Love Has Left [Chapter 4]

Friday, April 28, 2017

Love Has Left jadi ff pembuka kembalinya gua dari ujian-ujian. Juga karena rasanya udah lama banget gua lupa update [emang!] shit, maaf. Alesan gue ya karena ujian, HEHEHEHE. Tapi gue berhasil update ff lagi setelah sebulan hilang dengan Love Has Left.

YES. Jadi, gue udah selesai UN-nya. Iya, jelas udah selesai soalnya gue update hal lain TAPI KENAPA LOVE HAS LEFT NGGAK, RE? Sabar, sabar. Kan mesti ada transisi antara habis ujian dan liburan, lol. anw sebenernya sekolah belom libur tapi gue udah nggak ada aktivitas lagi jadi gue anggep libur, sih. Untuk dua bulan kedepan gue bakal update semua fanfiction, masing-masing satu. [termasuk Alvin's Online Diary walaupun dia bukan fanfiction.] 


 Minseok benar-benar akan pergi dari rumah – Jongdae tidak percaya ini, hal yang paling dia takutkan benar-benar terjadi. Iya, Luhan memang memiliki hak penuh untuk itu, Jongdae juga bisa menerimanya. Tapi dia sedih dan merasa pahit.

“Minseok,” Jongdae membantu Minseok membantu packing, melipat dan memasukan beberapa potong pakaian kedalam tas. “Aku memohon untuk yang terakhir.”

Minseok berhenti memasukkan peralatannya dan menatap Jongdae. “Jongdae, aku janji tidak akan melupakanmu. Tapi aku minta maaf, aku sudah bilang aku tidak bisa tetap tinggal. “

Baiklah, Jongdae menyerah. Jongdae tidak bisa menggenggam Minseok selamanya kalau memang tidak ditakdirkan untuknya. Dia pasti masih bisa melihat Minseok sesekali, Minseok sudah berjanji. “Kau benar-benar berjanji?”

“Aku janji,” Minseok mengembangkan senyumnya dan berjalan mendekati Jongdae, memeluk Jongdae. “Kita semua teman, jadi kita pasti bisa berkumpul bersama lain kali.”

Tok tok tok.

Itu pasti Luhan – Jongdae sudah menunggu dengan jantung yang berdegup tidak tenang. 
“Tolong kau yang buka, aku mau mandi dulu,”  Jongdae bersiap dengan senyum andalannya, berpura-pura semua baik-baik saja untuknya.

Dia berjalan ke pintu, membukanya dan memasang senyumnya. Luhan yang berada diluar juga melebarkan senyum yang tidak kalah lebar dengan milik Jongdae. “Selamat pagi, Jongdae. Bagaimana harimu?”

Jongdae menghela nafas sambil mempersilahkan Luhan masuk. “Well, Tugas kuliah belum terlalu sulit jadi aku masih bisa agak bersantai. Minseok baru saja pergi mandi. Omong-omong, kau juga bagaimana?”

“Aku ingin memulai sesuatu yang baru, Jongdae. Jadi aku mencoba lebih rajin dan belajar lebih giat supaya aku bisa mengejar banyak hal.”

“Semoga berhasil untukmu, Kau pasti bisa,” Jongdae kembali dari dapur setelah dia mengambilkan minum untuk Luhan. “Itu adalah awal yang baik.”

Luhan meminum air itu beberapa teguk dan melanjutkan, “Aku juga berharap ini tidak bertahan di awal saja, haha. Omong-omong, kau sudah tau kalau Minseok akan ikut bersamaku?”

Itu hal yang pasti tidak akan pernah terlupakan, Luhan. Jongdae mencoba memasang ekspresi yang biasa saja, sebisa mungkin dia terlihat senang. “Tentu saja, Minseok sangat senang dan memberitahuku berkali-kali.”  Suasana berubah hening, tidak ada satupun dari mereka yang melanjutkan percapakan untuk beberapa menit.

“Jongdae, aku berjanji padamu akan menjaganya. Aku pernah melukainya dan itu melukaimu juga, kan? Aku minta maaf, aku sudah berjanji padanya aku akan berubah, dan sekarang aku berjanji padamu.  Pukul aku kalau aku melukainya lagi, oke?”

Jongdae tertawa, dia senang Luhan berubah sedikit demi sedikit. Setidaknya, akan ada perubahan disetiap hari Minseok, dan hal itu menenangkannya. Membuktikan segala hal bahwa Luhan adalah orang yang cocok dengan Minseok, walaupun orang itu bukan Jongdae.

“Aku tau kau tidak akan melakukannya lagi. Makanya kalau kau sampai melakukannya, aku akan menghajarmu sampai mati, mengerti?” Jongdae memperlihatkan tinjunya sambil tertawa, Luhan juga ikut tertawa melihat kepalan tangan Jongdae. Mengingat dia pernah merasakan sakitnya kepalan tangan itu.

“Apa aku mengganggu?” Minseok muncul dari balik pintu kamar – sudah rapih dengan pakaian dan tas nya yang berisi banyak barang bawaan.

