Behind Closed Door

Sunday, March 18, 2018

Good evening Mancemans :)

I don't know how to properly write opening paragraph at the moment so instead I'm just going to type whatever come across my mind. I guess that's a good excuse to be straightforward today.


Today is special because I would like to present my very last fanfiction of taoris.

Agustus, 2010.

Begitu lulus sekolah, keduanya sepakat tinggal berdua. Orang tua Zitao yang sekarang dipindah tugaskan ke Seoul memutuskan untuk mengijinkan Zitao tetap di Beijing untuk melanjutkan kuliah. Lagipula, sekarang memang ada Yifan yang bisa menjaganya dan hal itu dianggap kesempatan bagus untuk memulai hidup mandiri.

Zitao memilih masuk ke perguruan tinggi, sedangkan Yifan yang 3 tahun lebih tua darinya mulai bekerja setelah lulus karena sekarang dia memiliki tanggung jawab lebih tinggi.

Sungguh, Zitao sangat kagum ketika tau Yifan berhasil diterima di sebuah perusahaan, padahal Yifan baru saja menyelesaikan kuliahnya. Memang hanya perusahaan kecil tapi tetap saja mendapat pekerjaan kantoran di kota metropolitan sangat sulit, apalagi kalau belum memiliki pengalaman bekerja. Zitao sangat bangga dan bersyukur memiliki kekasih yang dapat diandalkan seperti Yifan.

Zitao yakin dia tidak akan pernah menyesal telah memutuskan untuk tinggal bersama Yifan.


Behind Closed Door

wu yifan x huang zitao

angst // slice of life

M for Violence ; oneshot ; messy timeline

-kairay 2018.



September, 2016.

Sudah lebih dari dua tahun Zitao tinggal dengan Luhan. Minseok tidak pernah keberatan kalau sahabatnya dan kekasihnya tinggal di satu flat apartemen – justru memang dia yang mengusulkan mereka untuk tinggal bersama. Minseok percaya pada kekasihnya itu. Luhan memang terlihat seperti laki-laki nakal yang suka bermain-main, tapi nyatanya Luhan sudah berkali-kali berhasil membuktikan kalau dia setia pada Minseok.

Luhan itu populer. Penggemar dari orang sekeren Luhan mana mungkin menyerah hanya karena ‘dia sudah punya pacar’? Tidak cuma sekali dua kali mereka mendekati Luhan, tapi satupun tidak dia pedulikan, dia sudah punya Minseok. Dan Minseok sudah lebih dari cukup.

Satu lagi alasan Minseok tidak merasa khawatir Zitao tinggal bersama kekasihnya, karena Minseok lebih dari mengerti kalau Zitao sudah trauma menjalani hubungan yang serius.


November, 2010.

“Mulai sekarang, Tao harus terbiasa bersih-bersih.”

Kalimat Yifan membuat Zitao yang tadinya sibuk mengeluarkan barang pindahan dari kardusnya menoleh dengan alis mengkerut. Tersinggung, karena Yifan menyindir kebiasaan Zitao yang pemalas.

“Kenapa begitu?” tanya Zitao dengan nada kesal, tentu saja.

Pertanyaan retoris Zitao membuat Yifan mendengus. Kenapa bertanya segala? “Ayolah, Tao-er, kalau aku mulai bekerja aku tidak punya waktu untuk bersih-bersih.” Sambil menatap barang-barang yang dikeluarkan Zitao, Yifan menggeleng-geleng heran.

Zitao tertawa membuat Yifan meliriknya dengan raut wajah heran. “Aku tahu posisiku di sini, Yifan-ge.” Zitao kembali melanjutkan acara mengeluarkan barang-barang pindahannya. “Aku akan melakukan apapun agar gege tidak terbebani karena tinggal bersamaku.”

Yifan membantu Zitao untuk menaruh barang-barang yang dikeluarkan Zitao ke tempatnya. Tertawa kecil. “Kita lihat saja nanti, pasti gege yang ujung-ujungnya melakukan pekerjaan rumah.”

Wajah Zitao memerah kesal, meninggalkan barang-barangnya dan menghampiri Yifan. “Gege! Aku janji!” Zitao menggoyang-goyangkan lengan Yifan karena Yifan tidak menghiraukan kehadiran Zitao disampingnya.

“Iya, iya, Tao-er, Gege mengerti,” Yifan mengacak-ngacak rambut Zitao. Yifan tau keinginan Zitao untuk tinggal bersamanya, juga mengerti kalau Zitao tidak akan merepotkannya.


January, 2011.

“Apa dasiku sudah rapih?”

Zitao memutar bola matanya kesal. Sudah lebih dari 10 menit Yifan menanyakan pertanyaan itu terus menerus. Zitao yang sedang sibuk menyiapkan bekal –dia memaksa, katanya supaya Yifan semangat bekerja– berusaha tidak menggubris. Zitao sempat menjawab sekali dua kali, tapi ketika Yifan terus bertanya, Zitao bahkan tidak menoleh. Yifan sudah membuka mulutnya lagi dan Zitao segera menyela sebelum Yifan menanyakan pertanyaan yang sama. “Berhenti mengkhawatirkan dasimu, lebih baik sekarang habiskan kopinya.” Zitao membungkus kotak bekal dengan kain, persis seperti yang ibunya lakukan ketika dia masih di sekolah dasar.

Yifan menghela napas. “Tao, aku gugup.”

“Tidak ada orang yang tidak gugup di hari pertamanya bekerja.” Zitao menghampiri Yifan dan menyerahkan kotak bekalnya. “Aku tau gege bisa melakukannya.”

Senyuman Zitao membuat Yifan lebih tenang sedikit. Refleks, Yifan menaikkan sudut bibirnya. “Kalau begitu aku berangkat.” Yifan menegak habis kopinya dan memberikannya pada Zitao.

Zitao mengantarkan Yifan sampai ke depan pintu. “Wu Yifan-ge! Jia you!” Zitao mengepalkan kedua tangannya menyemangati.

Menurut Yifan itu sangat menggemaskan. Yifan mengacak-ngacak rambut kelam Zitao dan mengecup keningnya singkat. “Aku pergi, Tao-er. Sampai ketemu nanti malam.”

Zitao menutup pintu, tersenyum lebar sendiri memikirkan yang barusan Yifan lakukan padanya. Oh, rasanya seperti orang paling bahagia di dunia.


September, 2010

Zitao bertemu Yifan musim panas tahun lalu. Waktu itu, mereka berdua adalah sukarelawan di acara penggalangan dana musim panas di pantai. Setelahnya Yifan sering berkunjung ke rumah Zitao, dan karena orang tua Zitao sering ditugaskan keluar kota dan keluar negeri, Yifan menemaninya menjaga rumah. Yifan mengajarkan caranya bersih-bersih rumah, Zitao mengajarkannya memasak. Atau terkadang, mereka juga pergi jalan-jalan keluar, kalau Zitao sedang ingin pergi ke suatu tempat.

Yifan selalu memperlakukan Zitao dengan lembut bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Selalu. Kadang-kadang membuat Zitao merasa seperti orang paling berharga sedunia – membuat Zitao harus memprovokasi Yifan sesekali supaya dia mau bercanda.

Kalau membayangkan bagaimana dia menggoda Yifan, Zitao tidak bisa menahan tawa.
Yifan melihatnya jadi bingung. “Tao-er, kenapa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa. Hanya mengingat-ingat bagaimana dulu kita bertemu, ge.

Yifan sangat mencintai Zitao yang seperti ini. Zitao yang selalu berterus terang mengenai hal yang ada di kepalanya, walaupun itu kadang-kadang menyakiti perasaan orang. Tapi hal seperti itu yang Yifan tidak punya, dia tidak bisa dengan semudah itu mengatakan isi pikirannya. Dia suka bagian Zitao yang bertolak belakang dengannya. Zitao itu, bisa membantunya sedikit meringankan beban pikirannya.

Daritadi Zitao hanya memperhatikan Yifan dengan tatapan bingung, melihat Yifan ikut-ikutan tertawa seperti dia tadi. “Sekarang gege yang kenapa?”

Yifan bangkit dari duduknya. “Gege tidak mau memberi tau.” Zitao ikut bangun dan berjalan cepat mendekati Yifan yang sengaja menjauh darinya. Zitao mengambil bantal sofa dan melemparnya.

Gege! Beritahu aku!”


Agustus, 2013

Zitao memasuki kelas dan langsung menghampiri tempat duduk kosong di sebelah Minseok. Wajahnya ditekuk, jelas sekali sedang tidak bahagia.

Minseok adalah sahabat terbaik yang Zitao punya. Tanpa diberitahu, dia sudah paham apa yang terjadi pada Zitao. Atau mungkin sebenarnya tidak perlu jadi Minseok untuk mengerti bahwa Zitao dalam kondisi tidak baik.

Zitao mengenakan turtle neck lengan panjang di bulan Agustus yang adalah puncak musim panas. Jelas sekali ada yang dia sembunyikan pada tubuhnya. Matanya sembab dan masih berair. Memang sih, Zitao bukan tipe laki-laki kuat yang tidak pernah menangis, tapi kalau matanya sudah bengkak seperti itu artinya ada sesuatu. Terakhir, Zitao berkali-kali mengganti posisi duduknya. Dia bergerak tidak nyaman di atas kursinya.

Sekali lihat Minseok bisa menyimpulkan. Zitao dihajar habis-habisan oleh Yifan. Turtle neck lengan panjang yang juga menutupi lehernya pasti juga untuk menutupi luka lebam. Zitao tidak nyaman duduk dikursinya, sudah jelas karena Yifan bermain terlalu kasar.

Minseok tau karena ini bukan pertama kalinya Zitao datang ke kampus dengan keadaan seperti ini. Sejujurnya Minseok sudah terlalu sering melihat Zitao seperti ini.

“Tao, sudah saatnya kau mengakhiri hubunganmu dengan laki-laki itu.”

Mendengar itu, Zitao langsung menatap sahabatnya tidak percaya. “Berhenti menyarankanku untuk meninggalkan Yifan-ge.” Zitao membalas dingin, karena sebenarnya Minseok sudah menyarankan hal yang sama berkali-kali.

Minseok memutar bola matanya kesal. “Tao. Apa yang kau harapkan darinya? Dia sudah sering sekali menyakitimu.”

“Aku dan Yifan-ge saling mencintai.”

Minseok mendekatkan kepalanya pada Zitao, menatapnya serius. “Kau yakin orang yang selalu menyiksamu itu orang yang mencintaimu? Katakan padaku, kapan terakhir kali dia memperlakukanmu dengan lembut?”

Zitao tidak menjawab. Nyatanya dia tidak ingat kapan Yifan mulai berubah.


March, 2016.

