Love Has Left [Chapter 3]
Thursday, November 24, 2016
Kalo berani update berarti berani kena omel ya re. MANCEMANS GALAK BANGET SI SARKASTIKNYA ELAH SANTE KALI jahat deh gua dikeroyok terus TT_TT Emangnya salah gue kalo gue mau motong chapter nanggung? salah gua sih emang, wek.
Udahlah, kayak baru pertama kali aja gua update nanggung. JANGAN MARAH-MARAH MULU NTAR GUA GA UPDATE LAGI JANGAN TANYA SALAH SIAPA YA!
hehe, becanda mancemans.
▲
Untuk menanggapi
itu, Minseok hanya bisa tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga; hanya
bersama Luhan dia bisa merasa seperti itu. Disamping luka yang sudah pernah dia
dapatkan dari lelaki yang sama.
“Aku tetap
beritahu Jongdae kalau aku akan pulang bersamamu,” Minseok bicara sambil
mengecek barang yang dibawanya lagi, tampak sibuk. “Dia bilang kau boleh
datang.”
Luhan tetap
fokus menyetir, meskipun dia sangat ingin melihat wajah Minseok; apalagi ketika
dia sedang bicara. Menggemaskan. “Jongdae ada dirumah?”
“Setelah ujian
akhir dia tidak memiliki aktivitas selain kelas vocal dan dance yang dia
ikuti,” Jawab Minseok sambil memperhatikan jalanan. “Tapi untuk hari libur
seperti ini dia beristirahat di rumah. Bagaimana denganmu, apa yang sedang kau
lakukan?”
Luhan mematikan
mesin mobil karena mereka sudah sampai di depan rumah Jongdae, membantu Minseok
mengambil barang dan membawanya dibelakang Minseok. “Aku sedang berusaha
mendapatkanmu kembali.”
Lagi, Minseok
tersenyum tanpa dia perlu berpikir. Senyum itu mengembang dengan sendirinya,
seperti sudah seharusnya dia tersenyum. Tidak lama, Jongdae membukakan pintu. Jongdae
menganggukkan kepalanya begitu dia melihat Luhan di depan pintu, mengambil
barang-barang Minseok yang dia bawa. “Masuklah.”
Luhan merasa
lebih tenang dari kali terakhir dia menginjakkan kaki dirumah ini, waktu itu
dia merasa tegang dan gugup. Tapi kali ini, dia merasa hangat. Minseok berjalan
mendekati sofa, melepas jaket dan menaruh tasnya kemudian duduk di sofa itu.
Jadi Luhan mengikutinya juga.
“Aku hanya ingin
menjelaskan semuanya dengan lebih jelas lagi.” Luhan membuka pembicaraan
setelah Minseok kembali dari membuat minuman untuk mereka berdua. “Kau butuh
tahu lebih banyak untuk bisa memaafkanku.”
Minseok menyesap
teh yang dia buat sedikit, memandang Luhan. “Aku sudah memaafkanmu, kau tau
itu. Aku merasa tidak pantas untuk membencimu.”
“Tentu kau memiliki
hak penuh untuk membenciku, melaporkanku ke kantor polisi atas tindak
kekerasan. Tapi kau memilih tidak melakukannya dan menyimpannya sendiri.
Bagaimana bisa kau memaafkanku?”
“Aku tidak tahu,
aku hanya sudah. Memaafkan tidak sulit, Luhan. Yang sulit adalah melupakan.”
“Kau mencoba
melupakanku?”
Minseok tidak
sadar kalau dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Luhan yang indah,
damai. Mata Luhan yang dulu. “Aku
hanya mencoba melanjutkan kehidupan, sepertimu. Kau juga melanjutkan kehidupanmu.”
Sedikit demi
sedikit, Luhan kembali merasa bersalah. Penyesalan datang terlambat, ‘kan? “Aku
sudah selesai dengan Baekhyun, dia yang meminta duluan. Lagipula aku rasa kami
tidak cocok, sifat kami berdua sangat keras.”
Daritadi Minseok
hanya tersenyum, tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya dia. “Aku tidak
tahu kau masih dengan Baekhyun.”
“Tentu kau tidak
tahu, kau selalu di dalam kelas saat jam istirahat. Kalau kau suka main ke
kantin, kau akan lebih sering melihat kami. “
Luhan tertawa menyindir Minseok, karena lelaki itu selalu menolak pergi
ke kantin. “Aku masih sekolah untuk satu
tahun kedepan, aku akan mencoba pergi ke kantin kalau begitu.”
“Minseok,” Luhan
memandang lurus ke dalam mata Minseok, seperti rumah itu kosong dan hanya ada
mereka berdua. “Ya?”
“Apa kita teman
sekarang?” Luhan memutuskan, sekarang belum saat yang tepat untuk mengajak
Minseok kembali bersamanya. Luhan akan mengambil langkah pelan, karena dia juga
ingin mengobati luka yang dia buat sendiri.
Sementara itu, Jongdae
tidak pergi kemana-mana. Dia hanya ke dapur supaya juga bisa mendengar sedikit
percakapan mereka. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau Minseok
memaafkan Luhan, maka dia juga memaafkannya. Karena itu, sekarang Jongdae sudah
tidak memiliki alasan untuk membenci Luhan.Tidak tahu bagaimana, tapi dia tau
Minseok membutuhkan lelaki itu kembali . Jongdae tahu hal itu akan terjadi. Rasa sayang yang dia miliki untuk
Minseok akan selamanya bertahan sebagai sahabat; tidak lebih dari itu. Minseok
membutuhkannya sebagai seorang sahabat, bukan seorang kekasih. Begitu juga
dengan dirinya, dia menginginkan Minseok sebagai kekasihnya, tapi itu bukan
yang dibutuhkannya. Minseok telah
mengajarkan banyak hal dalam hidup, dan itu adalah pesan yang disampaikan
seorang sahabat. Dia telah membantu semaksimal mungkin, melindunginya sebagai
seorang sahabat, itu mencakup semua hal yang dibutuhkan Minseok.