Jongdae dan Luhan menoleh ke arah Minseok – Luhan berdiri dan mengambil alih barang bawaan Minseok. “Kau tidak menggangu, tentu saja. Baiklah, kita berangkat sekarang?” Luhan pergi ke mobilnya dengan sebagian keperluan Minseok, memasukkannya ke mobil. Menyisakan Minseok dan Jongdae yang berdiam diri di ruang tamu.

“Jongdae, jangan lupa untuk datang berkunjung.” Jongdae mengantarkan Minseok ke depan pintu, Minseok mengenakan sepatunya sementara Jongdae tidak keluar ke halaman rumah. “Aku janji akan sesekali datang ke rumahmu.”

“Aku pastikan akan datang nanti.” Minseok tersenyum pada Jongdae, mengambil tas nya lalu naik ke mobil Luhan, sementara itu Luhan selesai memasukkan barang-barang dan dia menghampiri Jongdae.

“Terima kasih untuk semuanya, Jongdae. Kau menjaganya dan membahagiakannya disaat aku melukainya. Aku minta maaf. Aku benar-benar berjanji akan berubah.”

Aku melakukannya bukan untuk mu, Luhan. Aku menjaganya karena aku mencintainya.”Well, aku hanya mencoba membantunya.”

“Aku minta maaf pernah berbicara kasar padamu di atap sekolah waktu itu. Aku berusaha membuatmu membenciku juga.”  Jongdae tertawa, menepuk bahu kiri Luhan sambil menjawab santai, “Aku tidak membencimu, kita ini teman.”

Jongdae mengantarkan Luhan sampai dia masuk di kursi pengemudi, dimana disebelahnya sudah ada Minseok yang juga sedang melihat padanya. Jongdae tidak percaya ini. Minseok benar-benar pergi. Dia memandang Minseok, dia pikir ini adalah yang terakhir kalinya dia bisa memandang Minseok tanpa hal lain yang mengganjal pikirannya. “Baiklah, kalian hati-hati kalau begitu.”

Luhan dan Minseok memasang sabuk pengaman, dan Luhan menyalakan mesin mobilnya. “Terima kasih untuk semuanya, Jongdae. Kami akan datang berkunjung.”

Setelah itu, Jongdae bisa melihat mobil itu perlahan menjauh dan lama-kelamaan hilang di kejauhan. Dia memasang langkah gontai dan berjalan masuk ke dalam rumah, menguncinya dan membuka gorden – supaya rumah yang kembali suram ini setidaknya mendapat cahaya. Walaupun itu bukan cahaya yang berasal dari mata Minseok. Harus berapa kali dia mengulang kata-kata ini? Minseok. Benar-benar. pergi. Hari masih pagi, tapi dia bisa merasakan kegelapan dari kenyataan yang dia hadapi.


“Minseok?” Luhan memanggil Minseok disebelahnya yang hanya menundukkan kepalanya, memandangi ponsel sambil mendengarkan lagu. “Ya?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang spesial. Kau tidak keberatan kan kalau kita tidak langsung pulang?” Minseok mengernyit bingung, tapi sedetik kemudian dia langsung menyetujui.

“Baiklah, aku juga sedang ingin jalan-jalan.”

Mereka berhenti di sebuah kafe – tapi itu bukan hanya kafe, itu kafe kesukaan Minseok. Mereka selalu kencan di kafe itu, karena Minseok suka sekali minum kopi dan makan kue keju di kafe itu. “Luhan,” Luhan menoleh kearah Minseok untuk menjawab panggilan itu. “Kau masih ingat.”

“Minseok, untuk hal-hal seperti ini aku tidak akan lupa. Karena semua yang berhubungan denganmu sangat penting.”

Sudut matanya sudah membentuk bendungan air mata – terharu. Dia merasa, memang seperti inilah mereka seharusnya. Minseok memesan menu yang selalu dia pesan – Espresso dan Cheesecake. Luhan juga memesan menu favoritnya – Milkshake. Ketika pesanan datang, Minseok yang pertama kali memasukkan sepotong besar kue ke dalam mulutnya. Memperlihatkan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia senang, karena dia sudah lama tidak makan itu.

“Kue keju disini selalu enak,” Minseok mengunyah dan mengunyah, sementara Luhan hanya memandangin Minseok yang begitu sibuk makan. “Luhan, kau tidak makan juga?”

Luhan tertawa menjawab pertanyaan Minseok, memegang tangan kiri Minseok yang bebas dan mengelusnya pelan. “Melihatmu makan sudah cukup untukku.” Kue strawberry berakhir tidak tersentuh oleh Luhan, dan Minseok yang menghabiskan semua itu.

“Sudah kenyang, Minseok?” Luhan bersiap membayar untuk pesanan mereka, tapi Minseok menggeleng.

“Ini makanan pembuka untukku,”

Luhan kembali tertawa mendengar jawaban Minseok – dia lupa, Minseoknya sangat suka makan. “Baiklah, kau ingin memesan lagi atau tempat selanjutnya pilihanmu?”

Minseok berpikir sebentar, lalu dia membuka mulutnya. “Tempat selanjutnya pilihanku.”