Tinggal bersama Luhan membuat Zitao juga akrab dengan teman-temannya. Misalnya dengan Junmian yang mirip kelinci dengan kulit porselennya. Juga ada Yixing yang paling sering tertawa diantara yang lain. Dia ini moodboosternya di flat Luhan. Walaupun pada dasarnya Zitao memang orang yang pandai bergaul, tapi mereka berdua semakin memudahkan Tao mengobrol. Mereka teman yang menyenangkan. Tidak jarang Minseok pergi bersama Luhan meninggalkan Zitao sendirian di flat, Junmian dan Yixing akan menemaninya. Atau kalau Zitao sudah jadi obat nyamuk ketika Minseok datang ke flat, dia lebih memilih kabur ke tempat Junmian atau Yixing.

“Zitao, kau tidak ada proyek baru?” Yixing bertanya sambil terus-terusan mengganti saluran televisi karena acara jam dua siang memang tidak pernah ada yang menyenangkan.

Zitao yang sedang mencuci piring –terpaksa karena Luhan bilang dia harus– membuang napas kasar. “Yixing-ge! Kalau ada, aku tidak akan mencuci piring seperti seorang pembantu sekarang.” Sebenarnya sekarang dia sedang kesal karena semua piring kotor ini ditinggalkan Luhan yang main pergi begitu saja.

“Siapa tahu kau sudah menerima tawaran proyek tapi belum mulai mengerjakannya?” Yixing mengangkat bahu. “Kalau begitu besok kau juga menganggur ‘kan? Kau harus temani aku nonton film! Belakangan ini Junmian sedang sibuk jadi dia menolak dan meninggalkanku terus.”

Zitao terkekeh mendengarnya. Junmian dan Yixing memang sahabat sehidup semati walaupun dari luar tampak seperti kucing dan tikus. Mendengar Yixing mengoceh ditinggal Junmian terdengar seperti sedang cemburu. “Ide bagus, ge. Aku juga sudah lama tidak nonton film.” Zitao malas menanggapi bagian Junmian karena nanti Yixing akan semakin mengoceh dan mengeluh.

Yixing langsung melempar remote tv dan berlari menghampiri Zitao yang masih mencuci piring di dapur, memeluknya erat sampai Zitao harus berhenti. “Kau memang penyelamat moodku, Zitao!”


December, 2011.

Ini malam natal pertama yang Zitao habiskan bersama Yifan sebelum biasanya mereka berkumpul bersama keluarga masing-masing. Zitao sangat bersemangat dengan natal pertamanya dengan Yifan sejak mereka tinggal berdua. Dari pagi Zitao memasak untuk makan malam juga sempat membeli kue tadi sore. Sebenarnya dia ingin membuat kue sendiri, tapi Zitao tidak bisa jamin dia tidak akan membuat dapur jadi berantakan. Apalagi ini rumah Yifan.

Jam delapan malam, harusnya Yifan sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, makanya Zitao mulai menyiapkan meja makan dan menata masakannya. Mematikan lampu lalu menyalakan lilin, terakhir dia menaruh kue di tengah meja makan. Setelah semuanya siap, dia duduk manis di sofa dan menonton televisi yang sedang penuh film natal.

Tapi sampai dia tidak sengaja tertidur di ruang tv pun, Yifan belum juga pulang.


Yifan membenci atasannya lebih dari apapun di dunia ini. Ada banyak alasan untuk membenci atasannya itu, tapi untuk hari ini karena laki-laki tua itu sangat memforsir pekerjaannya. Ini malam natal! Kenapa dia tidak bisa dapat sedikit keringanan? Nyatanya dia malah harus lembur di malam natal. Mengerjakan pekerjaan untuk deadline tidak masuk akal. Dia begitu sibuk sampai tidak sempat memberi tahu Zitao kalau dia akan pulang terlambat. Yifan malah tidak bisa berkonsentrasi menyelesaikan laporannya karena dia merasa sangat bersalah pada Zitao, pasti dia sedang menunggu sekarang. Yifan mengerang frustasi ketika hari sudah berganti tapi pekerjaannya belum selesai juga, padahal atasan sialannya sudah pulang daritadi dengan alasan misa natal. Yifan ingin mengumpat di depan atasannya langsung, tapi untuk kali ini dia simpan di depan meja komputer saja.

Yifan cepat-cepat bergegas pulang tanpa membereskan mejanya terlebih dulu. Tidak merapihkan bajunya atau rambutnya yang sudah berantakan karena dia acak-acak terus. Tapi secepat apapun dia berlari, secepat apapun dia meminta taksi untuk melaju lebih cepat, Yifan hanya bisa mengecup lembut Zitao yang sudah tertidur lelap di sofa. Menggendong Zitao ke kamar, baru setelahnya dia mandi dan melihat meja makan.

Lilinnya sudah mati. Melihat kerja keras Zitao, Yifan menyempatkan diri untuk memakannya dan memasukkan sisanya ke dalam lemari pendingin, bersama kue juga. Bergabung dengan Zitao di tempat tidur walaupun dia tau waktu tidurnya tinggal sedikit.


January, 2012

Zitao tau Yifan sudah pulang ketika dia mendengar bantingan pintu yang sangat keras, membuat dia yang sedang mencuci piring sangat kaget –bahkan Zitao menjatuhkan gelas tapi beruntung itu cuma gelas plastik–. Zitao membilas tangannya sebentar dan menghampiri Yifan yang menjatuhkan diri di sofa ddan membuang tas kerjanya asal.

Gege, kau sudah pulang?” sambut Zitao ragu. Tidak, Zitao tidak pernah ragu menyambut Yifan pulang sebelumnya. Dan Yifan selalu suka saat Zitao menyambutnya pulang. Tapi entah kenapa, sekarang Zitao ragu mendekati Yifan saat dia seperti ini. Zitao menimbang-nimbang apa sekarang Yifan butuh seseorang untuk menghiburnya atau justru ingin waktu sendiri.

Benar saja. Yifan tidak menjawab sambutannya. Zitao menyimpulkan Yifan ingin waktu sendiri.

“Aku akan kembali mencuci piring. Kalau gege butuh sesuatu katakan saja.” Pada akhirnya Zitao membiarkan Yifan tetap tiduran di sofa. Lagipula, Zitao bisa kena marah kalau Yifan melihat dia belum selesai membersihkan dapur yang agak dia tunda karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya.

“Kau seharusnya peka.” Suara dingin Yifan menghentikan langkahnya.

Zitao membalikkan dirinya dan kembali ke ruang tamu. “Maaf?”

“Kau tidak lihat aku sedang kesal disini? Seharusnya kau bawakan aku segelas air dingin atau apalah.”

Zitao mengerjapkan matanya, takut. “Aku kira gege butuh waktu sendiri, jadi, aku –“

“Huang Zitao, aku sedang lelah! Jangan membantahku!”

Lelah? Halo, Zitao adalah seorang mahasiswa teknik mesin, senioritasnya sangat berat dan praktikumnya juga banyak. Belum lagi tugas dan proyek besar yang datang di ujung semester. Zitao juga lelah, tapi untuk hal ini dia tidak pernah mengeluh pada Yifan yang sudah bekerja. Ditambah, di rumah, Zitao yang mengurus pekerjaan rumah. Dia harus belajar dan mengerjakan tugas sambil mencuci, menyapu, dan memasak.

“Aku minta maaf, Gege. Dinginkan pikiranmu dulu,” balas Zitao dan kembali menghilang di tembok penghalang dapur dan ruang tamu. Dia memang kesal, tapi dia tetap menuju lemari pendingin untuk segelas air dingin yang Yifan minta.

BRAK!

Yifan lagi-lagi mengagetkan Zitao karena tiba-tiba menggebrak meja dan menjambak rambutnya frustasi. Zitao menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali menghampiri Yifan dengan segelas air dingin ditangannya, gemetaran. “Gege, baik-baik saja?”

“Kau masih bertanya?!” Ini ketiga kalinya Yifan mengagetkan Zitao. Dia begitu dekat dengan Yifan karena dia ingin menyerahkan air dingin itu, tapi dia mundur beberapa langkah dan air sudah tumpah sedikit karena Zitao bergerak dan gemetaran. Zitao memang takut dengan Yifan yang sedang marah, tapi kali ini Yifan jauh lebih dingin, jauh lebih menakutkan. Zitao sampai tidak berkedip karena begitu takutnya.

Yifan memperhatikan Zitao, mulai dari raut wajah ketakutannya dan gerakan tangannya yang memegang gelas air sangat erat. Perlahan-lahan Yifan bernapas lebih tenang, dan dia baru sadar apa yang sudah dia lakukan pada Zitao. “Astaga, Tao, maafkan aku!”

“Tao-er, maafkan aku, maafkan gege,” Yifan mengambil gelas yang Tao pegang dan langsung memeluknya. Yifan menggenggam kedua tangan Zitao yang gemetaran dan dingin salah satunya.

Yifan sendiri tidak menyangka hari dimana emosi menguasai pikirannya akan datang, membuatnya membentak orang yang paling dia sayang di dunia ini. Yifan mengeratkan pelukannya mengingat apa yang terjadi. Tidak, bukan ini yang dia maksud. Dia tidak bermaksud berteriak di depan wajah Zitao-nya dan membuatnya ketakutan seperti itu. Yifan merasakan usapan di punggungnya, dia tahu itu Zitao ingin membantu menenangkannya.

Ini pertama kali Yifan menangis di depan Zitao.

Gege, gege, tenang. Ada apa? Ceritakan padaku,” Zitao membawa Yifan untuk duduk di sofa sambil terus mengelus punggung Yifan.

Tangisan Yifan tidak berhenti. Dia hanya terus memeluk Zitao dan terus mengucapkan maaf di pelukannya, tanpa menceritakan masalah apa yang dia punya sampai membuatnya seperti itu. Zitao pikir, Yifan memang seperti ini, dia memang tidak pandai menyampaikan segala beban yang dia punya.

Zitao hanya terus mengelus punggungnya, terus begitu, di hari-hari berikutnya. Sampai usapan di punggung tidak lagi dapat meredakan emosi Yifan.


September, 2012

“Kau terlihat buruk.”

Minseok berkomentar jujur begitu Zitao menjatuhkan badannya ke sofa apartemen Minseok, yang baru kembali dari dapur menyiapkan minum dan snack. Zitao tidak menjawab, hanya menerima gelas yang diberikan Minseok.

Sebenarnya Minseok tidak pernah mengambil air dan semacamnya kalau Zitao berkunjung, tapi kali ini Zitao terlihat lesu, sangat berantakan, Minseok pikir setidaknya dia bisa mengambilkan Zitao segelas jus jeruk dari lemari pendinginnya.

“Jadi, ada apa?” Minseok ikut mendudukkan dirinya di sofa, di sebelah Zitao yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Zitao tidak langsung menjawab setelah Minseok bertanya seperti itu, posisinya masih sama. Dia ragu. “Yifan-ge berlaku kasar padaku,” akhirnya dia menjawabnya, tanpa menatap Minseok secara langsung. Dibalik telapak tangannya itu Zitao menggigit bibirnya ragu dan air mata sudah membasahi wajahnya.