Merepotkan –
tidak, sama sekali tidak. Jongdae melakukannya dengan senang hati, karena dia
juga tidak mendapat kerugian dari membantu seorang teman. Banyak hal yang tidak
bisa dipaksakan, hal itu salah satunya adalah perasaan. Sifat awal Jongdae
adalah seorang yang keras, namun kehadiran Minseok mampu merubah sifat tersebut
menjadi sesuatu yang lebih lembut, tapi tetap mempertahankan apa yang menjadi
dasar untuk Jongdae. Minseok mengajarkannya untuk tidak memaksakan perasaannya
sendiri, dan sekarang dia bisa menerima itu – dia tahu sekarang adalah saatnya
untuk menggunakan nasihat Minseok, dan Jongdae berterima kasih karenanya.
“Jongdae,”
Jongdae kembali dari pemikirannya yang dalam ketika mendengar Luhan memanggil
namanya. “Aku ingin pulang.”
Jongdae hampir
merasa malu karena dia hanya duduk di depan meja makan yang kosong – tanpa
satupun makanan- dimana kakinya berada di atas meja itu. “Aku akan mengantar
kedepan,”
“Kita sudah
mengobrol banyak,” Minseok kembali mengeluarkan bahan makanan yang dia beli
tadi “Aku tidak mengantar ya, Lu. Aku harus memasak siang ini karena Jongdae
belum makan. Akan lebih baik kalau kau ikut makan siang sebentar,”
“Aku ingin, tapi
aku tidak bisa. Aku baru pindah rumah dan harus cepat membersihkannya, karena
beberapa minggu lagi aku akan sibuk belajar untuk tes masuk universitas.”
Jongdae menepuk
pundak Luhan beberapa kali, “Tidak apa, kau selalu bisa datang lain kali,
Luhan. Kalau begitu sebaiknya kau bergegas pulang supaya bisa beristirahat.”
“Baiklah,” Luhan
membalikkan badannya dan berjalan bersama Jongdae ke pintu depan. “Terima kasih
sudah memaafkanku juga, Jongdae. Rumah ini benar-benar berisi kehangatan.”
Jongdae
tersenyum, dan membukakan pintu untuk Luhan. “Kau tau, Minseok yang membuat
rumah ini menjadi hangat. Dan aku memang memaafkanmu – tentu saja, karena kau
temanku Luhan.”
Luhan terus
berjalan bersama Jongdae sampai Luhan masuk kedalam mobilnya, “Aku akan
berkunjung lagi lain kali. Kita akan bertemu di pengumuman kelulusan, kalau
begitu?”
“Yap, jangan
lupa. Dua hari lagi.”
“Tentu. Semoga
berhasil untukmu, Jongdae. semoga kau bisa mengalahkan Joonmyeon,” Mereka
berdua tertawa. Joonmyeon si ketua organisasi itu, berkali-kali bilang kalau
Jongdae tidak akan pernah bisa mengalahkannya. “Kau juga, semoga berhasil.
Untukmu aku berharap lulus sajalah,”
“Aku memang
tidak sepintar kau, tapi aku juga pasti akan lulus. Baiklah, sampai jumpa
lagi.” Luhan menyalakan mobilnya, dan melambaikan tangan pada Jongdae untuk
yang terakhir kalinya hari ini. “Hati-hati dijalan.”
▲
Beberapa hari
terakhir ini Minseok sedang tidak bisa tidur. Walaupun dia lelah karena tugas
sekolahnya, tapi tugas yang belum terselesaikan lebih kuat untuk membuatnya
terjaga. Jongdae yang tidur disebelahnya tidak kalah lelah, bahkan dia tetap
tertidur tanpa mengetahui temannya itu masih terbangun.
Minseok hanya
menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri, merasa bosan. Diluar juga sedang
hujan, menambah hawa dingin di kamar yang membuat suasana jadi kurang nyaman.
Minseok memperhatikan tetesan hujan itu
berirama dengan detak jarum jam di kamarnya, sampai dering ponselnya
mengangetkannya.
Luhan, nama yang
tertera di layar ponsel itu.
“Halo?” Minseok
mengangkat dengan hati-hati, takut membangunkan Jongdae.
Sapaan Minseok
disambut dengan tawa kecil di seberang telepon, terkikik pelan.
“Ini sudah
lewat tengah malam, kenapa kau belum tidur?” Memecah keheningan yang hanya
ditemani oleh tetesan air hujan, nada Luhan terdengar cemas.
Minseok menghela
nafas sebentar, mengatur nafas supaya suaranya tetap rendah. “Belum, aku tidak
mengantuk.”
Luhan menguap
sekali, tanda sebenarnya dia sudah mengantuk. Dan itu menjelaskan kenapa Luhan
merespon lambat. “Aku sudah mengantuk, tapi aku juga sedang belajar. Aku hanya
ingin meneleponmu, tidak tahu kau akan benar-benar mengangkatnya.”
“Kapan tes mu
itu berlangsung?”
“Minggu depan,
hahaha. Aku sudah meminta bantuan Jongdae tapi tetap ada beberapa soal yang aku
belum mengerti. “ Minseok mendengar suara gumaman Luhan yang tidak jelas, tidak
mengerti dia bicara apa.
“Belajarlah yang
giat, minggu depan itu sebentar, Lu. Kau
juga jangan lupa untuk istirahat.” Luhan
kembali merespon lambat, malah Luhan tidak merespon sama sekali. Minseok merasa
mungkin Luhan tertidur untuk sepersekian detik. “Kenapa kau ingin meneleponku?”
Terdengar suara
seperti Luhan sedang membalik-balikan halaman bukunya, dan menulis sesuatu.
“Aku memikirkanmu.” Suara mengantuk Luhan terdengar bergetar dan rendah,
membuat Minseok menginginkan Luhan menemaninya tidur sekarang juga.
Minseok
menyukainya. Terdengar seperti Luhan sedang berkata manis untuknya. “Kenapa
memikirkanku?”