Luhan membayar tagihan dan mereka kembali ke dalam mobil. Luhan menjalankan mobilnya dan mereka sampai pada simpangan pertama. “Kita ke arah mana?” Karena tempat selanjutnya adalah pilihan Minseok, maka Minseok yang mengarahkan jalan. 

“Lurus terus.”

Minseok terus mengarahkan jalan sampai mereka sampai pada sebuah kedai kecil di pinggir jalan, agak kumuh kalau dilihat dari luarnya – tapi dalamnya di hias sehingga terasa hangat. Minseok mengambil duduk di salah satu kursi panjang, Luhan ,mengikuti disebelahnya. Memandang ke segela arah kedai itu dengan tatapan aneh.

“Ini tempat apa, Minseok? Bagaimana kau tau tempat seperti ini?”

“Kenapa?” Minseok memandang Luhan aneh, karena dia juga memberikan tatapan aneh pada tempat ini. “Kau lupa ini tempat apa?”

Luhan memandang Minseok bingung, sambil mengingat-ingat. “Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak ingat.” Pesanan makanan mereka datang, Minseok mengambil sumpit dan sendok untuk dirinya dan Luhan sambil tertawa. “Aku tidak heran kalau kau tidak ingat tempat ini,” Minseok mulai mengaduk ramen nya, meniupnya karena masih panas. “Kita makan dulu, baru aku beritahu nanti.”

Minseok membersihkan bibirnya dari sisa yang berantakan, sementara Luhan sudah selesai daritadi, menunggu jawaban dari Minseok. “Kau masih tidak ingat?” Luhan hanya menggeleng.

“Ini tempat pertama aku melihatmu, Luhan. Sebelum kita bertemu di sekolah, kita pernah bertemu disini.”  Tempat itu sangat sepi. Sementara Luhan berjalan ke kasir, Minseok masih bisa bercerita dari tempat duduk mereka. “Aku tidak tau bisa dibilang bertemu atau tidak, tapi pokoknya aku melihatmu.”

Luhan masih menunggu kalimat penjelas lain karena dia masih tidak ingat. “Itu kali pertama aku tau kau suka bersepatu roda, waktu itu kau dan teman-temanmu masuk dan semua orang termasuk kau membawa sepasang sepatu roda.”

Well, Kau pernah makan di tempat yang kau anggap kotor ini.” Minseok bisa melihat tatapan risih yang Luhan berikan pada tempat ini, padahal makanan disini sangat enak.

Luhan merasa dia mulai ingat tempat ini, walaupun dia tidak ingat Minseok. “Aku tidak merasa ada kau.”  Minseok tertawa mendengar jawaban Luhan. Benar, dia tidak mungkin ingat.

“Bagaimana kau bisa ingat? Aku duduk dibangku paling ujung dan kau hanya tertawa terus.”

“Kau di paling ujung?” Luhan mencoba mengingat walaupun pikirannya masih menolak untuk memberikan gambaran Minseok. “Kau yakin kalau itu aku?”

“Aku yakin ketika berada disekolah, aku melihatmu. Sangat mirip dengan topi yang selalu kau sampingkan.”

Sekarang dia ingat, laki-laki kecil yang memakai jaket tebal dan selalu menunduk, lelaki itu adalah Minseok. “Ey, Jadi sejak awal kau sudah memperhatikanku?”

Minseok merona sedikit, tidak bisa menyangkal tapi juga tidak bisa membenarkan. “Aku- Bukan begitu! Kau berisik sekali, tau tidak? Untuk penyendiri sepertiku, kau dan teman-temanmu benar-benar mengganggu.”

Luhan membayar tagihan untuk pesanan mereka, berjalan menuju mobil dengan Minseok mengikuti dibelakangnya, menggerutu. “Aku benar-benar tidak menguntit, Luhan.”

“Iya, aku percaya. Kalau kau semakin banyak mengulang, kau semakin mencurigakan.” Luhan tertawa melihat ekspresi terkejut Minseok, dia langsung terdiam ketika Luhan sudah menjalankan mobil. Tidak ada yang bicara lagi dalam perjalanan pulang yang jauh ini. ketika dia menoleh kesamping, Minseoknya sudah tertidur pulas. Minseoknya, sangat tampan.

Ketika mereka sampai, hari sudah gelap dan Minseok tidak terbangun. Luhan turun terlebih dulu, menurunkan barang yang kira-kira dibutuhkan Minseok besok dan membuka pintu. Lalu dia kembali lagi ke mobil, membuka pintu Minseok dan menggendong Minseok. Sangat berhati-hati supaya Minseok tidak terbangun.
Luhan membaringkan Minseok di kasur. Melepaskan sepatu dan jaket yang dikenakan Minseok perlahan, dan menyimpannya. Luhan hanya mencuci wajah dan berganti pakaian, lalu menyusul berbaring disebelah Minseok, menarik selimut menutupi dada – tidur nyenyak sambil memeluk Minseoknya.