Minseok menghela napas kasar. Kalau boleh jujur, dia sudah bisa menebak. Memangnya, apalagi yang menyebabkan Zitao sulit berjalan? Apa yang membuat Zitao merasa sakit karena sentuhan kecil yang bahkan tidak disengaja? Apa yang membuat Zitao terus merasa sakit di perut dan punggungnya? Juga suara serak berkepanjangannya itu? Zitao tidak jarang absen kuliah, dan Minseok tau alasannya karena keadaan Zitao sudah terlalu buruk untuk keluar dari apartemen. Semua itu pasti karena Yifan, karena Yifan sejak awal tahun. Minseok tidak pernah mengungkit luka-luka dan hal janggal lainnya karena dia tidak enak dengan Zitao, dia menunggunya untuk memulai lebih dulu.

“Dia memukulku. Menamparku. Juga menendangku.”

Minseok tidak menyangka Zitao rela menahan semuanya sendiri selama ini, dia sangat heran. Zitao terlalu mencintai kekasihnya yang bahkan menendang dan memukulnya itu. Tidak habis pikir, kenapa sampai seperti ini?

“Dia sering pulang sambil marah-marah padahal dia tidak mabuk.”

Tidak ada hal lain yang Minseok rasa bisa dia lakukan selain mendengarkan.

“Berteriak tidak jelas mengenai pekerjaannya yang berat, dan melampiaskan stress-nya padaku.”

Perlahan Minseok mendekati Zitao yang membungkuk tanpa melepaskan telapak tangan dari wajahnya. Mengelus punggung Zitao, berharap bisa menenangkannya sedikit.

“Dia merusak barang beberapa kali.”

Setelah Zitao diam beberapa lama dan tidak melanjutkan hal-hal yang dia rasakan, kali ini Minseok yang bersuara. “Apa hanya itu yang dia lakukan padamu?”

Zitao akhirnya mendongak dan menatap Minseok nanar.


March, 2014

Yifan sedang bersiap pergi bekerja sambil menegak kopi paginya seperti pagi-pagi biasa. Zitao juga terlihat sedang bersiap pergi. Yifan memperhatikan itu, dan dia pikir tidak ada yang perlu dilakukan Zitao pagi-pagi buta begini. “Mau kemana? Kau sudah selesai sidang, tidak ada urusan ke kampus.”

Zitao tidak menoleh pada Yifan ataupun berhenti bersiap-siap. “Jangan semaumu. Selesai sidang bukan artinya semua urusanku selesai.” Zitao membalas dengan tidak ramah.

Yifan bangkit berdiri setelah menaruh gelas kopinya di meja makan. “Aku yakin urusanmu di kampus tidak perlu sepagi ini.”

“Memang. Aku mau ke tempat Minseok-ge sebelum ke kampus. Ada beberapa hal yang aku perlukan darinya.”

“Minseok lagi?” Intonasi Yifan meninggi dan dingin. Zitao benci kalau suara Yifan sudah begini. Dia memang takut, ketika pertama kali Yifan seperti itu. Dua kali. Tiga kali.

Sampai Zitao sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

“Lagi?” Zitao menarik napas dalam-dalam sebelum membalikkan badannya dan menghampiri Yifan. “Apa maksudmu dengan lagi?”

Yifan menatap lurus mata Zitao. “Kau terlalu sering mendatangi orang Korea itu. Apa yang kau lakukan bersamanya?”

“Banyak, tapi tidak satupun harus kau khawatirkan.” Zitao memutar bola matanya malas. Dia memang sudah sangat lelah dengan Yifan yang seperti ini, tapi tidak pernah sekalipun dia berpikir untuk melakukan sesuatu dibelakangnya.

Yifan menatap Zitao tajam. Sudah lama dia perhatikan, Zitao tidak pernah memanggilnya dengan gege atau Yifan-ge, bahkan dia tidak ingat kapan terakhir kali Zitao memanggilnya seperti itu. Dia sendiri juga sama, ketika marah, dan sekarang sudah jadi hal yang dia lakukan setiap hari, tidak pernah memanggil Zitao dengan namanya lagi.

Dia mengambil tas kerjanya dan bergegas menuju pintu depan dan memasang sepatunya asal. Tidak berbicara apapun. Zitao bingung, biasanya mereka bertengkar setelah ini, tapi kali ini tidak. Setelah selesai dengan sepatunya, Yifan mengambil kedua kunci rumah yang ada di lemari.

“Kau tidak boleh keluar hari ini.” Yifan akhirnya berbicara sebelum akhirnya menutup pintu kasar dan mengunci dari luar.

“Tunggu, apa?!” Zitao berteriak nyaring dan berlari menuju pintu ketika dia mendengar suara pintu sedang dikunci, berusaha membuka pintu. Dia berlari menuju lemari tempat kunci, tapi kunci miliknya tidak ada. “Wu Yifan buka pintunya!” Zitao menggedor pintu beberapa kali. Tidak ada sahutan dari luar.

Ya Tuhan, jangan bilang dia dikunci di apartemennya sendiri.


April, 2014

Yifan kembali dari rutinitas melelahkan di kantornya, memijat pelipisnya yang semakin hari terasa semakin pening. Dia membuka pintu apartemennya, mendapati ruang tamu gelap gulita. Seharusnya, minimal lampu dapur menyala karena Zitao menyiapkan makan malam. Tapi Yifan tidak melihat makan malam di meja makan.

Apa hari ini Zitao sakit? Tidak mungkin, tadi pagi dia biasa-biasa saja. “Tao!” Tidak biasanya. Seberapapun lelahnya Zitao, dia akan menyambut Yifan. Dia akan memasak. Yifan kesal melihat ruangan gelap seperti ini, dan tambah kesal lagi ketika panggilannya tidak dijawab. Dia sudah siap mengamuk ketika menemukan Zitao yang menurutnya akan terbaring di kamar mereka.

Tapi Zitao tidak ada disana.

“Huang Zitao!” Yifan mencari di setiap sudut apartemen. Dapur, kamar mandi, balkon. Sebagian dari hatinya berharap menemukan Zitao di suatu tempat. Tapi di apartemen ini hanya ada Yifan. Entah ini hanya perasaannya saja atau bukan, barang-barang milik Zitao tidak ada pada tempat biasa.

Kekesalannya sudah mencapai puncak, dengan cepat dia mengambil ponsel dan menghubungi Zitao. Nada sambung terdengar, tapi dia malah mendengar nada dering dari kamar mereka.

Yifan diam saja untuk beberapa detik. Dia dengar, dia dengar nada dering dari kamar. Tapi perlahan, dia berjalan mendekati pintu kamar, membukanya. Melihat satu-satunya cahaya dari layar ponsel di meja belajar milik Zitao. Yifan berjalan cepat mengambil ponsel itu, dia takut. Yifan tidak tau hal apa yang dia takutkan, tapi dia merasa takut.

Ini pertama kalinya Yifan gemetaran, dia berniat mencari tahu kemana anak itu pergi dengan melihat-lihat isi ponsel Zitao. Siapa tau dia sedang pergi dengan seseorang dan percakapan mereka masih tertinggal. Tapi tidak sampai dia membuka aplikasi apapun, Yifan sudah dibuat kaget dengan homescreen yang Zitao pasang.

Foto tulisan tangan Zitao sendiri. Membaca isinya, Yifan melempar ponsel Zitao ke dinding kamar. Berteriak frustasi dan mengacak-ngacak kamar.


Jangan cari aku, aku tidak akan kembali. Selamat tinggal, Wu Yifan.

-Zitao.


September, 2016

Zitao melempar dua bungkus keripik kentang pada Junmian yang seenaknya berbaring di sofa dan mengacak-ngacak tumpukan sprei yang sudah dia lipat. Ditambah, Junmian tidak merasa bersalah sama sekali dan bilang dia yang akan mengaku sudah melakukannya. Tidak bisa begitu! Tetap saja Zitao pasti akan disuruh mengulang pekerjaannya itu kalau Junmian sudah pulang.

Junmian memang sudah menganggap flat milik Luhan ini sebagai rumah keduanya. Kalau dipikir-pikir, sepertinya Junmian lebih sering datang kesini dan menghabiskan waktu dengan mereka, sedangkan rumah milik orang tuanya hanya dia pakai untuk tidur. Dia sudah terlalu sering ribut dengan Zitao, jadi lemparan dua bungkus keripik kentang itu tidak membuatnya marah, justru itu sudah hal bagus.

“Tumben gege kesini sendiri.” Zitao ikut duduk di sofa dan membuka salah satu keripik kentang. Memang selama ini Junmian tidak pernah datang sendiri, biasanya dengan Yixing, atau Luhan, atau Minseok.

“Luhan kan memang sedang kencan dengan Minseok. Yixing sedang ada janji katanya. Lalu dengan siapa sebaiknya aku datang kesini?”

“Dengan pacarmu.”

Junmian melempar bantal sofa tepat ke wajah Zitao, lagi-lagi pembicaraan mereka diisi dengan ejekan. “Terima kasih sudah mengingatkanku kalau aku tidak punya pacar, Zitao.”

Padahal maksud Junmian datang ke flat Luhan dan Zitao untuk mencari hiburan karena dia bosan setelah shift di rumah sakitnya berakhir. Sedangkan Luhan dan Minseok selalu membuang waktu mereka dengan kencan, Yixing sengaja balas dendam padanya dengan meninggalkannya sekarang. Satu-satunya harapan Junmian adalah Zitao.

“Omong-omong, gege bilang Yixing-ge ada janji. Dengan siapa? Laki-laki tampan lagi?”

Junmian menggangguk. “Kau ini bisa baca pikiranku ya,” Dia menyalakan televisi sambil membuka bungkus kripik kentang. “Atau karena memang Yixing sudah terlalu sering ada janji dengan laki-laki tampan?”

Zitao untuk pertama kalinya setuju dengan perkataan Junmian yang satu itu. “Enak ya jadi Yixing-ge, mudah sekali dia mendapat orang tampan.”

“Katanya kali ini adalah yang paling tampan dari yang pernah dia temui.”

Zitao membulatkan matanya. “Lebih dari Luhan-ge?”

Junmian kembali melempar bantal sofa ke wajah Zitao, dan dia tidak mengerti kenapa. “Memangnya Luhan tampan? Aku ini lebih tampan dari Luhan, Zitao, jadi seharusnya ukuran tampan untukmu adalah aku.” Oh, iya benar. Kalau dilihat-lihat memang Luhan itu cantik bukan tampan.

“Tapi selama ini Luhan-ge ada di peringkat teratas daftar laki-laki tampan milik Yixing-ge.”
Baiklah, Luhan lumayan juga. Tapi dua orang yang sedang bergosip ini tidak mau mengakuinya. “Aku belum tau seperti apa laki-laki yang Yixing ceritakan, tapi dari cara dia mendeskripsikannya, kurasa memang benar-benar tampan.”