“Kau tidak
menjawabku?” Luhan yang ada disebrang telepon kembali tertawa, seharusnya
Minseok sudah tahu jawabannya. “Kenapa malah tertawa?”
“Tidak ada.
Seharusnya kau tau kenapa, Minseok.”
“Kenapa?”
“Aku
merindukanmu.”
Minseok diam.
Perasaan bahagianya benar-benar meledak sampai ke dada, benar-benar
menghangatkan tubuhnya yang kedinginan akibat hujan yang semakin deras.
“Minseok?” Suara
bergetar itu kembali memanggilnya, seperti tersadar secara paksa membuat Luhan
terdengar lucu. Mungkin Luhan meminta Minseok untuk berbicara setelah Minseok
hanya menanggapi Luhan dengan perasaan yang akan meledak.
“Ya, Luhan?”
“Ehm, aku tidak
bisa menelepon terlalu lama, kau sudah menyuruhku tidur dan aku sudah tertidur
beberapa kali daritadi. Sekarang juga sudah lewat tengah malam, besok kau
sekolah. “
Minseok bisa
membayangkannya, bagaimana Luhan yang setengah mengantuk menahan kepala beratnya
diatas buku pelajaran yang tebal, yang dia yakin sudah ditutup saat Minseok
mendengar suara lembaran kertas tadi. “Ya, tidurlah. Kau bilang kan besok pagi
kau harus ke toko buku,”
“Aku matikan,
ya. Sampai ketemu lagi. Selamat malam, Minseok. Cobalah untuk tidur,”
Minseok mengusap
kulit tangannya karena merasa dingin yang menusuk, walaupun dia sudah
menggunakan selimut menutupi seluruh badannya. “Aku akan usahakan.”
“Tidur yang
nyenyak. Jangan lupa, aku merindukanmu.”
“Iya, kau juga
tidur yang nyenyak.” Tidak lama setelah itu, Luhan mematikan sambungan dari
seberang sana. Minseok menaruh kembali ponselnya di sampingnya, membenarkan
posisi tidurnya dan mencoba untuk tidur. Dan berpikir, apakah ini sudah saat
yang tepat untuk membalas Luhan dengan aku
juga merindukanmu.
Jongdae sudah
terbangun sejak pertama dering ringtone
Minseok berbunyi. Jongdae tidak berniat mencuri dengar semua itu, tapi dia
tidak bisa langsung tertidur lagi. Hanya dengan mendengarkannya, Jongdae yakin
Minseok terus tersenyum selama panggilan itu berlangsung. Dia sendiri juga
tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kalau Minseok bahagia. Jongdae turut merasa senang ketika Minseok
memiliki sesuatu yang dapat membuatnya tersenyum. Dia benar-benar sudah
mendukung mereka untuk kembali bersama, itu adalah pilihan yang paling tepat.
Keadaan sangat
sunyi disamping rintik-rintik hujan. Minseok melihat Jongdae yang tidur di
sebelahnya – membelakanginya; berharap Jongdae tidak terbangun. “Jongdae? kau
tidur ‘kan?”
Jongdae
bergerak, membalik tubuhnya berhadapan dengan Minseok. “Menurutmu?”
Minseok
menghela nafas, ikut membalik badannya dan berhadapan dengan Jongdae. “Sudah
kuduga. Aku minta maaf, mungkin ringtone ponselku
membuatmu kaget.”
“Minseok,”
Jongdae merasa kembali mengantuk,dia memejamkan matanya. “Biarkan dia
merindukanmu – kadang ketika kau selalu ada, He takes you for granted karena dia pikir kau akan selalu tetap
tinggal.” Minseok tidak menjawab, dia mencerna kata-kata itu.
Jongdae benar.
▲
Minseok semakin
banyak tertawa – bebannya pasti banyak berkurang. Salah satunya adalah Luhan
yang kembali untuknya. Otomatis, Jongdae juga bahagia. Dia tidak pernah membuat
Minseok tertawa sebahagia itu – hanya tertawa saja.
Luhan sangat cocok untuk Minseok. Bahkan dengan
orang yang sama yang membuatnya terluka sekalipun, Minseok bisa tertawa lepas.“Semakin
hari kau semakin terlihat bahagia,” Jongdae masih mengantar jemput Minseok –
ditambah berbulan-bulan waktu liburnya, Jongdae tidak memiliki banyak aktivitas
dirumah.
Minseok memegang
wajahnya, mengerucutkan bibirnya dan membulatkan matanya – menatap Jongdae.
“Benarkah? Hari ini hari terakhir sekolah – dan semua tugas sulit sudah lepas
dari beban pikiranku, jadi tidak heran kalau aku bahagia.”
“Dan Luhan juga
sudah kembali padamu.”
Minseok hanya
tersenyum – mungkin sebenarnya sekarang dia sedang melukai perasaan Jongdae,
dia tidak tahu harus berkata apa. “Apakah itu sesuatu yang bagus, untukmu?”
Jongdae
mengembangkan senyumnya yang tenang sambil mengikuti Minseok masuk kedalam
rumah setelah dia membuka pintu. “Tentu saja, dengan Luhan kembali
kebahagiaanmu juga kembali. Senyum yang selalu aku lihat dari kecil juga
kembali.”
“Tapi aku sudah
tersenyum dari kemarin-kemarin, Jongdae,”
Jongdae
tersenyum lagi. “Tapi kau benar-benar bahagia baru beberapa hari belakangan
ini,” dia mendudukkan dirinya di sofa sementara Minseok di dapur menyiapkan
makan siang. “Aku mau tanya sesuatu,
Jongdae.”
“Tanya
apa?” Minseok mendatangi Jongdae yang
duduk di sofa ruang tamu. “Temani aku duduk di dapur.” Jongdae berjalan
mengikuti Minseok didepannya, memilih duduk di seberang Minseok. “Aku ingin
bertanya beberapa pertanyaan tidak masuk akal,”
Minseok
menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, melihat Jongdae sekilas kemudian
mengalihkan pandangannya ke meja. “Tentang Luhan, yah. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang
Luhan,”
Jongdae
tersenyum, mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja makan. “Luhan? Dia orang
baik. Tentu saja – kau pasti sudah tahu. Kenapa?”
