It Hurts. [Chapter 1]


Hari ini tepat setahun Taemin meninggalkanku sendiri. Kalau bukan karena Leukemia stadium akhir yang menyiksanya, aku tidak akan pernah menangis untuknya. Kalau bukan untuk kebahagiaannya, aku tidak akan pernah berjuang untuk kami.

Daun pepohonan yang mulai gugur di musim ini selalu mengingatkanku padanya, tentu saja, ini musim favouritenya. Di awal musim seperti ini, aku selalu mengajaknya ke taman setelah dia kembali dari tempat kerjanya, dan bersenang-senang sampai larut malam. Taemin akan selalu menyempatkan pergi ke taman hiburan bersamaku di cuaca seperti ini, suasana hatinya pasti baik. “Akan selalu menyenangkan, menghabiskan waktu bersama adikku di musim gugur seperti ini,”  jawabannya akan seperti itu ketika aku bertanya mengapa dia tidak pernah bosan.

Kalau bukan untuknya, tidak ada lagi arti dari senyum bahagia, karena itu hanya miliknya.

Aku baik-baik saja,”  satu omong kosong yang seharusnya tidak pernah kupercaya.

Jangan pergi, ‘kan aku selalu ada disini,” dua omong kosong yang seharusnya ku abaikan saja.

Berjanji padaku, kita akan saling menjaga,” tiga omong kosong yang sudah dia ingkari.

Aku hanya sedikit pusing, kau bersenang-senanglah dengan temanmu,” omong kosong terakhir yang seharusnya tidak pernah kuabaikan, dan sekarang, aku menyesal.

Like us on Facebook

Flickr Images