Zitao mendenguskan napasnya kasar dan itu membuat Junmian melirik kearahnya. “Kalau kali ini Yixing-ge berhasil dengan pendekatannya, tinggal kita berdua saja dong.”

Junmian masih tidak mengerti. “Lalu?”

“Aku tidak mau hanya menghabiskan waktu dengan gege terus-terusan.”

Kalau tau hal itu yang akan dikeluarkan Zitao dari mulutnya, Junmian sudah melempar bantal sofa untuk yang ketiga kalinya. “Ya! Kau seharusnya bersyukur ada teman, daripada kau jadi obat nyamuk sendiri? Lagipula, orang Korea di café tempatmu bekerja itu tertarik padamu ‘kan? Siapa namanya, Sehun?”

“Jangan aneh, ge. Aku dan dia hanya teman karena kami seumuran.” Zitao lagi-lagi mendenguskan nafasnya kasar. “Sehun sudah punya pacar. Orang korea juga, namanya Jong- apalah. Aku tidak hapal nama-nama orang Korea.”

Seharusnya, Junmian mengurus masalah percintaannya sendiri, bukannya sibuk mendaftar orang-orang yang tertarik dengan Zitao. Rasanya sudah beberapa kali dia beritahu Junmian, memangnya Zitao sekarang tertarik memiliki pacar? Mungkin nanti. Dia butuh lebih banyak waktu.


December, 2016

“Yixing benar-benar akan datang dengan pacarnya?” seisi flat Luhan tidak ingat ini sudah keberapa kalinya Minseok mempertanyakan hal yang sama. Mereka semua memang tidak ada yang percaya kalau akhirnya Yixing menetapkan ingin berhubungan dengan seseorang, karena selama ini tidak ada yang memenuhi standarnya.

“Mereka belum berpacaran. Baru tiga-empat bulan kenal, kata Yixing.” Junmian mengklarifikasi. Rupanya Minseok hanya termakan omongan Zitao dan Luhan yang sedang bergosip di ruang tengah sambil menata. Mereka sedang mempersiapkan pesta malam natal kecil-kecilan – ini ide Yixing yang antusias ingin mengenalkan pasangan barunya. Awalnya Zitao menolak berat usulan ini, nanti dia terpaksa berpasangan dengan Junmian karena yang lain sudah ada pasangan. Membayangkannya saja membuat Zitao kesal.

Tapi akhirnya Zitao terpaksa menyetujui setelah ditekan oleh beberapa ahli penjilat yang salah satunya adalah pemilik flat ini.

“Lagipula lihat saja, tidak mungkin Yixing punya pacar.” Minseok terkekeh mendengar ucapan Junmian. Mereka berdua memang sering saling mengutuk. Apalagi kalau sudah menyangkut pacar.

“Pantas saja tadi Yixing bilang akan sedikit terlambat, mungkin dia menjemput-“

TING TONG.

“Aku saja yang buka pintunya.” Junmian yang sedang di dapur menemani Minseok berinisiatif dan langsung disetujui – karena memang dia yang paling lenggang sekarang. Dengan santainya tidak mau membantu Zitao menghias ruang tamu, tidak mau membantu Luhan menghias pohon natal, dan tidak mau membantu Minseok memasak.

Selain itu, semua orang tau itu pasti Yixing dan pasangan kencan barunya yang memencet bel, dan Junmian sudah sangat penasaran ingin tau wajah tampan sempurna yang selama ini selalu diulang-ulang Yixing. Bahkan foto yang Junmian minta tidak diberi, kata Yixing orangnya jauh lebih tampan dibandingkan di foto.

Junmian membuka pintu – dan benar saja.

Memang ini orang paling tampan sedunia, sepertinya. Junmian mengaku kalah. Tapi, rasanya dia pernah melihat wajah ini di suatu tempat?

Yixing menyodorkan bungkusan ayam goreng yang dia beli dalam perjalanan kesini pada Junmian. “Hoy, kau segitu takjubnya melihat orang sempurna seperti dia sampai matamu bulat begitu?”

Sedetik kemudian Junmian langsung melempar cibiran pada Yixing. Dia ini, tidak tau apa yang dipikirkan Junmian tapi asal bicara. “Enak saja. Sudah sana, masuk. Aku kesal kalau sudah bicara denganmu.”

Junmian masuk duluan, diikuti dengan Yixing dan pasangan kencannya. Yang mereka lihat pertama kali di ruang tengah adalah Luhan yang sedikit memberi senyum pada pasangan kencan Yixing, dan membalas tersenyum sambil mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di ruang tengah selain Luhan.

Yang hanya ada Zitao.

Zitao yang berniat tersenyum sambil menyambut tamu mereka tidak jadi tersenyum. Senyum dari pasangan kencan Yixing juga lurus kembali.

“Yifan, ada apa? Ayo masuk!” Yixing langsung menarik rangkulan tangannya pada Yifan.


May, 2014

Sudah satu bulan Zitao pergi dari apartemennya, artinya sudah satu bulan Yifan terus mencari keberadaan Zitao. Yifan tetap memaksakan diri untuk pergi bekerja ditengah pikiran dan hatinya yang berantakan, karena dia tidak ingin menambah beban pikirannya lagi dengan ocehan atasannya kalau dia tiba-tiba bolos.

Yifan sudah mendatangi apartemen Minseok – kemungkinan terbesar dimana Zitao akan berada kalau dia masih di Beijing. Tapi, meskipun Yifan sudah mendobrak pintu apartemen Minseok, sudah menghajar orang Korea itu dengan penuh amarah dan tuduhan yang berdasarkan emosi, bahkan sampai Yifan memaksa untuk menggeledah apartemen Minseok dengan kedua matanya sendiri; Zitao tidak ada disana.

Tidak hanya Minseok, Yifan sudah mencari ke semua tempat kenalan Zitao yang dia tahu, tapi tidak satupun tau dimana Zitao.

Yifan menatap nanar ponsel retak yang pernah dia banting. Apa Zitao sengaja meninggalkan ponsel ini supaya Yifan tidak bisa menghubunginya?

Kau sangat ingin pergi dariku, Tao?

“Apa aku sudah menyakitimu begitu banyak?” Yifan tertawa miris, dia sangat bodoh. Apa dia masih perlu bertanya, padahal sudah jelas dia sangat menyakiti Zitao-nya?

Yifan meletakkan kembali ponsel milik Zitao di meja belajar, yang setelah dia sadari sudah benar-benar kosong. Semua keperluan kuliahnya tidak ada lagi disana. Yifan beralih pada ponsel miliknya sendiri, mencari kontak seseorang.

Menghubungi orang tua Zitao adalah pilihan terakhirnya, karena dia tidak ingin mereka mengetahui masalah antara dia dan Zitao. Tapi kelihatannya, sudah tidak ada pilihan lagi. Lagipula, kalau Zitao tidak ada lagi di Beijing, mungkin dia menetap bersama orang tuanya di Seoul?

Hanya itu yang bisa dia pikirkan selama ini. Sejujurnya, dia sangat berharap Zitao masih ada di Beijing jadi dia menahan dirinya untuk menghubungi orang tua Zitao. Ditambah, ini sudah sangat lama, dia terlalu takut bicara dengan mereka. Takut mendengar kata-kata benci. Orang tua mana yang tidak membela anaknya yang mengalami kekerasan? Tapi hari ini Yifan membulatkan tekadnya.

Dia tidak peduli, yang terpenting dia harus bicara dengan Zitao.

Wei,” suara perempuan paruh baya menyambut pendengaran Yifan.

Yifan menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab. “Wei.” Yifan melontarkan beberapa pertanyaan basa-basi, dan memberitahu bahwa ini Yifan yang meneleponnya.

“Jadi, ma. Tao-er ada dimana?” Yifan tidak sabar untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan ini.

Tidak ada balasan dari seberang untuk beberapa detik. “Maaf, Yifan-a. Sebelumnya Zitao sudah menghubungiku dan memintaku untuk tidak berkata apapun tentang keberadannya.”

Hati Yifan mencelos. Kali ini dia yang terdiam. Dia tidak menyangka, harapan terakhirnya mengetahui dimana Zitao berada lewat begitu saja di depan matanya. Zitao menyiapkan semuanya dengan sangat baik supaya Yifan tidak bisa menemuinya. Yifan tidak tahu harus bagaimana lagi.

Apa kalian bertengkar?”

Yifan kembali mencelos. Kalau mama sampai bertanya, apa Zitao tidak bercerita soal dirinya yang dijadikan pelampiasan oleh Yifan?

Zitao hanya meminta untuk tidak berkata apapun mengenai keberadaannya padamu, tapi tidak menceritakan apa yang terjadi.”

“Iya, ma. Kami bertengkar hebat.” Yifan akhirnya menjawab pertanyaan itu. Dia tersenyum miris lagi, tidak tau sudah berapa kali rasanya dia ingin membunuh diri sendiri karena tingkah bodohnya.

Benarkah? Apa Zitao menjadi anak nakal? Apa dia tidak mendengarkan kata-katamu? Apa Zitao– “

Yifan menggeleng disetiap kalimat yang dilontarkan, meskipun gelengannya itu tidak tersampaikan ke Seoul. “Tao-er tidak berbuat salah sedikitpun.” Kedua matanya mulai basah, dia mulai menangis lagi. “Justru aku–“ Dia buru-buru menghapus air matanya yang jatuh dengan kasar dan mengambil napas sekali lagi. “A-aku yang… K-karena aku- Tao–“ Yifan menyerah. Isakannya pasti terdengar.

Ssh, Yifan-a. Tenanglah.” Mama memang pernah mendengar dari anaknya kalau Yifan itu lelaki rapuh yang bisa menangis, tapi dia sama sekali tidak percaya. Dia hapal betul kebiasaan anaknya yang suka melebih-lebihkan banyak hal, apalagi Yifan punya kesan dingin, tegas, dan postur tubuhnya menyakinkan itu semua. Karena itu, dia benar-benar kaget dan merasa kasihan mendengar tangisan Yifan.

“Maafkan aku, ma. Aku sudah menyakiti Tao.” Yifan menjambak rambutnya frustasi, masih terisak. “Aku menyakitinya terlalu banyak sampai dia pergi dari apartemen.”

“Aku tidak berhak menemuinya lagi, Tapi a-aku, sangat ingin melihat wajahnya sekali lagi.”

Yifan-a.”

Panggilan dari seberang telepon membuat Yifan benar-benar gugup. Dia sudah sangat menyiapkan hati untuk menerima kebencian dari keluarga Zitao, tapi dia tidak tau itu adalah hari ini.

Kalau memang benar kau menyakiti anakku, tentu saja sebagai mama aku merasa sangat marah.”

Yifan tidak membantah. Memang, memang benar. Dia menyakiti Zitao disaat Zitao berusaha sangat keras untuk bertahan dengannya. Dengan semua kekerasan yang dia berikan. Bertahun-tahun.

