It Hurts. [Chapter 1]
Saturday, November 17, 2012Daun pepohonan yang mulai gugur di musim ini selalu mengingatkanku padanya, tentu saja, ini musim favouritenya. Di awal musim seperti ini, aku selalu mengajaknya ke taman setelah dia kembali dari tempat kerjanya, dan bersenang-senang sampai larut malam. Taemin akan selalu menyempatkan pergi ke taman hiburan bersamaku di cuaca seperti ini, suasana hatinya pasti baik. “Akan selalu menyenangkan, menghabiskan waktu bersama adikku di musim gugur seperti ini,” jawabannya akan seperti itu ketika aku bertanya mengapa dia tidak pernah bosan.
Kalau
bukan untuknya, tidak ada lagi arti dari senyum bahagia, karena itu hanya
miliknya.
“Aku
baik-baik saja,” satu omong kosong yang seharusnya tidak pernah
kupercaya.
“Jangan
pergi, ‘kan aku selalu ada disini,” dua omong kosong yang seharusnya ku
abaikan saja.
“Berjanji
padaku, kita akan saling menjaga,” tiga omong kosong yang sudah dia
ingkari.
“Aku
hanya sedikit pusing, kau bersenang-senanglah dengan temanmu,” omong
kosong terakhir yang seharusnya tidak pernah kuabaikan, dan sekarang, aku
menyesal.
Cheonan,
2010.
“Selamat
Pagi, Hyo,” Sapaan pagi dari Taemin adalah hal yang seperti membangunkanku
untuk beraktivitas, walaupun aku tau aku sudah ada di meja makan, menikmati
sarapanku saat aku mendengar sapaan itu. Sementara Taemin dengan kopi dan koran
paginya, duduk di depanku. “Sudah siap? Apakah hari ini kita akan menjemput
temanmu?”
“Tidak
hari ini, oppa, Sepertinya dia berangkat sendiri. Tunggu aku
habiskan roti panggang ini,” Jawabku sambil setengah mengerjakan tugas. Hehe,
tidak masalah, kan?
“Aku
akan menunggumu menyelesaikan sarapanmu, tapi tidak dengan tugasmu itu. Apa
yang kau lakukan semalam? Katamu pergi belajar bersama dirumah Kyungsoo?”
Tanyanya sambil membaca koran paginya.
“Ehm-
yah itu, jadi- bagaimana ya. Baiklah, baiklah. Aku tidak mengerjakan tugas
kemarin malam, kami mengerjakan projek sekolah yang lain.” Jawabku. Tapi
serius, aku jujur soal projek sekolah itu, sekolahku memang tidak pernah
memberi waktu istirahat.
“Kenapa
tidak kita kerjakan bersama kemarin?” Tanyanya lagi, sekarang dia menuangkan
susu lagi di gelasku.
“Oh, yaampun, aku
tidak akan mengganggumu dengan tugas yang bisa ku kerjakan sendiri. Sudah ya,
kau siapkan saja yang akan kau kerjakan hari ini, sementara aku kerjakan tugas
ini dengan cepat,” jawabku lagi, tidak ingin ditanya lebih banyak olehnya.
Maksudku kan, supaya kami berdua tidak terlambat.
“Hahaha,” tawanya,
benar-benar membuatku ingin tertawa juga. “Sudahlah, kerjakan tugasmu dengan
benar dan teliti. Kita masih punya 45 menit untukmu menyelesaikan tugas itu.
Aku akan ada di ruang tamu kalau kau ingin bertanya. Habiskan susunya Hyo,”
Katanya sambil membawa serta koran pagi dan tas kerjanya dan berjalan ke
kursiku, mencium keningku.
“Siap Oppa, beri
aku 15 menit,” Jawabku sambil sekali-sekali meminum susu dan melahap roti
panggang pagi ini.
▲
Leukimia
sialan itu baru pertama kali kuketahui waktu aku membawa Taemin kerumah sakit,
-Well, jatuh terpeleset dari tangga lalu pingsan- karena dia repot-repot
membawa ember dari lantai atas.
“Tidak
semudah itu seseorang bisa jatuh lalu pingsan, Hyo-mi ssi.” Choi uisanim membuka
percakapan pertamanya.