Luhan ingat janjinya kalau dia ingin berubah, maka dia mencoba memberikan waktu lebih banyak untuk Minseok hari ini dengan berencana mengajaknya ke pantai – tapi Minseok belum tau.

“Minseok,” Luhan sudah siap dengan barang yang diperlukan – sunblock; baju ganti dan uang, tentu saja – lalu menghampiri Minseok yang sedang memasak. “Aku mau mengajakmu pergi ke pantai.” 

Minseok membalik badannya ketika merasa terpanggil, dia menatap bulat satu pasang celana yang di angkat Luhan. “Kau ingin pakai yang mana?” Sementara Minseok masih kaget, dia hanya memilih.
“Yang abu-abu?”

Luhan kembali melipat celana abu-abu itu dan memasukkan ke dalam tas, dan berjalan menyebrang dapur lalu mengambil kotak makan kosong dari lemari. Luhan membuka beberapa, “Masukkan masakanmu kesini ya nanti kalau sudah tidak terlalu panas,” Luhan kembali bergerak ke ­rice-cooker, memasukkan beberapa sendok nasi dan menutup kotak makan itu.

Luhan melihat Minseok yang membulatkan matanya. “Ada apa? Kau tidak ingin pergi?”

Setelah kembali dari lamunannya, Minseok tersenyum, “Aku ingin pergi, Aku sedikit shock karena kabarnya mendadak,” Tapi Minseok tetap merasa senang.

“Aku ingin supaya terdengar surprise untukmu -  Kalau dengan persiapan nanti tidak asik.” Luhan membalas dengan senyum, dan membantu Minseok memasukkan makan siang yang harusnya mereka makan dirumah ke dalam beberapa kotak makanan.

Minseok melepaskan celemeknya dan juga mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai sementara Luhan – yang sudah menyiapkan semuanya- memasukkan barang-barang ke mobil.

“Semua sudah kau masukkan?” Tidak seperti biasanya, Luhan lah yang menyiapkan segala keperluan dan itu membuat Minseok tidak tenang.  Belum lagi ini mendadak –untuknya- dan bepergian seperti ini adalah hal baru.

“Handuk, pakaian ganti, sublock, tiket, makanan, dan uang – tentu saja.”

“Tiket?” Apalagi hal yang tidak diketahui Minseok?

“Oh ya, tentu saja aku belum memberitahumu. Aku dengar jam 4 sore ada pertunjukan drama dari kampus setempat dan mereka menjual tiket. Pertunjukannya digelar di pantai itu, jadi aku rasa tidak ada salahnya menonton.”

Diam-diam Minseok bersorak dalam hati, karena dia sangat menyukai pertunjukan. “Omong-omong, kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke pantai?”

Selagi menyetir, Luhan menyempatkan tersenyum dan menoleh kearah Minseok. “Aku ‘kan berjanji untuk berubah, dan aku rasa aku bisa memulai dengan menghabiskan lebih banyak waktu denganmu.”

Lagi, dia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Mengembang senyum, menunduk dan memilin ujung bajunya. “Eh- terima kasih kalau begitu.”

Luhan memarkirkan mobilnya di pinggiran pantai yang berbatasan dengan jalan raya – dimana mobil lain juga diparkirkan. Membawa sebagian perlengkapan yang berat, dan membiarkan Minseok membawa sisanya, berjalan di depan Luhan.

“Bagaimana, Minseok? Kau suka pantai?” Matahari sudah bisa dikatakan terik, tapi itu tidak menghalangi mereka untuk berenang dan sekarang, bermain di tengah pantai. Minseok begitu semangat ketika dia melihat padang pasir datar yang bersih – yang dikhususkan untuk mereka, kata Minseok.

“Hari ini tampak cerah, semuanya terlihat berwarna dan panas matahari tidak menusuk. Aku rasa itu adalah alasan aku mulai menyukai pantai,” Jawab Minseok. ”Juga banyak sekali orang, padahal ini hari biasa. Kenapa begitu banyak orang yang pergi ke pantai?”

Luhan tertawa kecil mendengar jawaban sekaligus pertanyaan Minseok. “Mungkin sebagian sama seperti kita – menghabiskan waktu bersama orang yang paling mereka sayangi,” Luhan menghapus sedikit surai coklat yang tercetak di pipi Minseok. “Dan memandangi ciptaan Tuhan yang begitu indah bagi masing-masing orang,”

Minseok merona. Mencubit tangan Luhan dan tertawa.  Minseok menutup wajahnya dengan sepasang telapak tangan –malu- ketika dia melihat Luhan yang juga sedang melihatnya. Mereka menikmati keheningan dengan saling berpegangan tangan. Memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin yang menyapu pipi mereka, sampai Luhan terduduk dari posisi tidurnya.

“Sudah hampir setengah 4, Minseok. Ayo siap-siap,” Luhan bangkit pertama kali. Dia bangun dan membereskan sisa makan siang mereka yang sebagian besar dihabiskan Minseok Minseok tidak ingin hanya diam, dia juga ikut bangun dan mengeluarkan pakain ganti miliknya dan Luhan.