Tapi aku juga mengenalmu. Aku memperhatikan setiap kau berkunjung ke rumah, juga dari cerita-cerita Zitao dulu. Aku mempercayakan Zitao padamu, karena aku juga percaya pada Yifan. Apa ada sesuatu yang membuatmu menyakiti anakku?”

Kenapa, kenapa dia mendengar hal seperti ini dari orang yang dia pikir adalah orang pertama yang akan membencinya? “Kenapa aku terdengar sangat baik dalam pandangan mama?”

“Karena aku yakin anakku mencintai orang baik-baik. Yifan-a, aku tau kau sangat menyayangi Zitao.”

Yifan kembali menangis. Dia sudah berubah. Dia tidak seperti dulu lagi. Dia terlalu sibuk mencoba menahan isakannya sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Dengar, Yifan-a. Kalau kau masih ingin mempertahankan dia, cari anakku. Jelaskan padanya. Bagaimana selanjutnya adalah kesepakatan kalian.”

Yifan tidak tau lagi bagaimana dia harus menanggapi Mama Zitao. Yifan bersumpah, dia adalah orang paling jahat di dunia ini karena sudah melukai keluarga yang sudah sangat baik padanya. “Terima kasih banyak, ma. Aku akan berusaha mendapatkannya kembali.”


December, 2016

Daripada harus menghadiri pesta natal bersama orang-orang yang tidak dikenalnya, Yifan sebenarnya lebih ingin menghabiskan malam natal bersama Jongdae di rumah. Membuat kue jahe kering bersama terdengar lebih ceria. Tapi Jongdae memohon-mohon untuk menghabiskan malam natalnya bersama teman-temannya. Yifan tidak bisa menolak, karena bagaimana lagi, ini malam natal. Jongdae berhak menghabiskan malam natal bersama orang lain selain Yifan.

Akhirnya, dia menerima tawaran pesta Yixing.

Yixing adalah laki-laki yang dia temui belum lama ini. Perusahaan tempatnya bekerja menjalin hubungan dengan perusahan tempat Yixing bekerja. Jadi mereka bisa berinteraksi seputar pekerjaan, yang berubah jadi percakapan kecil. Yixing lebih muda satu tahun darinya. Obrolan mereka mirip. Tidak ada alasan untuk tidak dekat dengannya.

Tapi ada hal lain yang membuat Yifan mau tidak mau menerima kehadiran Yixing disaat dia masih membangun tembok yang tebal antara dirinya dan semua orang. Yixing lumayan periang. Cerewet. Badannya lebih kecil darinya. Ceroboh. Laki-laki tapi wajahnya cantik. Sejujurnya, Yifan sangat merindukan sifat seperti itu. Mungkin dia butuh.

Tentu saja, Yifan tidak mengira Yixing membawanya pada satu-satunya hal yang paling dia cari selama dua tahun.

Apa benar orang yang dia lihat sedang memasang hiasan ini Zitao? Huang Zitao?

“Huang Zitao!” Yifan tidak bisa menahan perasaannya sama sekali. Dia sangat ingin memeluknya. Dia sangat ingin menangis di pelukannya. Tapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat senyuman Zitao hilang begitu menatapnya.

“Yifan? Zitao?” Yixing menatap mereka bergantian, dengan raut wajah heran.

Zitao lebih dulu bergerak dari posisi membatu miliknya. Menaruh hiasan yang dia pegang ke sofa dan menghela napas berat. “Ah, aku harus membantu Minseok-ge memasak.”

Tidak, dia tidak akan membiarkan Zitao pergi lagi dari hadapannya. Yifan menahan tangan Zitao dan menggenggamnya erat. Dan Yifan sadar, dia lihat dengan jelas, raut wajah ketakutan Zitao terlihat kembali. Yifan melonggarkan genggaman tangannya.

“Tao.”

“Yifan, kau mengenal Zitao? Kalian saling kenal?” Yixing masih menatap keduanya bergantian. “Ya ampun, Zitao, aku tidak menyangka kau punya teman setampan ini tapi tidak pernah bilang d–“

“Tao-er, ayo pulang!”

Yifan tidak tahan lagi. Terapi yang dia jalani selama setahun terakhir tidak dapat menahan perasaannya pada Zitao. Dia sangat ingin memberitahu Zitao-nya kalau dia ingin menjelaskan semuanya, dan hanya kalimat itu yang bisa dia keluarkan. Jangankan Zitao dan Yixing, Yifan sendiri kaget dengan ucapannya sendiri.

Selama dua tahun, Yifan tidak hanya kalut mencari Zitao. Dia juga merenungkan segala perbuatannya, perbuatan bodoh yang sampai kapanpun tidak akan termaafkan. Rasa bersalahnya ini membuat lubang besar di hati. Dia tahu, dia tidak pantas merasa sedih dan sakit, karena Zitao sudah jelas yang paling sedih dan yang paling tersakiti disini. Zitao bebas memutuskan untuk pergi darinya dan memiliki hidup bahagia. Tapi keegoisannya ingin bertemu dengan Zitao.

Ketika sekarang dia sudah bertemu dengan Zitao, dengan bodohnya dia tidak langsung minta maaf.

Yifan terlalu merindukan Zitao. Terlalu menginginkannya kembali. Zitao adalah satu-satunya di hati dan hidupnya, walaupun dia sudah menjalani terapi bagaimana caranya menghilangkan rasa sakitnya, tapi inilah terapi yang paling dibutuhkannya. Bertemu kembali dengan Zitao-nya.

Zitao berusaha kuat untuk melepaskan genggaman Yifan. Sungguh, genggaman itu dia terima hampir setiap hari dulu, mengunci pergerakannya dan membiarkan Yifan melakukan apapun dan melukai fisiknya.

“Yifan, lepas! Kau pikir aku mau merasakan semua itu lagi?”

Yixing menyadari ada yang aneh dari keduanya, tapi dia diam saja sambil berusaha memahami situasi.

Gege mencarimu selama ini. Tao-er, aku sudah bekerja di tempat baru. Tidak ada yang menekanku lagi. Aku bekerja di tempat yang layak, rekanku juga orang-orang baik. Tidak ada lagi yang membicarakanku di belakang. Atasanku juga sudah tidak pernah–“

“Wu Yifan?!” kali ini Minseok yang datang dari dapur menginterupsi perkataan Yifan. Minseok melangkah cepat menghampiri mereka berdua dan melepaskan genggaman Yifan kasar, mendorong Zitao kesamping, sehingga sekarang dia yang berhadapan dengan Yifan. “Ada apa kau kesini?”

Yifan sama sekali tidak peduli dengan kehadian Minseok – Yifan mengalihkan pandangannya kesamping dimana ada Zitao yang menunduk, dan bergetar takut. Dia selalu membuat Zitao bergetar takut seperti itu, dan sekarang, untuk pertama kalinya bertemu setelah dua tahun, dia mengulanginya lagi.

“Tao-er, aku minta maaf. Maafkan gege, Maafkan gege. Tapi, sekarang aku pindah ke tempat baru. Aku menyewa apartemen yang lebih bagus dari yang kita tinggali dulu. Percaya, tidak? Gege juga–“

“Wu Yifan, aku tanya, kenapa kau ada disini?!”

Yifan menghentikannya. Dia– dia hanya ingin menceritakan semua yang sudah terjadi selama dua tahun terakhir ini pada orang yang paling dia cari. Yifan pikir, setidaknya dia sudah meminta maaf. Dia sudah tau dimana Zitao tinggal selama ini.

“Maaf sudah mengganggu pesta kalian.” Kali ini Yifan menatap semua orang yang ada diruangan itu. “Aku harus pergi.”

Tanpa membiarkan satu orang pun membalas perkataannya, Yifan berbalik dan pergi. Dia punya urusan mendadak, menenangkan dirinya di rumah.

“Yixing, apa dia laki-laki tampan yang kau ceritakan itu?” Minseok bertanya ditengah-tengah keadaan canggung yang baru saja lewat di depan mata mereka, setelah Yifan menghilang dibalik pintu.

Yixing mengangguk. “Iya, itu dia.”

“Jauhi dia. Yifan itu brengsek.” Minseok berdecih kemudian melihat Zitao yang masih bergetar dan menunduk. Dia tidak tau apa yang dipikirkan Zitao sekarang.

Yixing menatap Zitao prihatin, sekaligus kecewa. Bukan, dia tidak kecewa pada Zitao, tapi pada Yifan. Junmian yang melihat semuanya daritadi berusaha meringankan suasana dengan mengajak Yixing dan Luhan untuk masuk ke dapur, menyuruh Minseok dan Zitao untuk menyusul.

Sementara itu, Minseok hanya berdiri dan memperhatikan Zitao.

“Minseok-ge.” Akhirnya Zitao mengangkat kepalanya.

“Hm?”

“Dia baru pertama kali mengatakannya.”

Minseok kembali berdecih dan memutar bola matanya. “Mengatakan apa? Maaf? Terlambat. Jangan pikirkan dia, Tao. Sudah, ayo kita bersenang-senang. Yixing membawa ayam goreng yang banyak.”

Zitao menolak ajakan tangan Minseok, menepisnya dan diam di tempat yang sama. “Dia baru pertama kali menjelaskan pekerjaannya! Dulu, dia hanya terus mengulang pekerjaan berat, pekerjaan berat, tapi tidak pernah memberitahuku secara spesifik apa yang berat.”

Minseok menoleh dan menatap Zitao yang wajahnya sudah basah air mata. “Memang kenapa Yifan dan pekerjaannya dulu?”


Sementara Zitao dan Minseok bicara di ruang tengah, Junmian dan yang lain menata makan malam di meja. Tapi isi kepalanya tidak bisa diam, dia sekarang sudah ingat dimana dia pernah melihat wajah pasangan kencan Yixing.

“Jadi yang tadi itu, namanya Wu Yifan.” Luhan membuka percakapan ruang makan. Dia harus bertanya beberapa hal pada Minseok nanti.

Yixing mengeluarkan ayam goreng yang dia bawa ke piring makan. “Memang Wu Yifan. Kau mengenalnya? Jangan-jangan kau juga, Junmian?” Yixing bingung, kenapa tiba-tiba semua orang kenal dengan Wu Yifan?

Junmian kembali dari kompor sambil membawa satu loyang kue kering. “Tidak juga. Tapi karena wajah tampannya itu, dia sempat jadi bahan omongan perawat rumah sakit tahun lalu.” Walaupun Junmian tidak berurusan langsung dengan Yifan yang dibicarakan itu, tapi seisi rumah sakit membicarakan dia.

“Dia pernah sakit?!” Tidak tau sejak kapan, Zitao dan Minseok sudah bergabung dengan mereka di ruang makan. Zitao bertanya dengan nada tinggi.

Junmian menatap Zitao heran. “Aku tidak tau detailnya, tapi kata perawat di rumah sakit dia pasien tetap poli-psikologi sebelum dipindahkan ke klinik khusus gangguan mental.” 