“Mungkin
kepalanya terbentur tangga, atau apa? Apa anda melihat ada bekas benturan?”
tanyaku. Aku tidak suka dengan arah pembicaraan ini. pasti ada sesuatu yang
tidak benar dengan Taemin.
“Sayangnya
tidak. Dari hasil pemeriksaan yang kami dapat berdasarkan penjelasan anda,
ember berisi air itu menjelaskan cipratan air yang terdapat hanya di tangga
bawah, jadi dia tidak tergelincir dari atas,”
“Jadi?”
tanyaku tidak sabar. “Apa ada sesuatu terjadi yang saya tidak tau, uisanim?”
“Kami
sudah melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Lee Taemin. Dan berdasarkan
pemeriksaan yang kami dapat, Lee Taemin memiliki Leukimia.”
“Leukimia?”
tanyaku tidak percaya. Bagaimana bisa, sih?
“Benar. Saya jelaskan,
Leukimia adalah suatu jenis kanker, tidak bisa sembuh begitu saja. Kita harus
melakukan operasi secepatnya sebelum kesempatan hidupnya semakin menipis,
Hyomi-ssi.”
Apa?
Operasi? Sel darah putih? Kanker? Semuanya tidak masuk akal bagiku. Jadi Taemin
akan mati, begitu? “Jadi apa yang harus saya lakukan?”
“Kita
bisa melakukan operasi bagi sel darah putihnya, dan melihat kondisinya lagi
setelah itu. Bagaimana?”
“S-
saya tidak tahu. Saya rasa saya tidak akan melakukan operasi itu.” Jawabku.
“Saya akan membawanya pulang,”
“Anda
perlu mempertimbangkannya. Lee Taemin masih memiliki kesempatan selamat yang
tinggi, anda tidak perlu khawatir,” Jawan Choi uisanim menenangkan.
“Anda bisa kembali lagi keruangan saya besok siang.”
“N-
ne. Gamsahamnida, uisanim. Selamat siang.” Jawabku lagi lalu keluar
dari ruangannya.
Permasalahannya
bukan presentase hidup Taemin. Tapi kami tidak se-mapan itu. Kami tidak
memiliki cukup uang untuk biaya operasi. Berarti aku akan membiarkan Taemin
mati saja, begitu? Aishhh!
Ini
kali pertamaku mengunjungi ruangannya setelah apa yang dokter beritahukan
padaku. Bayangkan, dia keluargaku satu-satunya! Yang benar saja, Hal sebesar
ini dia sembunyikan? dia pasti bercanda.
“Hei,
kau datang,” katanya begitu melihat siapa yang membuka pintu pagi ini. Kalau
tidak mengingat dia itu oppa ku satu-satunya, aku akan
langsung tanyakan semua hal-hal mengganjal di pikiran ku sekarang juga.
“eoh, tentu
saja, siapa lagi yang akan mengunjungi mu kalau bukan aku,” Jawabku setengah
bercanda sambil berjalan mendekati ranjangnya, “kemarin, suster yang menjaga
kamarmu bilang aku boleh bawa makanan dari luar, jadi aku bawakan kimbap dari
restoran langganan kita,” lanjutku.
“diperbolehkan
atau kau yang memaksa?” tanyanya dengan tampang menyelidik yang sama sekali
tidak membantu.
Ingatkan
aku kalau dia itu oppa ku. Satu-satunya. Yang sangat
menyebalkan.
“kalau
tidak mau ya sudah, aku juga lapar.”
“Hei- astaga.
Aku mau kimbap itu, awas kalau kau sentuh.” Jawabnya lagi begitu aku mengambil
sumpit. Oh yang benar saja, tentu aku bercanda. Ini ‘kan kimbap kesukaannya…
aku tidak sekejam itu.
“iya
iya, aku tau ini kesukaanmu. Untuk apa aku beli kalau bukan untukmu?” kataku
lagi sambil tersenyum. Well, apa sudah kukatakan walaupun dia
itu menyebalkan tapi aku tetap menyayanginya?
Taemin
balas tersenyum. “hahaha, aku tidak apa-apa kalau kau makan, ayo cicipi satu
Hyo,”
Taemin
dan aku setidaknya bercerita selama dua jam, dibandingkan dengan 5 hari kami
tidak bertemu, kami pasti punya banyak sekali cerita untuk dibagi.