“Minseok. kembali ke pasir itu.  Pokoknya kau harus tetap bersantai dan serahkan semuanya padaku.” Minseok mengerjapkan matanya sejenak, dan detik berikutnya dia menuruti perintah Luhan. Ketika Luhan selesai, dia menggandeng tangan Minseok dan membantunya berdiri – mengajaknya meninggalkan sisi pantai ini dan pergi ke sisi yang lain.

“Pertunjukkannya digelar di pantai Utara, kita harus bergegas kesana sebelum ramai.”
Mereka sampai dan mengambil tempat duduk di paling depan, tidak ingin ketinggalan. 

“Luhan, pertunjukkan seperti apa yang akan mereka tampilkan?”

Luhan tampak berpikir, menerawang ke atas dan sedikit mengerucutkan bibirnya. “Dilihat dari judulnya, seperti drama musikal, tapi aku juga kurang tau.” Minseok suka drama musikal, dan dia harap perkiraan Luhan benar.

Luhan pergi membeli minuman dingin, sementara Minseok duduk menunggu dan dia tidak bisa menghindari keinginannya untuk berpikir.

Luhan berubah. Dan itu hal yang menyenangkan –sangat. Walaupun sekarang Luhan jadi sangat sibuk dengan mengerjakan tugas, tapi Minseok sangat mendukung. Luhan memperbaiki kebiasaan malas dan instant miliknya. Buat orang seperti Luhan, menjadi rajin pasti sulit. Terlihat dari bulan-bulan awalnya menjadi mahasiswa, Luhan sering sekali tidur telat hanya untuk memastikan semuanya rapih, dia membuat jadwal miliknya yang dianjurkan Minseok –dan luhan bilang itu sangat membantu. Nilai kuis dan ujian Luhan di awal sangat buruk – walaupun bukan F. “Aku sudah belajar, kau lihat sendiri, tapi rasanya aku benar-benar  gugup dan tidak bisa menjelaskan hal yang aku ketahui dengan baik.”  Begitu menurut Luhan. Tapi untuk Minseok, Luhan lebih seperti tidak memiliki teman yang cukup pintar untuk dicontek. Sekarang, Luhan benar-benar membaik. Nilainya aman, dan Luhan juga sering membawa teman kuliahnya kerumah. Luhan mengajak Minseok pergi makan diluar untuk memberi mereka waktu libur berdua –libur materi kuliah untuk Luhan dan libur memasak untuk Minseok.

Minseok tidak sadar, kalau Luhan sudah kembali disisinya dengan dua kotak susu strawberry kesukaan Minseok dan dua kotak lain rasa coklat, kesukaan Luhan. Sementara itu, Luhan tidak berniat untuk membawa pikiran sibuk Minseok kembali, alasannya karena wajah lucu dan polos itu; Luhan sangat menyukainya.

Baru ketika suara tepuk tangan dan sebuah lagu diputar, tempat itu ramai dan keramaian itu menyadarkan Minseok. “Eoh, Luhan, Sudah berapa lama kau kembali?” Luhan memberikan dua kotak susu yang tadi dia pegang, dan membuka satu miliknya.

“Cukup lama untuk menyadari bahwa kau sangat cantik.”

Minseok merona lagi. Tidak tahu sudah berapa kali Luhan membuatnya berbunga-bunga hari ini. Ketika pertunjukan dimulai, Luhan tidak kalah fokus dari Minseok yang semakin antusias – mengetahui bahwa ini benar drama musikal.

“Bagaimana? Kau suka?” Minseok benar-benar menikmati drama musikal bertema komedi tadi, sangat cocok dengan moodnya. Di akhir acara, setiap penonton diberikan makanan dan kuisioner mengenai acara yang mereka selenggarakan yang diisi panjang lebar oleh Minseok. “Aku sangat suka. Mereka sangat hebat dalam memainkan peran, seharusnya mereka sudah debut dari dulu.”

“Namanya ujian praktek, Minseok. Jadi kalau kau ingin menyelesaikan kuliahmu, pasti kau harus melewati ujian seperti ini.” Minseok mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelah kursi-kursi yang semula ramai menjadi sepi, mereka berdua ikut meninggalkan lokasi pertunjukkan dan kembali ke mobil.

Luhan mendesah lelah dikursi pengemudi. “Baiklah, kau ingin pergi kemana lagi?” Minseok memandangi wajah Luhan yang juga sedang menatapnya dengan senyum. Tidak begitu jelas, karena hari sudah gelap dan pencahayaan yang kurang.

Minseok ingin menghabiskan malam ini dengan menonton film di bioskop– tapi sepertinya tidak mungkin, melihat wajah lelah Luhan yang coba dia sembunyikan.  “Aku ingin pulang, Lu. Kau sudah lelah dan aku tidak ingin kau menyetir dalam keadaan yang lebih buruk lagi.”

Luhan memasang senyumnya dan mulai menyalakan mobil. “Aku masih bersemangat untuk melakukan hal lain denganmu, Minseok. Kita tidak bisa sering-sering seperti ini.” 