Kenapa Zitao ingin mengetahuinya? “Kau juga mengenal Wu Yifan?”

Zitao tidak menatap langsung mata Junmian dan malah mengambil satu potong ayam goreng. “Apa yang membuatnya mendatangi rumah sakit? Menyembuhkan sifat sadistiknya itu? Ha!” Terdengar seperti Zitao sengaja membiarkan semua orang mendengar ucapannya itu. Minseok hanya mendesah putus asa.

Luhan yang merasa suasana flatnya malah semakin berat hanya bisa menarik satu kesimpulan. Dia menarik Minseok menjauh dari ruang makan. “Apa Wu Yifan itu mantan pacar Zitao yang membuatmu memaksamu menampung Zitao dulu?” Luhan berbisik.

“Jangan bertanya sekarang.”


December, 2016

Hari ini Yifan keluar karena Yixing memintanya. Sejak malam natal itu, Yifan tidak pergi dari apartemennya sama sekali. Dia benar-benar harus merenungkan semuanya dari awal lagi. Dia sudah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Zitao, tapi permintaan maaf dia ucapkan terakhir. Apa-apaan itu?

Satu-satunya alasan Yifan menerima ajakan Yixing ke sebuah café, adalah karena Yixing berjanji hal-hal yang ingin dikatakannya berkaitan dengan Zitao.

Begitu memasuki café, Yixing melambaikan tangannya pada Yifan. Memasang senyum canggung, karena pertemuan terakhir mereka tidak berjalan menyenangkan.

Yifan mengawali percakapan dengan basa basi dan diselingi memesan dua Americano.

“Kau benar mantan pacar Zitao?” Yixing juga tidak tahan untuk bertanya soal ini sejak kemarin-kemarin. Sebenarnya sudah terlihat dari situasi, tapi dia hanya ingin menyakinkan semuanya.

Yifan mengangguk. “Apa dia pernah bercerita sesuatu tentangku?” Tapi, apa iya dia mantan kekasih Zitao? Seingatnya, mereka tidak pernah mengakhiri hubungan?

“Zitao selalu menghindar kalau kami bertanya tentang percintaanya. Dia tidak pernah cerita apa-apa.”

Yifan tertawa miris. Tentu saja, kisah cinta yang dia jalani dengan Yifan bukan hal yang indah. “Mungkin dia trauma jadi tidak mau membahasnya.”

Yixing sendiri terkejut mendengarnya. Jadi benar ada sesuatu dengan mereka berdua?
“Aku berbuat buruk, sangat buruk padanya. Kurasa terlihat dari bagaimana dia melihatku waktu itu, ‘kan?”

Benar. Yixing, dan yang lainnya yang ada di ruang tamu waktu itu juga pasti melihat dengan jelas bagaimana Zitao gemetaran melihat Yifan, dan tambah gemetaran lagi ketika Yifan menahan tangannya. “Aku pernah melihat bekas luka pada tubuh Zitao.” Bukan, bukan pernah. Dia selalu melihat bekas luka. “Banyak, dan lukanya parah. Itu perbuatanmu?”

Yixing menatap lawan bicaranya ragu. Dia tau, ini bahan pembicaraan yang sensitif, tapi hanya Yifan yang bisa dia tanya karena tidak mungkin bertanya pada Zitao.

“…Iya.”

Tanpa sadar Yixing bernapas lebih cepat dan menahan napasnya. Menutup mulutnya yang terkejut dengan kedua telapak tangannya. “Apa Zitao melakukan sesuatu yang buruk sampai kau harus menghukumnya?”

“Tidak, sama sekali tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Aku memang orang bodoh yang melampiaskan kekesalanku pada orang yang aku cintai.”

Sekarang Yixing tau kenapa Zitao selalu menolak membahas kisah cintanya. Kenapa Zitao menolak kontak fisik dengan siapapun. Kenapa Zitao selalu mengenakan baju lengan panjang. Kenapa Zitao terlihat kesakitan setiap hari. Jawabannya karena Wu Yifan. Dia tidak tau harus merasa lega atau bagaimana akhirnya mengetahui penyebab semua keanehan Huang Zitao, yang sekarang sudah jadi teman terdekatnya.

Benci, Yixing merasa benci sekali pada orang di hadapannya ini. Dia ingin melakukan sesuatu, ingin balas memukul Yifan, melakukan apapun yang tidak sempat Zitao lakukan pada Yifan. “Apa kau masih menginginkan Zitao?”

Yifan menatap Yixing sendu. “Sangat.” Detik berikutnya Yifan kembali menunduk. “Aku sangat ingin bicara dengannya, menjelaskan semuanya, memintanya– “

“Aku bisa membantu mencarikan waktu.” Memang Yixing sangat ingin, tapi biarkan Zitao sendiri yang melakukannya. Wu Yifan yang dihadapannya sekarang adalah orang yang membuatnya tertarik akhir-akhir ini, walaupun semua ketertarikannya sudah hilang karena perlakuan buruknya pada Zitao. Setidaknya, Yixing pikir dia ingin melindungi Zitao walaupun itu artinya mempertemukannya lagi dengan ketakutannya.

“Benarkah?!” Yifan sampai berdiri dari kursinya.

Mungkin benar kata Junmian, mereka berdua perlu bicara sekali lagi. Yifan memang harus menjelaskan semuanya pada Zitao.


January, 2017

Jantungnya hampir berhenti berdetak begitu melihat Wu Yifan berdiri di depan flat Luhan yang dia tinggali ini. Dia berpikir cepat antara menunggu, bolos kerja, atau mungkin dia bisa berlari cepat menuju lift. Zitao menyesal sudah menyanggupi permintaan Sehun untuk berganti shift dengannya, jadi tidak mungkin dia mendadak membatalkannya.

Mau tidak mau dia harus pakai pilihan ketiga. Setelah mengira-ngira jarak antara pintu flat dan lift, Zitao langsung berlari melewati Yifan yang kaget dengan gerakan tiba-tiba di depan matanya. “Tao!”

Tentu saja, Zitao tidak sedikitpun berpikir untuk berhenti.

“Tao-er!” dia berusaha berlari dan juga mengejar Zitao. Sebenarnya dengan jarak sedekat ini, dia bisa menahan tangan Zitao dan membuatnya berhenti. Tapi, tidak. Dia tidak akan menahan gerakan Zitao lagi. Dia harus menahan dirinya.

Yifan berlari mengikuti Zitao yang masuk kedalam lift dan berkali-kali memencet tombol tutup, tapi ketika pintu setengah tertutup, Yifan memasuki lift.

Sekarang Zitao terjebak didalam lift yang akan turun 20 lantai.

“Tao-er.”

“Kau mau apa?” Zitao tidak berniat memiliki percakapan yang santai dengan Yifan. Melihat matanya saja tidak. Dia hanya memandang lurus pada pintu lift.

“Pertama, aku mau minta maaf.”

Iya, itu sudah dia sampaikan waktu itu, pikir Zitao. Zitao tidak butuh permintaan maaf berkali-kali. “Sebanyak apapun kau meminta maaf padaku, tidak ada yang bisa membuat bekas lukaku hilang.” Zitao bukan lagi Zitao cengeng dan manja yang tinggal bersama Yifan. Dia juga sudah berubah, bukan cuma Yifan saja.

Yifan tau itu. Dia bisa lihat dengan jelas luka-luka yang dia berikan di leher Zitao yang tidak 
tertutup apapun. Yifan ingat dimana saja dia pernah melukai Zitao.

“Lalu aku harus bagaimana?”

Ekspresi yang dibuat Zitao tidak berubah sama sekali. “Kau sudah melakukannya dengan baik selama dua tahun.”

Yifan membeku. Jadi, Zitao ingin dia pergi? “Apa selama ini kau bahagia?”

“Menjauh dariku.”

“Kalau memang merasa bahagia tanpaku, Gege akan menjauh. Tapi, aku hanya ingin memperbaiki semuanya, Tao-er.”

Zitao diam saja. Matanya melihat keatas, melihat layar yang menunjukkan lantai. Dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari sini.

“Tao–“

“Lain kali kita bicara lagi.”

Begitu pintu lift terbuka Zitao langsung melesat keluar tanpa melihat Yifan sama sekali. Sebenarnya Yifan sangat sedih melihat Zitao-nya seperti itu. Tapi dia mengerti, dia pantas mendapatkannya. Tidak mungkin semua berjalan sesuai dengan keinginannya. Yifan tau, tidak akan semudah itu membuat Zitao mengerti tentang rasa bersalahnya.

“Tao-er, kau tidak menjawab pertanyaanku.”


January, 2017

“Junmian-ge?” Zitao menyapa Junmian dengan ragu. Ini jam 10 malam, Zitao jadi terbangun dari tidurnya karena suara bel. Terlihat Junmian datang dengan seragam dokternya. Apa Junmian datang langsung kesini setelah shift malamnya berakhir? Wah.

Junmian tidak membalas apapun dan hanya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Zitao.

Zitao mengernyit bingung. “Apa ini, ge?”

“Salinan laporan pasien atas nama Wu Yifan.” Zitao yang tadinya membalik-balikkan lembar kertas itu membeku. “Ini dilarang, aku bisa kena sanksi kalau ketahuan. Tapi kurasa kau perlu melihatnya.”

Junmian bukannya ingin ikut campur, atau apalah. Awalnya dia penasaran tentang Wu Yifan, yang menarik perhatian semua orang di rumah sakit karena wajahnya. Dan sekarang, pasien rumah sakitnya adalah mantan kekasih teman terdekatnya. Ditambah, dari penjelasan Yixing beberapa hari lalu, Wu Yifan adalah penyebab utama hal-hal aneh dari Zitao.

Akhirnya tadi ketika ada waktu senggang, Junmian mencari salinan milik Wu Yifan, sekaligus memuaskan rasa ingin tahunya dan memutuskan untuk membiarkan Zitao tahu penyebab Yifan rutin datang dua kali seminggu ke rumah sakit.

“Sudah, ya. Aku masih ada shift. Sampaikan salamku pada Luhan!” Junmian pergi tanpa diantar Zitao sampai pintu depan karena Zitao sudah disibukkan dengan lembaran fakta tentang Yifan yang tidak dia ketahui.


July, 2011

Awalnya, pandangan bekerja masih sesuai dengan ekspektasi Yifan. Laporan yang menumpuk, refisi, proposal perusahaan, kerja lembur, atasan yang menyebalkan, rekan-rekan kurang menyenangkan. Semuanya sesuai dengan ekspektasinya. Beruntung sekali Yifan memiliki seseorang seperti Zitao yang tidak pernah lupa membuatkan bekal untuknya, Yifan bisa menjalani setiap hari yang melelahkan itu dengan semangat.

Perlahan-lahan segala hal yang buruk di tempat kerjanya semakin bertambah. Deadline dimajukan dengan alasan tidak jelas, dan kertas-kertas laporan yang perlu dikerjakannya juga semakin banyak. Saat Yifan gagal menyelesaikannya tepat waktu, atasannya berteriak tidak manuasiawi terhadapnya sekaligus menyindir latar belakang pengalaman bekerjanya yang nol besar.