Minseok menghela
nafas, kali ini sudah berani menatap langsung mata lawan bicaranya. “Aku merasa
aneh. Kau tau, tampaknya seperti aku tidak mungkin mencintainya lagi-“
“Tapi kau tidak
pernah berhenti mencintainya.” Jongdae memotong cepat, memang seperti itu
kenyataannya.
“Ahm- Apakah
begitu jelas terlihat diwajahku?”
Jongdae tertawa
dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Minseok. “Begitu
jelas terlihat di wajahmu.” Minseok mengerucutkan bibirnya, menarik nafas.
“Maksudku, aku sempat bahagia tanpanya, Jongdae. Aku tidak mengerti, kenapa aku dengan begitu
mudah mengatakan kalau aku mencintainya.”
“Itu bagus
untukmu. Berarti kau sudah menemukan orang yang tepat.”
Minseok
mengerutkan dahinya, bingung. “Kau mendukungku?”
“Sangat.”
“Aku tidak
mengerti.” Minseok berhenti. “Aku tahu
kau marah padanya untukku, tapi aku kira kau membencinya.”
Jongdae kembali
tertawa santai, menhela nafasnya dengan tenang. “Kau mau tau apa yang akhirnya
akan memperbaiki keadaan dan banyak hal lainnya?”
“Apa?”
“Waktu.”
Minseok hampir
menangis. Jongdae tidak banyak berbicara – tapi banyak hal penting yang keluar
ketika dia berbicara. “Jongdae…”
“Sudah, jangan
menangis. Aku benar-benar mendukungmu, seharusnya kau bahagia kan?”
“Ini namanya
tangis bahagia.” Minseok tidak tahan untuk meneteskan air matanya – kali ini
untuk Jongdae. Minseok menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dan tersenyum.
“Tidak pernah mendengar yang namanya air mata bahagia?”
“Well, Aku hanya lebih mengharapkanmu
tertawa.” Jongdae bangkit dari kursinya dan beralih ke makanan yang ada kompor.
“Omong-omong, hari ini Luhan akan datang, apa dia memberitahumu juga?”
“Terima kasih,
Jongdae. Kau yang terbaik.” Minseok ikut bangkit dari kursinya, tidak menjawab.
Dia mengikuti langkah Jongdae. “Boleh aku memberimu pelukan?”
Jongdae tertawa
pelan, dia membalikkan badannya dan merentangkan kedua tangannya. “Kemari kalau
begitu.” Minseok setengah berlari
menghampiri Jongdae, menabrakkan dirinya dan memberikan Jongdae pelukan erat.
“Terima kasih.”
Jongdae membalas
pelukan itu sambil tersenyum, tidak kalah erat dengan pelukan Minseok. “Kau
pantas mendapatkan banyak kebahagiaan.” Jongdae melepaskan pelukan itu lebih
dulu, memandang Minseok. “Kalau beberapa orang mengatakan kau tidak pantas
mendapatkannya, itu karena mereka iri padamu.”
Tok tok tok.
Tidak lama, ada
yang mengetuk pintu. “Itu pasti Luhan.” Jongdae bergerak duluan dan berjalan
untuk membuka pintu. “Oh ya, dia tidak bilang kalau ingin datang. Dia ada
urusan denganmu?” Minseok berjalan dibelakang, mengikuti.
“Hari ini hasil
tes nya keluar, jadi bagus atau tidak bagus, dia akan datang.” Jongdae memegang
gagang pintu, membukanya dan melihat Luhan.
“Kau sebaiknya mendapatkan bell untuk rumahmu.” Luhan memulai percakapan
sambil tersenyum, sedikit tertawa dan memeluk sahabatnya itu. “Aku lulus,
Jongdae.”
Jongdae membalas
pelukan itu , dia juga membalas dengan senyum lebar andalannya, ikut merasa
lega. “Selamat, kawan. Kami tahu kau akan lulus. Silahkan masuk,”
“Karena
beritanya baik, jadi aku rasa aku sudah bisa tersenyum lega hari ini.” Luhan mengikuti mereka berdua masuk, dan
duduk di dapur. “Aku ingin mengajak kalian berdua merayakan ini. kau tau –
lulus tes adalah suatu yang spesial untukku.”
Jongdae berbalik
dan memandang Luhan, duduk di salah satu kursi. “Aku minta maaf, Luhan.
Sebentar lagi aku harus mengajar di tempat les vocal ku.”
Luhan
membulatkan matanya, kaget. “Apa? Kau sekarang sudah mengajar? Kau benar-benar
jahat, menyembunyikan kabar seperti itu dariku.”
Minseok dan Jongdae tertawa,
sedikit merasa kasihan pada Luhan karena sangat sibuk belajar. “Kau sangat
sibuk, jadi kami tidak tahu kapan waktu yang pas untuk memberitahumu.” Minseok
menjawab sambil terus tertawa, merasakan kebahagiaan yang memenuhi rumah itu
sekarang.
“Karena aku
tidak bisa ikut, lebih baik kalian berdua saja kalau begitu.” Jongdae
menuangkan air dingin yang baru dia ambil dari kulkas ke dalam gelas dan
meminumnya. “Bagaimana?”
“Hmm, bagaimana
denganmu Minseok? Kau ingin pergi?” Luhan bertanya setenang mungkin, walaupun didalam hatinya dia sangat gembira.
Kemungkinan berjalan bersama Minseok terbuka lebar di depan matanya.
“Tentu
saja, aku juga mewakili Jongdae untuk merayakan keberhasilanmu, Luhan.”
Luhan setengah
mati menahan gelombang bahagia yang dia rasakan, berusaha memasang ekspresi
setenang mungkin, dan hanya mengembangkan senyum. “Kita pergi sekarang? Aku
janji akan membawakan sesuatu untukmu, Jongdae. Selamat untukmu juga – kau
sekarang setara seorang guru.”