Lagi, Minseok tersenyum. Dia yakin mereka berdua memiliki banyak kesempatan, walaupun tidak dalam jangka waktu dekat. “Tidak apa-apa, selalu ada lain kali. Ayo kita pulang dan istirahat.”


Minseok terkejut ketika dia bangun dan melihat jam di sampingnya menunjuk jam 6, masih pagi sekali. Tapi dia lebih terkejut lagi ketika dia melihat Luhan tidak ada disebelahnya. Di hari minggu seperti ini, Luhan yang bangun lebih pagi adalah hal yang tidak mungkin. Minseok bangun dari ranjangnya dan berjalan keluar, mencari Luhan.
“Luhan?” Rumah baru Luhan lebih besar dari sebelumnya, mencari Luhan menjadi lebih sulit. Dia mencari ke dapur, dan di dapur sudah ada dua piring sarapan di meja itu, tapi tidak ada Luhan. Dia mencari ke kamar mandi, tapi Luhan juga tidak ada. Dia turun ke lantai satu, dan Luhan sudah menunggu.

Minseok turun perlahan dengan senyum yang mengembang diwajahnya, menghampiri Luhan yang menunggu dibawah. “Minseok, aku mau mengajakmu ke sudut lain rumahku,” Luhan menggandeng tangan Minseok dan menuntunnya ke belakang rumah, dan mereka sampai pada sebuah ruangan kosong yang di cat putih.

Didalamnya ada sebuah kotak besar yang ditutup kain, kotak itu lebih besar dan lebih tinggi dari Minseok. Mereka mendekati kotak itu, dan Luhan berhenti. Minseok menoleh kearah Luhan. “Kenapa?”

“Karena itu milikmu.”

Minseok memandang kotak besar itu lagi. “Boleh aku tarik kainnya, Luhan?” Luhan menggangguk dan Minseok kembali berhadapan dengan kotak yang jauh lebih tinggi darinya, tidak tahu apa yang ditutupi kain hitam itu. Dia menarik kain itu perlahan, dan sekarang dia bisa melihat apa yang ada dibalik kain itu.

Kulkas.

Minseok memandang kearah Luhan sambil tersenyum dan tertawa, “Aku tidak pernah minta kulkas,” dia masih tertawa sementara Luhan berjalan mendekatinya, merangkul dan memeluk Minseok.

“Selamat ulang tahun, Minseok. Aku tidak akan pernah lupa hari ini hari apa, Semoga kau suka dengan hadiah yang kuberi.”

Minseok memandang kulkas putih itu lagi, menyentuh gagangnya dan sekitar kulkas itu. Tidak tahu mengapa Luhan memberinya kulkas. “Aku tidak mengerti, aku tidak pernah meminta kulkas padamu. Kau juga sudah memiliki kulkas di dapur. Aku pikir kau orang yang romantis, Luhan, hahaha,” Minseok mengatakannya sambil tertawa, setengah bercanda. 

Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Luhan memberikannya kulkas, tapi dia tetap penasaran akan isinya. Dia memegang gagang kulkas lagi dan membukanya.

Kulkas itu menyala dan terasa sangat dingin ketika sedikit dibuka, dan detik selanjutnya Minseok tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Banyak sekali bunga didalamnya. Bunga Lili lembah, kesukaan Minseok.

Minseok menutupi mulutnya yang terbuka lebar, sangat terkejut. Matanya berkaca-kaca membendung air mata yang siap tumpah. “Banyak sekali…”

Luhan maju selangkah lagi dan mendekati Minseok yang terduduk di depan kulkas yang terbuka sambil menangis. Memeluk badannya yang bergetar dan mengusap kepalanya.  “Aku kira kau suka hal-hal romantis, tapi kau malah sedih,” Luhan mencoba menghibur Minseok dan mengatakannya sambil tertawa. Minseok mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan mata sembabnya yang mengalirkan air mata.

“Aku- Terima kasih, Luhan. Aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak yakin aku adalah orang yang tepat untuk mendapatkan banyak bunga darimu,”

“Minseok, kau adalah orang paling baik yang pernah aku temui, dan aku menginginkanmu disampingku seumur hidupku. Aku hanya memberikanmu sedikit bukti bahwa aku sangat mencintaimu.”

Minseok memandangi bunga-bunga yang memenuhi kulkas itu, dia sangat tidak menyangka dalamnya akan seperti ini. Dia mengambil satu bunga ditengah yang terlihat lebih besar dari yang lainnya. “Bunga ini sangat mahal, Luhan. Dan jumlahnya banyak sekali…” Bunga itu benar-benar banyak, bahkan setelah Minseok mengambil satu yang besar, tidak ada jejak kosong yang ditinggalkan bunga itu, bunga lain sudah menutupinya dan masih tampak penuh. “Aku tidak tampan, aku tidak kaya. Aku tidak populer, dan tidak akan pernah sebanding denganmu.”

Luhan ikut mengambil bunga lain yang berwarna lebih terang, menyisakan sedikit tangkainya dan memakaikan bunga itu ditelinga kiri Minseok. “Bukan itu yang aku inginkan darimu. Aku melihat apa yang ada didalammu, dan Kim Minseok, kau sangat indah. Aku tidak menilaimu dari luar, karena itu aku memberikan banyak bunga di dalam kulkas. Agar kau melihat apa yang ingin aku sampaikan.”