Ditambah, dia adalah yang paling muda di tempatnya bekerja. Orang-orang memandangnya sebelah mata dan mulai memandang rendah dirinya. Menganggap Yifan pantas disuruh-suruh. Menganggap Yifan pantas ditumpahkan pekerjaan sementara mereka semua ikut memarahi Yifan ketika Yifan gagal menyelesaikannya.

Yifan merasa semua itu masih tidak apa-apa. Dia mengerti kenapa diperlakukan seperti itu. Dia hanya perlu bekerja lebih keras sedikit lagi, maka perlahan dia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang mereka lihat.

Tapi hari yang Yifan inginkan tidak datang juga. Kenyataannya, keadaan malah bertambah semakin buruk.

Yifan itu punya wajah tampan yang diakui siapapun. Badannya tinggi, tegap, tapi dibalik setelan jas yang rapih, Yifan terlihat ramping. Memiliki fisik seperti itu bukan hal menguntungkan baginya.

Tidak sekali dua kali dia merasakan tepukan dibagian-bagian pribadinya. Tidak sekali dua kali dia mendapat rayuan dan godaan dari rekan-rekan kerjanya. Yifan berusaha keras menyakinkan dirinya bahwa itu semua hal tidak disengaja, itu semua hanya candaan mereka. Tapi lama-kelamaan hal itu membuatnya risih. Dia merasa tidak nyaman.


October, 2011

Yifan lelah. Lelah dengan pekerjaannya. Lelah dengan rekan-rekan yang tidak berhenti meremehkannya. Lelah dengan revisi. Lelah dengan semuanya. Dia baru duduk setelah selesai mengumpulkan revisi laporan yang dia buat, atasannya kembali memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangan.

“Kau tahu kesalahanmu, Wu Yifan?” Yifan masih di depan pintu, masih menutupnya, tapi sudah disambut pertanyaan tidak menyenangkan.

“Saya tidak tahu.”

Atasannya tertawa sinis. “Tidak tahu, katamu?” Lalu mengangkat berkas laporan yang beberapa menit lalu Yifan antar. “Berapa kali lagi kau harus merevisi laporan ini? Masih tidak becus mengerjakannya?” Berkas itu dilempar ke lantai.

“Maafkan saya. Saya akan memperbaikinya.”

“Ini sudah kali keempatmu memperbaiki laporan itu! Hasilnya? Masih kacau!”

Yifan berdecih. Dia tahu laporannya itu tidak benar-benar salah. Tidak mungkin atasan sialannya bisa membaca 40 halaman penuh tulisan dalam waktu beberapa menit. Dia hanya sengaja mencari-cari alasan agar terkesan superior, apalagi pada karyawan seperti Yifan.

“Memang kau tidak punya pengalaman bekerja, tidak bisa diandalkan.”

Kepalan tangannya memerah, sekuat tenaga menahan amarah. Lagi-lagi membawa latar belakang pengalaman bekerjanya.

Yifan sibuk menunduk hingga tidak melihat atasannya mengangkat gelas berisi air yang baru saja membasahi pakaian dan rambutnya. Laki-laki tua sialan itu sengaja menyiramnya dengan air minum. Yifan menghela napas berat menahan emosinya mati-matian.

Sabar, Yifan. Bertahanlah. Ber-

Strip.

Yifan mengernyit. Barusan atasannya mengatakan sesuatu? “Maaf?”

“Wu Yifan, kau tidak pernah belajar bahasa inggris? Strip. Lepas pakaianmu.”
Matanya mengerjap beberapa kali. “Kenapa saya harus melakukannya?”

“Untuk menghukummu, kalau tidak begini kau tidak akan jera. Lagipula pakaianmu basah.”
Yifan sudah sangat siap menghajar atasan sialan ini tepat di wajah. Menghukum supaya dia jera? Ha! Dia yakin, yakin sekali dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia merevisi laporannya empat kali juga sudah sadar, laporan itu tidak ada yang perlu diperbaiki. Hanya seolah-olah dia melakukan kesalahan banyak, karyawan tidak berpengalaman yang perlu dididik. Yifan ingin sekali menendang kepala botak atasannya itu–

“Kalau tidak mau, kau bisa meninggalkan tempat ini dan tidak perlu kembali lagi. Ada banyak orang berpengalaman di luar sana yang bisa menggantikan tempatmu.”

Sayangnya, Yifan tidak punya banyak pilihan.

Aku melakukan ini untuk Zitao. Untuk Zitao dirumah.


January, 2017

Zitao mendengus kasar begitu menemukan Yifan lagi-lagi ada diluar flat. Ini sudah kali kelima dalam seminggu, apa Yifan tidak ada pekerjaan?

Diluar turun salju, juga ini sudah malam, Zitao saja mengenakan pakaian hangat ditambah sepasang sarung tangan, tapi Yifan – yang sepertinya sudah daritadi ada di depan, tidak mengenakan baju hangat sama sekali.

“Tao-er! Tolong, bicara denganku sebentar,” Yifan kembali mendesah kecewa begitu Zitao menutup pintu flat. Dia yakin sekali Zitao akan pergi bekerja, tapi ternyata dia lebih memilih bolos daripada harus berurusan dengan Yifan.

“Untukmu.” Zitao membuka pintu flat dengan segelas kopi. Yifan yang sedang menunduk mendongakkan kepalanya, meyakinkan dirinya bahwa ini Zitao yang memberinya kopi. “Mau tidak? Hanya sisa segini saja.”

Yifan mengambil gelas kopi itu cepat, juga tersenyum. “Terima kasih.”

“Ini masih bulan Januari, kau tidak kedinginan di luar?”

“Tidak.” Yifan tertawa. “Apalagi setelah diberi kopi olehmu. Gege merasa hangat.” Nyatanya, memang benar seperti itu. Yifan merasa hangat. Bukan, bukan karena kopi yang diberikan, sebenarnya. Lebih tepatnya, hatinya yang merasa hangat. Zitao-nya memulai pembicaraan lebih dulu. Yifan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Bahkan kalimat-kalimat penjelasan yang dia susun sudah menguap tidak tau kemana.

“Tidak lelah menungguku? Aku bukan pekerja kantoran yang punya jadwal pasti, kau tahu?”

Yifan mengangguk. “Tapi aku tahu jadwal kerjamu. Yixing memberitahuku.”

Zitao mengumpat dalam hati. “Kau sendiri, memangnya tidak bekerja?”

“Tempat kerjaku yang baru pulangnya lebih cepat.”

Ah, iya. Zitao lupa Yifan pernah bilang dia sudah pindah tempat bekerja. “Benar, kau bekerja di tempat yang baru.”

“Syukurlah.”

Alis Yifan terangkat mendengar tanggapan Zitao. Apanya yang syukurlah?

“Yifan-ge, mau masuk ke dalam?”

Tidak tau ekspresi seperti apa lagi yang harus dipasang Yifan. Dia juga tidak tau harus menjawab apa. Ingin, sangat ingin. Bahkan dia sangat ingin bicara dan melakukan apapun dengan Zitao. “Itu…”

Tanpa menunggu jawaban dari Yifan, Zitao membuka pintunya lebih lebar dan bergeser supaya Yifan bisa masuk. Untuk beberapa detik, dia masih tetap bertahan diluar. Rasanya otaknya berhenti bekerja. Tapi akhirnya dia memberanikan dirinya untuk masuk kedalam, duduk di sofa ruang tengah.

“Depresi berat psikotik yang berujung pada self-harm.

Kalimat yang dikeluarkan Zitao begitu dia duduk membuat Yifan membulatkan kedua matanya.

“Temanku bekerja di rumah sakit tempatmu sempat berkonsultasi.” Zitao menatap Yifan serius. “Aku sudah tau, gege.”

“Itu…”

“Depresi karena lingkungan kerjamu, dan kepergianku memperburuk keadaanmu.”

Yifan tidak tau harus merasa bersyukur atau takut atau apa mengetahui Zitao menyadari keadaannya. Tapi, sisi baiknya dia tidak perlu menjelaskan apapun. Sejujurnya dia tidak ingin Zitao tau. Dia tidak ingin Zitao tau kehidupan seperti apa yang dia jalani tanpanya.

“Maafkan aku.”

Tunggu, bukan itu yang harusnya dikatakan Zitao! “Kenapa- kenapa malah minta maaf? Ah,”  Yifan bingung, menyusun kata-kata yang baik. Bukan ini yang dia inginkan, Zitao tidak salah sama sekali. Meninggalkan Yifan yang melukainya bukan suatu kesalahan. “Begini, Tao­-er. Tidak peduli apa yang membuatku depresi, tetap aku yang salah. Sudah melampiaskan semuanya padamu.” Bahkan sekarang, rasanya Yifan sangat ingin menangis di pelukan Zitao. Dia hanya tidak ingin melukainya lagi.

“Yifan, apa yang membuatmu depresi? Maksudku, kenapa kau sampai depresi begitu berat?”

Dokter terapinya mengajarkan Yifan mencari jawaban untuk pertanyaan itu. Awalnya, dia sendiri berpikir keras apa yang membuatnya menyakiti satu-satunya orang yang bertahan disisinya, satu-satunya orang yang dia cintai.

“Karena aku memendamnya.” Tapi sekarang dia sudah tau jawabannya.

Zitao bangkit berdiri dan raut wajahnya berubah. “Kau tau alasannya tapi sedikitpun kau tidak cerita padaku!” Zitao berteriak, membuat Yifan menahan napas. “Jujur, aku sudah memaafkan gege. Tapi aku kecewa, sangat kecewa. Kau mengalami hal berat setiap hari, tapi aku yang tinggal bersamamu tidak bisa apa-apa untuk meringankan bebanmu!”

Dia baca, Zitao baca semuanya. Setiap kalimatnya. Dia tidak tidur malam itu. Yifan punya rekan-rekan brengsek dan atasan yang lebih brengsek lagi. Dan keadaannya semakin memburuk. Ditambah Zitao pergi dari rumah, tidak ada yang mengurus Yifan. Dia sering tidak makan, tidak mandi, tidak tidur.

Bukan, bukan begitu yang Zitao mau. Dia tidak bermaksud membuat keadaannya semakin parah dengan meninggalkan Yifan.

Yifan menggeleng cepat. Dia tau letak kesalahannya yang sebenarnya. “Tidak seperti itu. Gege tidak mau kau tau, karena kau pasti akan menyuruhku berhenti. Mencari pekerjaan tidak mudah, Tao-er. Aku akan jadi pengangguran, dan jadi beban–“

“Jadi kau memilih untuk melukaiku?”