Jongdae tertawa
lagi. “Well, aku sendiri juga tidak
menyangka. Hobiku adalah bakat, eh?”
Luhan mengikuti Jongdae berjalan ke ruang tamu, sementara Minseok menyiapkan
tasnya.
“Aku harus mengakuinya, kau memang berbakat.”
▲
“Aku tidak
merencanakan ini, tadinya aku kira kita bertiga akan pergi. “ Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,
sedikit merasa canggung karena Minseok tidak berkata apa-apa sejak mereka
berada di mobil. “Kau merasa keberatan kalau tidak ada Jongdae?”
Minseok
memandang Luhan –yang fokus menyetir- dan tersenyum. “Tidak, kenapa bilang
begitu?”
“Habisnya kau
tidak berkata apa-apa daritadi.” Luhan melihat Minseok sekilas, lalu melihat
jam tangannya. “Kita pergi kemana?”
Minseok
mengerutkan keningnya dan melihat Luhan dengan raut wajah bingungnya. “Hari ini
acaramu, jadi kurasa terserah kau saja?” Luhan tetap menyetir sambil fokus
menyetir.
“Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu berdua denganmu. Bagaimana kalau
kita pergi ke tempat heoddeok di
Myeongdong?”
Minseok tau apa
maksud Luhan. Heoddeok. Kencan
pertama mereka. “Luhan? Apa tebakan di kepalaku benar tentang heoddeok?” Luhan
menghela nafas, memelankan laju mobilnya karena mereka sudah dekat dengan
tempat parkir.“Kalau yang kau pikirkan sama denganku, maka benar. Kita akan
pergi untuk kencan pertama kita – kesukaanmu.”
Heoddeok adalah cemilan
kesukaannya. Luhan sangat sering mengajaknya makan ke tempat ini sepulang
sekolah, dulu. Kelihatannya Luhan sengaja mengajaknya ke tempat ini lagi.
“Bagaimana? Heoddeok disini masih
terasa enak?” Minseok menganggukkan kepalanya selagi dia mengunyah heoddeok yang masih panas. “Sangat enak, apalagi kalau
masih panas seperti ini.”
Luhan tertawa
mendapatkan gambaran Minseok yang dulu, seperti 2 tahun yang lalu. Kencan
mereka berdua dulu pasti selalu ke tempat makanan, kedai, apapun yang manis dan
Minseok suka. Minseok tidak membutuhkan shopping
barang-barang mahal, dia hanya suka makan.
“Kau masih suka makan?”
“Pertanyaan
macam apa itu? Tentu saja aku suka.” Minseok menjawab cepat, karena memang
dirinya sangat suka makan. Luhan hanya memandangi Minseok memasukan heoddeok ketiganya kedalam mulutnya – sangat
sibuk. Luhan sudah menemukan apa yang selama ini hilang, kenapa selama ini dia
merasa sedih dan kosong. Dia hanya
kehilangan Minseok, tapi perubahannya sangat besar. Mata Luhan menelusuri
setiap garis yang ada di wajah Minseok, sampai dia melihat garis yang lebih
gelap dari garis yang lainnya – bekas luka. “Minseok,”
Minseok menoleh
sekilas, masih dengan mulut yang sibuk mengunyah – tidak ada perbedaan antara
suka atau lapar. “Ya?” Luhan mengelus bekas luka itu, memandang Minseok. “Apa
masih terasa sakit?” dia yakin, itu bekas Lukas yang Chanyeol buat – yang dia
buat.
Minseok membalas
dengan tersenyum, ikut memegang bekas luka itu. “Sudah tidak, hanya bekasnya
saja yang masih kelihatan.” Sementara Minseok melanjutkan makannya, Luhan hanya
terus memperhatikan Minseok. Itu baru satu luka yang terlihat, belum luka lain
yang mungkin ada di tempat yang tidak terlihat. Di dalam hati, misalnya. “Minseok,”
“Ya?” Minseok
menoleh lagi karena Luhan mengajaknya bicara.
“Berapa banyak luka yang sudah
aku buat?”
Minseok
tersenyum, menaruh satu buah heoddeok
yang baru matang ke piring Luhan. “Aku tidak menghitung – aku tidak
memperhitungkannya. Kan aku bilang aku sudah memaafkanmu.”
Luhan melihat bekas
luka lain di tengkuk Minseok, yang ini lebih memar dan lebih lebar. “Tapi rasanya sakit. Belum lagi luka yang aku tinggalkan dihatimu. Pasti lebih
sakit.”
Minseok menarik nafas, menghela nafas. “Luka memang sakit. Tapi ada hal
lain yang lebih sakit untukku.” Luhan memandang cemas Minseok yang tiba-tiba
menunduk.
“Apa?”
“Tersenyum
supaya air mataku berhenti mengalir.” Rasanya Luhan ditusuk dengan keras tepat
dihati – memberikan rasa pahit di tenggorokannya, meskipun heoddeok manis yang baru saja dia telan. “Hal paling sakit adalah
sesuatu yang tidak kau mengerti, kau tau?”
“Aku benar-benar
minta maaf, Minseok. Aku harus bagaimana supaya kau memaafkanku?”
Minseok tertawa
dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sepertinya kau tidak pernah
mendengarkanku. Aku bilang aku sudah memaafkanmu.”
Luhan menghela
nafas berat, sangat tidak percaya. “Tidak mungkin, aku sudah menyakitimu
terlalu banyak, Minseok.” Sebaliknya, Minseok membalas dengan senyuman.
“Tidak
mungkin bagaimana?”
“Aku mencintaimu.
Tapi aku tidak mengerti alasanmu memaafkanku.”
Luhan memandang Minseok dengan tatapan sendu. “Ya, aku senang kalau kau
memaafkanku. Tapi berikan aku satu alasan kenapa.”
