi lebih baik seperti itu sampai dia bisa memilih kalimat untuk Jongdae.

Jongdae meneruskan makannya, karena sebenarnya dia sangat lapar dan ternyata ddeokbeokki yang dibeli Minseok dan Luhan rasanya enak. “Jongdae,”

Minseok akhirnya mengatakan sesuatu. Jongdar mengangkat kepalanya dan bertemu dengan kedua mata Minseok yang juga sedang memandangnya. “Ya?”

“Aku dan Luhan, ehm yah – kau tahu maksudku.” Bagus, Minseok. Kemana kata-kata yang tadi sudah kau rangkai?!

Jongdae mengernyit bingung. “Apanya? Aku tidak tahu,”

Minseok menarik nafas dalam, tatapannya tidak lepas dari Jongdae. “Aku sudah kembali dengan Luhan.” Jongdae menyemburkan ddeokbeokkinya kaget mendengar kalimat Minseok, sementara Minseok secara konstan juga kaget karena Jongdae. “Kau kembali dengan Luhan?”

Jongdae membantu membersihkan meja makan dan mulutnya sendiri – dan melanjutkan makan, mencoba setenang mungkin. “Haha,” Jongdae tertawa santai. “Bagus untukmu kalau begitu, lagipula aku sudah menduga,” kalau ini akan menyakitkan. “Tapi cepat sekali,”  kau pergi. “Lalu kau akan segera pindah ke rumah Luhan?” dan meninggalkan rumah ini dingin seperti dulu?

“Luhan sempat berkata seperti itu…”

Tidak ada satupun dari mereka yang bicara untuk beberapa menit. Jongdae melanjutkan makannya sementara Minseok terus memperhatikan Jongdae yang makan sambil menunduk, seperti sedang memiliki hal lain di kepalanya.

“Jongdae, kau marah?” Minseok hanya memperhatikan Jongdae, dia takut untuk berkata apa-apa.

Sementara itu, Jongdae kembali tertawa. “Aku? Aku tidak marah Minseok,” dia tertawa lagi. “Serius. Selamat untukmu,” Minseok memperhatikan Jongdae yang bangun sendiri dan membereskan makanannya. “Aku ikut bahagia untukmu.”

“Tidak, Jongdae. Kau tidak terlihat bahagia.” Minseok membantah, karena memang seperti itu adanya. Jongdae tidak memandang Minseok ketika mengatakannya, sampai sekarang pun Jongdae menolak untuk bertemu dengan mata Minseok. “Jongdae, lihat aku.”

Jongdae menyerah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia mematikan keran air setelah mencuci tangan, mengeringkan tangannya dan kembali duduk di meja makan. Mengangkat kepalanya dan menatap Minseok dengan sepasang mata sendunya, tanpa air mata. Minseok tahu, mulutnya memang mendukung, tapi hatinya tidak.

“Aku sudah berjanji untuk mendukungmu. Sekarang aku akan berjanji satu hal lagi, waktu akan memperbaiki segalanya untukku.” Jongdae pergi meninggalkan Minseok yang masih duduk di meja makan. Dengan langkah malas, dia berjalan menuju kamar dan membuka kaos putih polosnya dan berbaring di ranjang.

Minseok masih duduk di meja makan, satu-satunya ruangan yang masih terang. Melihat Jongdae yang berjalan perlahan – mengikutinya masuk ke kamar. Minseok juga ikut membaringkan badannya menatap Jongdae yang memberikan punggung dingin kepadanya.

“Jongdae,” Minseok memandangi punggung Jongdae. menyentuhnya dengan jari telunjuk – hanya untuk merasakan Jongdae bernafas. “Kau tidak ingin bicara denganku?”

Tidak ada perubahan dari Jongdae; hanya punggungnya yang terus naik turun. “Yasudah kalau kau belum ingin bicara denganku, aku minta maaf. Kau mungkin tidak menyetujui keputusanku, tapi Luhan adalah kebahagiaanku. “ Jongdae tidak bergerak sama sekali. Masih bertahan dengan tangisannya yang dia simpan diam-diam agar Minseok tidak bisa mendegarnya.