Tentu saja, Yifan tidak pernah bermaksud begitu. Dulu Yifan tidak berpikir jauh, dia hanya mementingkan semuanya sesuai sudut pandangnya saja. Dia pikir, dengan alasan melakukan semuanya demi Zitao bisa menguatkannya dan bisa menjadi alasannya untuk bertahan. Yifan tidak menyadari hal yang dia alami sebenarnya adalah depresi.

“Sudahlah.”

Yifan tidak bisa menjawab. Dia tau dia salah, Yifan hanya ingin menjelaskan saja. “Maaf…”

“Aku bilang, aku sudah memaafkan gege.” Zitao sudah baca isi laporan itu, jadi dia memaafkan Yifan. Dia memaafkan Yifan bukan hanya supaya kondisi mental Yifan membaik, tapi juga karena Zitao sendiri memang memaafkannya.

Mereka berdua terdiam cukup lama. “Yasudah, aku pulang dulu kalau begitu, Tao-er. Gege ada janji dengan Jongdae.” Selama ini Yifan datang untuk meminta maaf dengan benar dan menjelaskan semuanya pada Zitao, dan sepertinya, kurang lebih semua sudah tersampaikan. "Kau juga ada shift."

“Siapa Jongdae?”

Oh, Yifan baru ingat Zitao belum tau apa-apa mengenai Jongdae. “Ah, ceritanya panjang. Lain kali akan kuceritakan.”

Zitao mengangguk mengerti, dan mengantar Yifan sampai pintu.

“Terima kasih, Tao-er. Sudah memaafkanku, dan, segalanya.” Lagi-lagi Yifan tidak tau harus bicara apa. Masih banyak yang ingin dia ceritakan dan lakukan dengan Zitao.

Yifan meninggalkan flat dengan perasaan bahagia. Senyumnya tidak lepas selama perjalanannya pulang. Hari ini dia merasa ringan sekali, ditambah, hari ini Zitao kembali memanggilnya Gege.


February, 2017

Zitao merenung, sudah lumayan lama tawaran proyek jarang datang padanya. Setelah lulus kuliah, dia bergabung dengan kelompok kecil yang menerima proyek pembuatan mesin. Bayarannya sangat menjamin meskipun tawaran tidak selalu datang. Zitao bersyukur Luhan menyarankannya untuk mengambil kerja sambilan, supaya Zitao punya aktivitas kalau tidak sedang mengerjakan proyek. Seperti sekarang ini, sebenarnya dia sedang shift berdua dengan Sehun, tapi dia memilih untuk duduk dan membiarkan Sehun melayani pelanggan di kasir.

Lonceng pintu masuk berbunyi, tanda ada pelanggang yang datang. Zitao tidak bangun karena memang ada Sehun, jadi Zitao melanjutkan lamunannya tentang pekerjaannya.

Tanpa disadari Zitao, pelanggan yang baru masuk itu terus memperhatikannya, tidak menghiraukan sapaan Sehun.

“Zitao, pelanggan ini ingin bicara denganmu.”

Zitao yang baru tersadar dari lamunannya terlonjak kaget. “Ah, iya.” Zitao dengan agak terburu-buru keluar dari meja counter dan menemui pelanggan yang dimaksud Sehun.

Dan Zitao tidak mengenalnya. Dia memasang raut wajah bingung, sementara lawan bicaranya tersenyum.

“Ternyata benar, kau Huang Zitao.” Iya, memang Huang Zitao. Terlihat jelas dari nametag yang dia pakai. Lalu kenapa?

“Maaf?” Zitao masih tidak mengerti.

“Ah, namaku Jongdae.” Oke, sepertinya dia pernah mendengar nama itu? Oh, kekasih Sehun ya? “Aku tinggal dengan kekasihmu, Wu Yifan.”

Apa? Bisa-bisanya Yifan mengaku kalau dia ini pacarnya?


Sekarang, Zitao dan Jongdae ada di taman dekat café. Sebenarnya Zitao menolak beberapa kali dengan alasan sedang shift, tapi Jongdae bersikeras ingin bicara dengan Zitao. Sehun yang tidak membantunya sama sekali juga malah mengijinkan Zitao pergi di jam kerjanya.

“Kapan kau akan pulang?” Zitao kembali dihadapkan pada pertanyaan yang tidak dia mengerti. Pulang kemana?

“Maksudmu?”

Jongdae tertawa kecil. “Yifan bilang, kekasihnya tinggal di tempat yang berbeda dengannya karena harus bekerja.”

Hal pertama yang harus Jongdae tau, Zitao itu bukan kekasih Yifan.

“Dia selalu memperlihatkan fotomu padaku, jadi tadi begitu memasuki café, sepertinya mirip. Dan ternyata memang Huang Zitao. Yifan tidak pernah bosan bercerita tentangmu. Ketika mencuci, ketika mau tidur, ketika pulang bekerja, ketika memasak. Omong-omong, masakannya kurang enak.”

Zitao mengulas senyum sedikit. Jadi, sampai saat ini Yifan masih tidak menurunkan sifat jago masak miliknya?

“Yifan sering menyebut namamu ketika tidur.” Zitao kembali memasang wajah serius. “Dia juga terlihat paling bahagia ketika menceritakanmu padaku, jadi, kapan kau akan pulang?”

Bukannya dia tidak ingin menjawab, tapi Zitao tidak tau jawabannya. Pulang, maksudnya kembali dengan Yifan? Tanpa sadar perkataan Jongdae membuat Zitao banyak berpikir dan menimbang.

“Dia, terlihat… sangat merindukanmu. Ini sama sekali bukan permintaan Yifan, tapi, Yifan sudah banyak sekali membantuku. Jadi, aku ingin sedikit membalasnya.”

Dari cerita Jongdae, sekarang Zitao tau Jongdae adalah anak atasan Yifan. Bukan atasannya yang melecehkannya, tapi atasannya yang baru. Atasan yang membantunya keluar dari kantor penuh kesialan itu. Tapi, sepulang dari perjalanan bisnis, rumah keluarga Jongdae terbakar, menyisakan hanya Jongdae. Karena atasannya ini sudah banyak membantu Yifan, maka Yifan menerima Jongdae untuk tinggal di apartemennya. Keluarga besar yang lain tidak ada yang mau mengakui Jongdae.

“Maaf, tapi aku tidak bisa pulang sekarang.” Jawaban Zitao membawa raut sedih pada wajah Jongdae. “Nanti ketika urusanku selesai, mungkin aku akan pulang.”

“Memangnya pekerjaan seperti apa yang kau lakukan?”

Bukan, Jongdae. Yifan itu sudah membohongimu. Zitao menghela napas. Dia terpaksa mengikuti cerita yang Yifan buat. “Aku mengerjakan proyek pembuatan mesin.”

“Itu membuatmu tidak pulang selama dua tahun?”

Zitao kembali menghela napas lelah. “Tidak, tapi beberapa tawaran proyek terus datang. Aku janji ini adalah proyek terakhir.” Maaf, Jongdae. aku terpaksa membohongimu juga. Bahkan tawaran proyek jarang dia dapatkan.

“Ah, baiklah. Aku benar-benar berharap kau cepat pulang.” Mereka kembali berjalan menuju café, mengakhiri percakapan sore. Jongdae sekali lagi menahan Zitao. “Yifan sangat membutuhkanmu.”

Jongdae memesan kopi yang tadi sempat tertunda dengan Sehun, sementara Zitao memilih untuk kembali duduk di pinggir counternya. Iya, dia sendiri harus berpikir mengenai banyak hal.


Agustus, 2017

Yifan membuka matanya malas saat sinar matahari masuk melalui celah gorden yang menutup jendela kamarnya. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Ah, jam setengah delapan dia sudah harus siap untuk berangkat ke kantor.

Semalam dia mimpi indah, dia mimpi tentang Zitao–

Yifan melirik ranjang kosong di sebelahnya. Tiba-tiba dia panik, matanya melihat ke segala arah. “Tao-er!” Yifan langsung menyibak selimutnya dan berlari keluar kamar.

Mendatangi kamar disebelahnya, yang hanya ada Jongdae yang masih tertidur pulas. Setelah kembali menutup pintu kamar Jongdae, Yifan terus berlarian di rumah. “Tao! Tao-er!”

Lalu dia berhenti. Terduduk di atas lantai.

Benar, Yifan ini sudah gila atau apa? Zitao tidak ada bersamanya. Dia tidak mendapatkannya kembali. Yifan, sekeras apapun dia berusaha, hal-hal yang dia inginkan hanya ada dalam mimpi–

“Yifan-ge, ada apa pagi-pagi ribut?”

Yifan menoleh, menatap asal suara. “Tao?” yang disampingnya ini, Zitao?

Zitao melipat kedua tangannya di depan dada, yang satu memegang spatula. “Kenapa?”

Memang dia sudah gila sepertinya. Yifan tertawa sendiri menyadari kebodohannya. Menaruh telapak tangannya di kepala, tertawa semakin keras.

Gege, ada apa?” Zitao agak takut melihatnya, Yifan bertingkah aneh seperti ini terus dari kemarin-kemarin.

“Tidak ada apa-apa. Aku, hanya takut kau pergi lagi,” Yifan menghela napas, menerima uluran tangan Zitao yang membantunya berdiri. Yifan kembali tersenyum bodoh sambil mengikuti Zitao ke dapur. Iya, rasa takutnya ini membuatnya hampir lupa kalau Zitao sudah kembali.


FIN.



I promise you guys to end it all in a happy ending so I did! [p/s: hope it's enough since you know I'm not very good at happy ending]

This one is inspired by my real story [believe it or not] I put a lot of real-time emotion in the making, well, note that it's not the situation that is happening to me right now, I'm not in an abusive-relationship with anyone nor that I runaway from home lol, I'm talking about the dialogs and the pov. some might be true. or not.


I saw how some of you mentioned that I accidentally forgot about updating taoris fanfictions. That's not true. I purposely s t o p writing for a while; also it's not like I don't update on-going ones. Now tell me, have I ever discontinue a fic? I'm truely sorry for this is what you got as an update, but this is all I can do. As for those theories saying I will delete everything related to taoris  that's also not true. HOW DO I FUCKING FIND IT IN MY SOUL TO DO SUCH THINGS? HOW DARE YOU 

Anyway, it's not really the end! [yey?] an English oneshoot will be uploaded on zitao's birthday. I know it's like 2 months from now which means y'all have time to prepare :) 



-kairay // reyna.

You Might Also Like

6 Comments

  1. I think I died. dead forever.

    ReplyDelete
  2. I can't bear looking at this let alone reading them I'm sorry reyna I think this is going to be your first fic that I won't read forever I'm really sorry :(

    ReplyDelete
  3. Cuma sempet ada 7 seri loh dari kamu, ini tega banget…

    ReplyDelete
  4. M for violence :) ok :)

    ReplyDelete
  5. baru juga sampe judul anjir udah sedih aja ini astaga

    ReplyDelete
  6. I know sex is good but have you ever heard of kris and tao making up? Me neither.

    ReplyDelete

Like us on Facebook

Flickr Images