Minseok menopang
dagunya dengan satu tangannya, memandang keatas. “Hmm, bagaimana dengan ‘aku menginginkanmu
kembali tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya’?” Luhan mematung ditempatnya, tidak bisa
mengontrol ekspresi wajahnya lagi yang terkejut. Bukankah itu artinya Minseok
juga mencintainya? Iya, pasti begitu.
Tidak ada arti yang lain lagi. Baiklah, Luhan. Perlahan saja. Langkah
selanjutnya adalah milikmu.
“Kita akan mulai
semuanya dari awal. Minseok, apakah kau mau menjadi kekasihku lagi?” Luhan
bicara selancar mungkin, walaupun sebenarnya otaknya tidak bisa menyusun
kalimat dengan benar. Minseok, disisi lain sudah lupa bagaimana caranya
berbicara. Dengan bibir yang mengembangkan senyum lebar, dia meganggukkan
kepalanya beberapa kali; Dengan bendungan air di sudut matanya yang akan
tumpah.
Luhan tersenyum
– mengeluarkan satu kotak kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
Mengeluarkan cincin yang ada didalamnya dan mengenakannya di tangan Minseok.
“Minseok, kau adalah kebahagiaanku. Aku janji akan berubah untukmu.”
▲
Minseok sudah
sampai dirumah – juga ddeokbeokki untuk Jongdae. Luhan tidak bisa menunggu
Jongdae pulang, karena Jongdae mengajar sampai malam sedangkan jarak rumah
barunya sekarang jauh. Jadi, Minseok menunggu sendirian, sambil berpikir
bagaimana memberi tahu Jongdae kalau dia sudah kembali bersama Luhan.
“Jongdae, aku sudah kembali bersama Luhan.”
“Aku sudah kembali dengan Luhan.”
“Luhan mengajakku kembali, lalu aku menerimanya.”
Apa yang kau
bicarakan sih, Minseok? Dia
menggelengkan kepalanya cepat, bingung. Sebentar lagi Jongdae pulang dan sudah
jelas dia akan bisa melihat ada sesuatu yang Minseok sembunyikan dari ekspresi
wajahnya yang tidak tenang. Rasanya dulu ketika pertama kali bersama Luhan,
memberi tahu Jongdae tidak sesulit ini. Sekarang dia takut akan bagaimana
ekspresi Jongdae nanti.
“Minseok! Aku
pulang,” Minseok sangat kaget, rasanya seperti suara Jongdae berada tepat
disebelah telinganya. Dia bangkit dari kursinya, berjalan ke pintu dan
membukanya. Lalu dia melihat Jongdae dengan kedua matanya yang membulat tidak
tenang.
“Minseok?
Kenapa, ada sesuatu?” yang benar saja.
Aku baru membuka pintu dan dia langsung melihat sesuatu.
“Masuk dulu
Jongdae,” Minseok berjalan didepan Jongdae yang
mengikutinya. Mencoba mengulur waktu sambil menyusun kalimat apapun yang ada
dikepalanya.
“Itu- aku dan
Luhan membelikanmu itu eh, ddeokbeokki.
Tadi kami pergi ke Myeongdong.” Jongdae sudah masuk ke kamar mandi, sementara
Minseok bercerita dari dapur. “Tadi kami makan heoddeok, tapi kan kau tidak suka manis. Jadi kami belikan cemilan
kesukaanmu saja.”
“Kalian
benar-benar ingat padaku? Aku kira Luhan bercanda akan membelikan sesuatu,”
Jongdae menjawab dengan suara menggema dari kamar mandi. “Sejak kapan ddeokbeokki itu sampai?”
Minseok berjalan
mengitari dapurnya, menyusun kalimat lain dikepalanya supaya pembicaraan ini
tetap berlangsung. “Luhan dan aku hanya pergi makan dan jalan-jalan sebentar,
jam 4 tadi kami sampai. Jadi kau bisa hitung sendiri sudah seberapa dingin ddeokbeokkimu ini.”
Minseok bisa
mendengar Jongdae tertawa dari dalam kamar mandi. “Astaga, sekarang sudah jam 9
lewat,”
“Kau mau aku
panaskan dulu ddeokbeokkinya? Kau
sudah mau makan sekarang?”
“Iya, tolong
panaskan untukku.” Jongdae menjawab dari dalam kamar mandi. “Kau sudah makan
malam selain heoddeok?”
“Aku sepertinya
tidak makan lagi. Aku makan banyak sekali heoddeok
dan masih sangat kenyang.” Jantung Minseok berdegup kencang melihat Jongdae
keluar dari kamar mandi. Masuk ke kamar dan mengenakan baju, Minseok menunggu
dengan pikiran yang tidak tenang sambil memanaskan ddeokbeokki. Lalu dia duduk lagi dan menunggu Jongdae di meja makan
dan melihatnya duduk dihadapannya dengan rambut yang masih basah.
“Minseok? Kenapa
daritadi ekspresi wajahmu seperti itu?” Setelah mengambil duduk di depan
Minseok, Jongdae tidak bisa mengerti tatapan aneh itu. Jongdae memasukkan satu ddeokbeokki pedas yang masih hangat itu
kedalam mulutnya, mengunyah sambil menunggu jawaban dari Minseok. “Minseok?”
Minseok tidak
menjawab. Tatapannya hanya memandang lurus ke mata Jongdae, tapi pikirannya
seperti tidak ada disana.
Di sisi lain,
Minseok tidak tahu kenapa kepalanya membuat masalah seperti ini menjadi rumit.
Dia tahu, Pasti ekspresinya aneh sekarang. Tapi lebih baik seperti itu sampai
dia bisa memilih kalimat untuk Jongdae.
Jongdae
meneruskan makannya, karena sebenarnya dia sangat lapar dan ternyata ddeokbeokki yang dibeli Minseok dan
Luhan rasanya enak. “Jongdae,”
Minseok akhirnya
mengatakan sesuatu. Jongdar mengangkat kepalanya dan bertemu dengan kedua mata
Minseok yang juga sedang memandangnya. “Ya?”