“Oh
ya, oppa, ada suatu hal yang ingin aku tanyakan,” kataku,
membuka percakapan yang lain lagi.
“tanyakan
Hyo,” jawabnya sambil membenarkan posisi tidurnya, “kau sudah bertanya banyak
sekali hal tadi,”
“ehm,
yah, kurasa yang ini lumayan penting,” kataku, tidak tahu bagaimana menyusun
rangkaian kata-kata yang berantakan di kepalaku, “Jadi- begini. Aku hanya ingin
tau, apakah ada hal yang kau sembunyikan dariku?”
Taemin
sejenak menerawang ke udara, “Tidak ada- kurasa. Hal seperti apa yang kau
maksud?”
“Yah,”
Aku pasti sangat payah dalam merangkai kalimat. “Misalnya, kenapa kau bisa
kutemukan tidak sadarkan diri waktu itu? Atau kenapa kau pulang kerja lebih
cepat, akhir-akhir ini?”
Taemin
kembali menerawang ke udara. Atau mungkin dia menyusun kalimat kebohongan di
kepalanya itu. “Tidak- tidak ada. Aku sehat-sehat saja, pekerjaan di kantor
sebenarnya sangat berat belakangan ini, yah, kau tau maksudku,” Jawabnya.
Astaga-
dia bohong lagi padaku. Tidak ada, katanya? Apa yang ada di kepalanya
itu, sih? Begini saja ya, tidak mungkin dia tidak tau penyakit
apa yang sedang dia hadapi sekarang. “Oppa, ku mohon, jangan
berbohong padaku.” Kataku, menatap langsung pada mata coklat miliknya. “Kau tau
ini sangat serius.”
Tatapannya
berubah suram. Mata-nya membulat, dia menunduk sambil memainkan ujung-ujung
bajunya resah. “Apa yang sangat serius, Hyo?”
Yang
benar saja. “Oppa! Kumohon, apa perlu aku yang mengatakannya? Aku
sangat menyayangimu, kau tau itu.”
Taemin
masih menunduk. “Jadi, Choi uisanim sudah mengatakannya
padamu?”
“Choi uisanim sudah
mengatakannya padaku.” Jawabku singkat. Aku menunggu kata-kata lain darinya
untuk beberapa lama. “Tidak ada hal lain yang ingin kau sampaikan padaku?”
“Maaf,
Hyo. Aku- Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini darimu, aku hanya ingin
mengobatinya sendiri, kau tidak perlu tau. Aku-“
“Sekarang
lihat apa yang kau lakukan! Lihat apa yang terjadi kalau kau tidak beritahu
aku! Ini yang kau inginkan? Melihatmu tidak sadarkan diri di tangga rumah kita,
tidak yakin apakah kau masih hidup atau sudah mati, begitu?” Kataku dengan mata
berair dan perih. Aku mencoba sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan
suara-suara berlebihan, bagaimanapun ini masih rumah sakit.
“Aku
hanya sedikit ceroboh, Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf.”
“Kau
tau, maaf-mu itu tidak merubah keadaan sedikitpun. Kau masih disini. Kita masih
disini. Dengan penyakit itu.” Jawabku putus asa. Putus asa atas fakta yang
telah di katakan mulutku sendiri. “Kita akan mencari obatnya bersama-sama. Aku
hanya ingin kau berjanji satu hal padaku,”
“Apa
itu?” Tanyanya. Akhirnya dia mengangkat kepalanya.
“Aku
adikmu. Tidak ada lagi yang akan menjagamu, Hanya aku. Aku sangat menyayangimu,
Hanya kau yang kumiliki oppa. Berjanji padaku kau tidak akan
menyembunyikan hal lain lagi, hal sekecil apapun,” Ya. Aku sudah yakin aku akan
membawanya pulang.
Kami
menatap satu sama lain dalam diam. Membaca arti tatapan kami
masing-masing.
“Aku janji.