Luhan mencoba dengan keras untuk menenangkan Minseok yang tidak berhenti menangis. Dia mengambil lebih banyak bunga yang tidak habis-habis itu dan menaruhnya di genggaman tangan Minseok.

Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara untuk beberapa menit, hanya menikmati keheningan dan waktu yang mereka miliki berdua sampai Minseok mengangkat kepalanya dan kembali menatap Luhan. “Aku sangat berterima kasih untuk hadiah yang kau berikan dan masih mengingat hari ini untukku. Aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikkannya.”

“Ini juga bentuk permohonan maaf untuk kesalahanku, aku berharap sedikit demi sedikit aku sedang menebusnya.”

“Kenapa kau masih memberiku banyak hadiah? Maksudku, kau mencintaiku dan kita pernah memiliki kenangan bersama. Dengan hadiah-hadiah sebelumnya, kau sudah pasti tau kalau aku juga mencintaimu…”

Luhan tersenyum mendengar jawaban Minseok. “Kim Minseok, jawabannya adalah karena kau tidak bisa memberitahu seseorang bahwa dia mencintaimu. Kau hanya bisa berusaha mendapatkannya, mengenai apakah dia mencintaimu itu akan menjadi takdir.”

Minseok menatap Luhan berkaca-kaca lagi, dia tidak tau. “Mengenai hadiah, kau adalah milikku, jadi membuatmu bahagia adalah tanggung jawabku. Aku hanya mencoba melambangkan hal yang kau inginkan menjadi ukuran kebahagiaanmu.”

“Bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri?”

“Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.”

Minseok tersenyum mendengar jawaban itu, sedikit lega. Dia mencubit pelan lengan kiri Luhan yang memeluknya. “Dasar,”  Minseok tertawa kecil dan mengambil lebih banyak bunga, walaupun tangannya sudah agak penuh.

“Omong-omong, apakah kau yang membuat sarapan?”

Luhan membantu Minseok berdiri –karena kedua tangannya penuh- dan mengajak Minseok ke dapur setelah mendengar pertanyaan Minseok. “Tentu saja, aku juga akan mengerjakan pekerjaan rumah hari ini. Untunglah hari ulang tahunmu hari minggu, aku jadi bisa meluangkan waktu untuk kesayanganku.”

Minseok merona merah mendengar jawaban itu, Luhan tidak henti-hentinya membuat Minseok merasa senang. “Oh, artinya kau tidak ada tugas?”

“Aku akan melupakan tugas untuk hari spesial ini.” Luhan mengarahkan Minseok untuk duduk di bangku yang sudah dia sediakan, di hadapannya. Dengan sebuah piring sarapan yang masih terasa hangat. “Aku bangun lebih pagi untuk sarapan ini, aku sangat gugup. Aku hanya berharap rasanya enak dan layak dimakan.”

Minseok kembali tertawa untuk yang kesekian kalinya di pagi hari ini. Mengambil garpu dan sendok lalu mulai membelah telur dadar tepat ditengah, dan terlihatlah nasi goreng yang masih mengebul panas. “Ini terlihat enak.” Minseok mengambil satu sendok penuh, meniupnya sedikit dan memasukkannya kedalam mulutnya. Sementara itu, Luhan bernafas dengan gugup. Sedetik kemudian Minseok menunjukkan ekspresi terkejutnya.

“Kenapa?” Luhan bertanya cepat, dia mendapat firasat buruk. “Sangat enak, Luhan. Aku suka nasinya yang lembut dan telurnya tidak terlalu asin untukku. Semuanya terasa enak.”
Luhan bernafas dengan lega, dan selanjutnya dia juga mengambil sendok dan garpu lalu menyuapkan satu sendok juga kedalam mulutnya. Rasanya tidak buruk, Luhan. Selamat.

“Apakah aku berhasil?”

“Tentu saja, berapa banyak kau berlatih?” Luhan memang tidak bisa memasak. Sama seperti Jongdae, tinggal sendiri untuk waktu yang sangat lama membuat mereka terbiasa dengan makanan cepat saji. Berbeda dengan Minseok yang harus banyak berhemat, memasak adalah hobi dan caranya untuk memanfaatkan banyak bahan makanan. “Tapi bagaimanapun, Ini diluar dugaanku.”

Luhan merasa sangat senang mendengar pujian untuk masakannya, apalagi pujian itu datang dari Minseok yang masakannya sangat enak. “Kau tidak hanya sedang memujiku, ‘kan?” Luhan menyuapkan sendok lain kedalam mulutnya. “Aku berlatih lumayan sering dan mungkin kau tidak menyukai fakta ini – aku sudah membuang banyak nasi, telur dan bumbu lainnya untuk ini. Aku mulai dari benar-benar tidak bisa dimakan sampai berhasil mendapat pujian darimu.”