“Aku dan Luhan,
ehm yah – kau tahu maksudku.” Bagus,
Minseok. Kemana kata-kata yang tadi sudah kau rangkai?!
Jongdae mengernyit
bingung. “Apanya? Aku tidak tahu,”
Minseok menarik
nafas dalam, tatapannya tidak lepas dari Jongdae. “Aku sudah kembali dengan
Luhan.” Jongdae menyemburkan ddeokbeokkinya
kaget mendengar kalimat Minseok, sementara Minseok secara konstan juga kaget
karena Jongdae. “Kau kembali dengan Luhan?”
Jongdae membantu
membersihkan meja makan dan mulutnya sendiri – dan melanjutkan makan, mencoba
setenang mungkin. “Haha,” Jongdae tertawa santai. “Bagus untukmu kalau begitu,
lagipula aku sudah menduga,” kalau ini
akan menyakitkan. “Tapi cepat sekali,”
kau pergi. “Lalu kau akan
segera pindah ke rumah Luhan?” dan
meninggalkan rumah ini dingin seperti dulu?
“Luhan sempat
berkata seperti itu…”
Tidak ada
satupun dari mereka yang bicara untuk beberapa menit. Jongdae melanjutkan
makannya sementara Minseok terus memperhatikan Jongdae yang makan sambil
menunduk, seperti sedang memiliki hal lain di kepalanya.
“Jongdae, kau
marah?” Minseok hanya memperhatikan Jongdae, dia takut untuk berkata apa-apa.
Sementara itu, Jongdae kembali tertawa. “Aku? Aku tidak marah Minseok,” dia
tertawa lagi. “Serius. Selamat untukmu,” Minseok
memperhatikan Jongdae yang bangun sendiri dan membereskan makanannya. “Aku ikut
bahagia untukmu.”
“Tidak, Jongdae.
Kau tidak terlihat bahagia.” Minseok membantah, karena memang seperti itu
adanya. Jongdae tidak memandang Minseok ketika mengatakannya, sampai sekarang
pun Jongdae menolak untuk bertemu dengan mata Minseok. “Jongdae, lihat aku.”
Jongdae menyerah
berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia mematikan keran air setelah mencuci
tangan, mengeringkan tangannya dan kembali duduk di meja makan. Mengangkat
kepalanya dan menatap Minseok dengan sepasang mata sendunya, tanpa air mata.
Minseok tahu, mulutnya memang mendukung, tapi hatinya tidak.
“Aku sudah
berjanji untuk mendukungmu. Sekarang aku akan berjanji satu hal lagi, waktu
akan memperbaiki segalanya untukku.” Jongdae pergi meninggalkan Minseok yang
masih duduk di meja makan. Dengan langkah malas, dia berjalan menuju kamar dan
membuka kaos putih polosnya dan berbaring di ranjang.
Minseok masih
duduk di meja makan, satu-satunya ruangan yang masih terang. Melihat Jongdae
yang berjalan perlahan – mengikutinya masuk ke kamar. Minseok juga ikut
membaringkan badannya menatap Jongdae yang memberikan punggung dingin
kepadanya.
“Jongdae,” Minseok
memandangi punggung Jongdae. menyentuhnya dengan jari telunjuk – hanya untuk
merasakan Jongdae bernafas. “Kau tidak ingin bicara denganku?”
Tidak ada
perubahan dari Jongdae; hanya punggungnya yang terus naik turun. “Yasudah kalau
kau belum ingin bicara denganku, aku minta maaf. Kau mungkin tidak menyetujui
keputusanku, tapi Luhan adalah kebahagiaanku. “ Jongdae tidak bergerak sama
sekali. Masih bertahan dengan tangisannya yang dia simpan diam-diam agar
Minseok tidak bisa mendegarnya.
“Bersama dengan
Luhan sudah pasti hal yang paling kuinginkan. Apa yang kau khawatir-“
“BODOH! AKU
MENGKHAWATIRKAN HATIMU!” Jongdae berbalik badan dengan cepat dan langsung
memeluk Minseok yang terlihat kaget dengan itu. “Mulut manisnya yang
memenangkan hatimu, tapi mulut manisnya juga yang melukai hatimu.” Badannya
bergetar kuat, sesenggukkan menahan tangis.
Ini kali kedua
Minseok melihat Jongdae menangis. Jongdae selalu menangis karena dia.
Minseok balas memeluk tubuh polos
Jongdae yang bergetar dingin, memeluknya kuat untuk menenangkan Jongdae. “Kali
ini, aku pasti baik-baik saja. Luhan sudah berjanji untuk berubah.”
Jongdae masih
menangis, tapi dia coba menahannya. Hatinya terasa sesak. “AKU SUDAH MENJAGAMU
SEMAMPUKU, TAPI DIA TELAH MENGHANCURKANNYA!” Jongdae tidak bisa bekerjasama
dengan hatinya. Sebagai lelaki yang selalu menggunakan logika, dia selalu
percaya bahwa Luhan memang lelaki yang dapat dipercaya untuk Minseok. Tapi
hatinya tidak pernah setuju, karena Jongdae menghawatirkan Minseok. Jongdae
mencintainya.
“Jongdae,
kumohon. Aku bukannya tidak bahagia denganmu, aku bahagia sebagai seorang
sahabat. Dan aku membutuhkan Luhan sebagai kekasihku.” Jongdae sudah berhenti
menangis, dia hanya masih bernafas dengan cepat. Minseok terus mengusap
punggung Jongdae yang dingin, menarik selimut ke atas untuk menutupi badan
mereka berdua.
Minseok menunggu
jawaban, tapi Jongdae diam saja. “Jongdae?”
Jongdae memandang kosong ke pintu
yang tertutup. “Apa kau akan pergi?” Bukan menjawab perkataan Minseok yang
sebelumnya, Jongdae membuat pertanyaan baru lagi. Pertanyaan yang sudah dia
pikirkan daritadi. “Rumah ini sangat dingin kalau kau tidak ada. Kau belum
pergi tapi aku sudah kehilangan dan merasakannya menusuk. Hatiku.”