“Bersama dengan Luhan sudah pasti hal yang paling kuinginkan. Apa yang kau khawatir-“

“BODOH! AKU MENGKHAWATIRKAN HATIMU!” Jongdae berbalik badan dengan cepat dan langsung memeluk Minseok yang terlihat kaget dengan itu. “Mulut manisnya yang memenangkan hatimu, tapi mulut manisnya juga yang melukai hatimu.” Badannya bergetar kuat, sesenggukkan menahan tangis.

Ini kali kedua Minseok melihat Jongdae menangis. Jongdae selalu menangis karena dia. Minseok  balas memeluk tubuh polos Jongdae yang bergetar dingin, memeluknya kuat untuk menenangkan Jongdae. “Kali ini, aku pasti baik-baik saja. Luhan sudah berjanji untuk berubah.”

Jongdae masih menangis, tapi dia coba menahannya. Hatinya terasa sesak. “AKU SUDAH MENJAGAMU SEMAMPUKU, TAPI DIA TELAH MENGHANCURKANNYA!” Jongdae tidak bisa bekerjasama dengan hatinya. Sebagai lelaki yang selalu menggunakan logika, dia selalu percaya bahwa Luhan memang lelaki yang dapat dipercaya untuk Minseok. Tapi hatinya tidak pernah setuju, karena Jongdae menghawatirkan Minseok. Jongdae mencintainya.

“Jongdae, kumohon. Aku bukannya tidak bahagia denganmu, aku bahagia sebagai seorang sahabat. Dan aku membutuhkan Luhan sebagai kekasihku.” Jongdae sudah berhenti menangis, dia hanya masih bernafas dengan cepat. Minseok terus mengusap punggung Jongdae yang dingin, menarik selimut ke atas untuk menutupi badan mereka berdua. 
Minseok menunggu jawaban, tapi Jongdae diam saja. “Jongdae?”

Jongdae memandang kosong ke pintu yang tertutup. “Apa kau akan pergi?” Bukan menjawab perkataan Minseok yang sebelumnya, Jongdae membuat pertanyaan baru lagi. Pertanyaan yang sudah dia pikirkan daritadi. “Rumah ini sangat dingin kalau kau tidak ada. Kau belum pergi tapi aku sudah kehilangan dan merasakannya menusuk. Hatiku.”

Jongdae tidak suka menangis dan memikirkan hal-hal yang membuatnya sedih. tapi permasalahannya beda dengan Kim Minseok yang sudah merubahnya, dan dia merasa perlu melakukan sesuatu untuk mempertahankannya.

“Aku akan bahagia bersama Luhan, tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan.” Minseok mencoba menenangkan Jongdae dengan terus mengusap punggungnya perlahan, memberikan Jongdae kehangatan.

“Seumur hidupku, aku selalu sendirian. Aku hidup tanpa merasakan apapun. Nilai bagus yang selalu kau lihat? Itu satu-satunya hal yang aku lakukan. aku tidak pernah ingin pulang ke rumah yang selalu kosong. Aku pergi berkelahi dan membenci begitu banyak hal karena aku hidup dalam duniaku sendiri. Tapi kau datang. Tinggal dirumahku walau untuk sebentar, kau merubah segalanya. Aku ingin pulang ke rumah karena dirumah akan ada kau yang sudah menunggu, aku tidak pergi berkelahi dan aku belajar caranya mengendalikan diri. Aku banyak tersenyum karena iri denganmu, kau selalu bahagia diatas lukamu. kau sudah menjadi kebahagiaanku. Jadi, bagaimana denganku? bagaimana dengan kebahagiaanku, Minseok?”

Minseok benar-benar mendengarkan, dia bisa merasakan bagaimana kesepian yang Jongdae rasakan. Tapi Jongdae selalu berpikir menggunakan akalnya, jadi ketika sesuatu mengenai hatinya, dia tidak berpikir dengan baik. “Aku bukan kebahagiaanmu, Jongdae. kau menganggap aku kebahagiaanmu karena aku menemanimu di saat kau kesepian. Kau tahu, itu bukan cinta.”