Masalah sekecil apapun akan aku ceritakan padamu. Sekarang aku yang akan
memintamu berjanji,” Katanya, tangannya yang terhubung dengan selang infus
menggenggam tanganku erat. “Berjanji padaku, kita akan saling menjaga,”
Aku
hanya menikmati waktu-waktu saat kehangatan tangannya menjalar keseluruh
tangan, lalu badanku. Kehangatan tubuhnya adalah hal yang membuatku tenang,
yang membuat jantungku berdetak normal. Sangat aman rasanya, berada
disebelahnya.
“Aku
tidak perlu menjawabnya, kau tau pasti apa jawabanku.” Jawabku setengah
terisak.
“Jangan
menangis, Hyo. Aku juga menyayangimu. Tetap disini, jangan pergi.” Katanya,
masing menggenggam tanganku.
“Tidak
akan, tidurlah.” Kataku dan mengakhiri perbincangan kami hari ini, aku rasa
sudah cukup. Maksudku, mengetahui kebenaran ini. Tidak ada lagi kebenaran pahit
yang ingin kudengar dalam waktu dekat ini. Setelah ikut berbaring disebelah
tempat tidurnya, Aku memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur, walaupun aku
tau hari masih sore.
2 hari
setelah itu, Taemin sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dengan
catatan, dia harus benar-benar istirahat untuk dua minggu kedepan dan meminum
obat-obatnya dengan rutin. Ada untungnya juga dia dirumah, jadi ada orang yang
membantuku mengerjakan tugas dan selalu ada sarapan dan makan siang di meja
makan. Selalu ada orang yang menyambutku pulang setelah lelah belajar seharian…
Tapi
hari itu, dua tahun setelah dia pulang dari rumah sakit, hujan turun dengan
deras. Mata kuliah hari itu dihentikan lebih cepat karena diberitakan akan ada
badai nanti malam. Aku pulang dengan keadaan basah kuyup -Well, semua
bis sudah berhenti beroperasi karena badai besar itu- tapi ketika aku tiba
dirumah, aku tidak menemukan Taemin dimanapun. Aku yakin kantornya juga pulang
lebih cepat? Mungkin dia sedang bersama teman kantornya, atau apalah,
pikirku. Aku hanya ingat, kalau dia tidak boleh terkena hujan. Benar – benar
tidak diijinkan.
Aku
pergi mandi setelah memastikan seluruh pintu sudah terkunci dengan baik, dan
membuat cokelat panas untukku dan Taemin –kalau seandainya dia tiba-tiba
pulang-. Namun hari sudah larut malam dan hujan semakin deras, jadi aku pikir
aku akan tidur saja dan membiarkan pintu depan tidak terkunci, ketika aku
mendengar pintu bel kami berbunyi.
Benar –
benar bukan saat yang tepat untuk seorang tamu. Aku membawa gelas coklat Taemin
–karena tidak ada yang meminumnya maka aku saja- dan berlari ke depan.
"Nuguseyo?"
tanyaku dari balik pintu. Tidak ada jawaban dari balik pintu. “ada keperluan
apa?” aku benar – benar sedang tidak mood dengan
kehadiran seorang tamu. Tapi, mengingat pintunya tidak terkunci, jadi tidak ada
salahnya. Kubuka pintu itu… dan aku tidak tau lagi harus berkata apa.
▲
Alright.
Total 1.850 untuk Chapter ini, pendek sekali ya dibanding penantian sangat
panjang sejak teasernya. I’m
not kidding when I said that this story might be, like, 20 chapters. Gue buat
plot yang agak panjang, dan Chapter 1 ini masih flashback aja dan bisa dibilang
belom ada apa-apa. IYA, harapan palsu lagi dibanding penantian panjang sejak
trailer pt. 2. Geez, bunuh aja authornya bikin fanfiction bertele-tele amat.
Jadi
gue mau nulis nyantai dan supaya semoga, fanfictionnya nggak keliatan kayak
buru-buru gitu alurnya. Chapter depan masih flashback KARENAAAAA ini bukan
fanfiction pendek yang kayak twoshoot gitu, ya udah keliatan mungkin
ya.
Karena
ini masih panjang, belom ada cast yang keluar selain main cast a.k.a Hyomi jadi
sesi tanya jawabnya belom dibuka. Tapi yah, kalo mau tanya ya silahkan tanya
aja sih di kolom comment, mungkin ada yang bersedia jawab nanti.
-kairay.

0 Comments