Jongdae tidak
suka menangis dan memikirkan hal-hal yang membuatnya sedih. tapi permasalahannya
beda dengan Kim Minseok yang sudah merubahnya, dan dia merasa perlu melakukan
sesuatu untuk mempertahankannya.
“Aku akan bahagia bersama Luhan, tidak ada
lagi yang perlu kau khawatirkan.” Minseok mencoba menenangkan Jongdae dengan
terus mengusap punggungnya perlahan, memberikan Jongdae kehangatan.
“Seumur hidupku,
aku selalu sendirian. Aku hidup tanpa merasakan apapun. Nilai bagus yang selalu
kau lihat? Itu satu-satunya hal yang aku lakukan. aku tidak pernah ingin pulang
ke rumah yang selalu kosong. Aku pergi berkelahi dan membenci begitu banyak hal
karena aku hidup dalam duniaku sendiri. Tapi kau datang. Tinggal dirumahku
walau untuk sebentar, kau merubah segalanya. Aku ingin pulang ke rumah karena dirumah
akan ada kau yang sudah menunggu, aku tidak pergi berkelahi dan aku belajar
caranya mengendalikan diri. Aku banyak tersenyum karena iri denganmu, kau
selalu bahagia diatas lukamu. kau sudah menjadi kebahagiaanku. Jadi, bagaimana
denganku? bagaimana dengan kebahagiaanku, Minseok?”
Minseok benar-benar
mendengarkan, dia bisa merasakan bagaimana kesepian yang Jongdae rasakan. Tapi
Jongdae selalu berpikir menggunakan akalnya, jadi ketika sesuatu mengenai
hatinya, dia tidak berpikir dengan baik. “Aku bukan kebahagiaanmu, Jongdae. kau
menganggap aku kebahagiaanmu karena aku menemanimu di saat kau kesepian. Kau
tahu, itu bukan cinta.”
Jongdae
melepaskan pelukan itu pertama kali, bangun dari posisi tidurnya dan duduk di
ranjang. “Minseok, aku mengerti diriku sendiri. Aku tidak pernah salah
mengenali sesuatu dan aku tau kau adalah kebahagiaanku. Kau bisa menganggapku
gila karena tetap mengharapkan dirimu di saat kau sudah memilih orang lain,
tapi, aku benar-benar memohon padamu, bisakah kau tetap tinggal?”
Minseok mendesah
putus asa dan ikut bangun dan duduk disamping Jongdae. “Jongdae, aku janji akan
selalu mengunjungimu. Tapi aku tidak bisa tetap tinggal,”
“Kim Minseok,”
Jongdae meraih tangan kiri Minseok, menggenggamnya dan mengusapnya. Melihat kedua mata Minseok
dengan wajahnya yang putus asa. “Kumohon.”
Minseok balas
menatap kedua mata mata itu, mencoba memberikan jawaban melalui tatapan
matanya. “Aku minta maaf.”
Jongdae tidak
bisa lebih hancur lagi dari ini. Ketika dia merasa Minseok sudah dekat –
Minseok semakin menjauh. Ketika dia pikir Minseok membutuhkannya – Minseok bisa
melakukan semuanya sendiri. Hanya Jongdae yang sebenarnya membutuhkannya.
Jongdae yang ingin memilikinya. Minseok tidak merasakan hal yang sama; hal yang
tidak ingin dia ketahui.
Jongdae
melepaskan tangan Minseok. Sudah cukup mendengarkan semua kenyataan yang
bertolak belakang dengan apa yang dia percaya. Dia pikir, dunia akan selalu
berjalan sesuai dengan akalnya, tapi ada sesuatu yang hanya diketahui oleh hati
– Cinta. Jongdae melepaskan senyum
lebarnya yang biasa, mencoba memberikan Minseok ketenangan.
“Baiklah, kalau
begitu ayo kita tidur,” Jongdae meraih kaos putih yang tadi dia lepas dan
mengenakannya kembali. Merebahkan dirinya lagi, menarik selimut menutupi dada
dan memejamkan matanya.
Minseok tidak
tahu harus bahagia atau sedih melihat itu – Jongdae sangat menutupi kesedihan
yang dia berikan dengan senyuman yang selalu menenangkannya. Dia senang melihat
senyum itu – tapi dia sedih karena itu tidak nyata. Minseok ikut merebahkan
tubuhnya dan mengambil tempat agak dekat Jongdae, menyentuh lengannya.
“Suatu saat kau
akan menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya. Aku percaya itu dan kau juga
harus percaya, Jongdae.”
Sekarang Minseok
hanya bisa melihat punggung Jongdae yang naik turun dengan damai, mungkin sudah
sampai pada mimpinya. Minseok tersenyum – dan perlahan-lahan dia merasa
mengantuk. “Selamat malam, Jongdae.”
Minseok memang
tidak bisa melihat wajah Jongdae. Wajah yang sekarang sudah memerah dan wajah
yang sudah berlinang air mata. Jongdae berusaha tetap tenang memendam perih
yang dia rasakan dalam hati. Dia tidak
pernah membayangkan, mencintai rasanya sakit seperti ini. Jongdae tahu suatu saat hari ini akan datang
– dimana Minseok akan pergi. Dia sudah
menyiapkan hati, sejak dia bisa melihat bahwa Luhan mencoba kembali dengan
Minseok. Tapi kenapa begitu hari ini benar-benar datang, dia tetap tidak bisa
menerima kepergian Minseok? Bahkan Minseok masih tidur disebelahnya, tapi dia
sudah merasakan kepergian itu.
▲
Pas background-background sedih Jongdae gue minta bantuan temen karena jantung gue gabisa ngarang lagi, capek deg-degan. Semua tenaga udah terkuras buat bikin Jongdae sedih 😂😂😂 Iya, bunuh aja gue. BUKAN CUMA JONGDAE YANG SEDIH GUA JUGA LAH HIKS udahlah gua gamau bahas. Bentar istirahat dulu kali.
-kairay.
0 Comments