Jongdae melepaskan pelukan itu pertama kali, bangun dari posisi tidurnya dan duduk di ranjang. “Minseok, aku mengerti diriku sendiri. Aku tidak pernah salah mengenali sesuatu dan aku tau kau adalah kebahagiaanku. Kau bisa menganggapku gila karena tetap mengharapkan dirimu di saat kau sudah memilih orang lain, tapi, aku benar-benar memohon padamu, bisakah kau tetap tinggal?”

Minseok mendesah putus asa dan ikut bangun dan duduk disamping Jongdae. “Jongdae, aku janji akan selalu mengunjungimu. Tapi aku tidak bisa tetap tinggal,”

“Kim Minseok,” Jongdae meraih tangan kiri Minseok, menggenggamnya  dan mengusapnya. Melihat kedua mata Minseok dengan wajahnya yang putus asa. “Kumohon.”

Minseok balas menatap kedua mata mata itu, mencoba memberikan jawaban melalui tatapan matanya. “Aku minta maaf.”

Jongdae tidak bisa lebih hancur lagi dari ini. Ketika dia merasa Minseok sudah dekat – Minseok semakin menjauh. Ketika dia pikir Minseok membutuhkannya – Minseok bisa melakukan semuanya sendiri. Hanya Jongdae yang sebenarnya membutuhkannya. Jongdae yang ingin memilikinya. Minseok tidak merasakan hal yang sama; hal yang tidak ingin dia ketahui.

Jongdae melepaskan tangan Minseok. Sudah cukup mendengarkan semua kenyataan yang bertolak belakang dengan apa yang dia percaya. Dia pikir, dunia akan selalu berjalan sesuai dengan akalnya, tapi ada sesuatu yang hanya diketahui oleh hati – Cinta.  Jongdae melepaskan senyum lebarnya yang biasa, mencoba memberikan Minseok ketenangan.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita tidur,” Jongdae meraih kaos putih yang tadi dia lepas dan mengenakannya kembali. Merebahkan dirinya lagi, menarik selimut menutupi dada dan memejamkan matanya.

Minseok tidak tahu harus bahagia atau sedih melihat itu – Jongdae sangat menutupi kesedihan yang dia berikan dengan senyuman yang selalu menenangkannya. Dia senang melihat senyum itu – tapi dia sedih karena itu tidak nyata. Minseok ikut merebahkan tubuhnya dan mengambil tempat agak dekat Jongdae, menyentuh lengannya.
“Suatu saat kau akan menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya. Aku percaya itu dan kau juga harus percaya, Jongdae.”

Sekarang Minseok hanya bisa melihat punggung Jongdae yang naik turun dengan damai, mungkin sudah sampai pada mimpinya. Minseok tersenyum – dan perlahan-lahan dia merasa mengantuk. “Selamat malam, Jongdae.”

Minseok memang tidak bisa melihat wajah Jongdae. Wajah yang sekarang sudah memerah dan wajah yang sudah berlinang air mata. Jongdae berusaha tetap tenang memendam perih yang dia rasakan dalam hati. Dia tidak pernah membayangkan, mencintai rasanya sakit seperti ini.  Jongdae tahu suatu saat hari ini akan datang – dimana Minseok akan pergi.  Dia sudah menyiapkan hati, sejak dia bisa melihat bahwa Luhan mencoba kembali dengan Minseok. Tapi kenapa begitu hari ini benar-benar datang, dia tetap tidak bisa menerima kepergian Minseok? Bahkan Minseok masih tidur disebelahnya, tapi dia sudah merasakan kepergian itu.


Pas background-background sedih Jongdae gue minta bantuan temen karena jantung gue gabisa ngarang lagi, capek deg-degan. Semua tenaga udah terkuras buat bikin Jongdae sedih 😂😂😂 Iya, bunuh aja gue. BUKAN CUMA JONGDAE YANG SEDIH GUA JUGA LAH HIKS udahlah gua gamau bahas. Bentar istirahat dulu kali.



-kairay.

You Might Also Like

0 Comments

Like us on Facebook

Flickr Images