Minseok kembali tertawa. “Kalau begitu, kita bisa memasak hal lain bersama-sama.” Luhan tersenyum lebar, itu adalah impiannya sejak dulu. Karena dia tidak bisa memasak, dia hanya selalu memperhatikan Minseok berjalan kesana kemari di dapurnya. Tapi sekarang, dia sudah bisa membantu tanpa menghancurkan rasa dari makanan buatan Minseok.

Tidak lama setelah mereka fokus sarapan, ponsel Luhan bordering dari kamar. “Ponselku berdering, Minseok. Aku akan ambil sebentar.” Minseok mengangguk mengiyakan mengikuti Luhan yang bangun dari kursinya dan pergi meninggalkan dapur. Minseok meneguk segelas air dingin dan dia hampir memuntahkan air itu ketika dia melihat Luhan sudah kembali dan berdiri di pintu dapur.

Dengan satu buket mawar merah yang sangat besar, sampai menutupi tangan Luhan yang memegangnya. Buket itu dihiasi dengan kertas berwarna coklat yang kontras dengan warna bunga yang mahkotanya besar.

Minseok membentuk mulutnya seperti O besar dan menutupnya dengan kedua telapak tangannya, tidak mampu berkata apa-apa lagi. “Luhan…”

Luhan benar-benar tau. Selain makanan, Minseok sangat menyukai bunga, dan Luhan mengerahkan segala caranya untuk memenuhi hal yang sangat disukai Minseok. Luhan menghampiri Minseok yang diam membeku di kursinya, ketika dia berada disamping lelaki itu, Luhan berlutut.

Minseok memutar kursinya agar berhadapan dengan lelaki yang sedang berlutut padanya. Mengangkat bunga itu lebih tinggi, memberikannya pada Minseok. Minseok menerimanya perlahan dengan tangan bergetar, dia gugup karena hal ini baru baginya. Setelah Minseok menerima buket itu, Luhan mengambil satu kotak hitam kecil dari sakunya, membukanya.
“Kim Minseok, Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu menjadi pendampingku. Maukah kau menikah denganku?”

Luhan melamarnya.

Benar-benar melamarnya.

Di hari ulang tahunnya, Luhan melamarnya. 

Ini adalah hari terindah.

Matanya kembali berkaca-kaca. Tidak cukup dengan ratusan bunga yang menumpuk di kulkas dua pintu itu, Buket bunga yang sangat besar, hari ini Luhan memberikannya sebuah cincin yang tampak cantik, dan Luhan pasti sudah tau bahwa Minseok menyukai model seperti itu.

Perlahan, Minseok menganggukkan kepalanya mengiyakan. Mulutnya mencoba menghirup udara lagi karena hidungnya berhenti berfungsi. Matanya tidak bisa menahan bendungan air lebih lama lagi.

“Aku mau menikah denganmu, Luhan.”

Luhan memegang tangan kanan Minseok, mengenakan cincin itu di jari manisnya. Luhan mengangkat tangan kanannya dan menunjukkannya pada Minseok. “Lihat, aku memiliki cincin yang sama denganmu. Ini akan menjadi bukti baru bahwa aku mencintaimu selamanya, Kim Minseok.”

Minseok bangkit berdiri dari kursinya, menyampingkan buket itu dan memeluk Luhan erat dengan tangannya yang bebas. Menangis di dada Luhan, meremas bajunya karena dia tidak tahan dengan kebahagiaan yang memenuhinya secara bersamaan.

“Terima kasih. Kau sudah menunjukkan cukup. Aku mencintaimu, Luhan. Aku mencintaimu.”  Ini benar-benar hari terbaik yang mengejutkan. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, tapi tidak ada hal lain yang dia inginkan selain bersama dengan Luhan.

Mendengar jawaban Minseok, Luhan mengembang senyumnya secara otomatis dan mengusap rambut cokelat Minseok pelan. Menenangkannya lagi, membalas pelukannya. “Aku akan terus mencoba memperbaiki kesalahanku dan berjanji padamu aku tidak akan pernah mengulanginya lagi, karena aku mencintaimu. Tolong berikan aku waktu seumur hidup untuk membuktikannya padamu, Kim Minseok.”


FIN


Makasih sekali lagi udah selalu nunggu-nunggu Love Has Left dan nggak bosen ngejar gue kesana-kesini, mancemans, gila, I love y'all so much. Jadi, dengan ini, Love Has Left udah selesai. Iya-iya pasti ntar ada yang ngomel-ngomel kenapa ga xiuchen kenapa luhan ga nyebur got ga ketabrak truk ;;; tbh gua juga pengennya Luhan kek dipersulit Jongdae dikit, kek. Tapi gimana ya. Gue ga tega bikin Jongdae jahat; itu bikin dia gebukin Luhan aja gua kek berdosa rasanya. 

xiuchen shipper out there jangan gebukin gua lol udah ada percikan-percikan dikit lah, udah agak bagus (?) dibanding gua ga bikin xiuchen sama sekali kan. [gampar aja lah gausah takut.]



-kairay.

You Might Also Like

2 Comments

  1. I can't believe it's already the end :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. awwww but a new series will be up soon!

      Delete

Like us on Facebook

Flickr Images