Love Has Left [Chapter 1]
Wednesday, June 08, 2016
Thank you. MANCEMANS MEMANG GA PERNAH GAGAL BIKIN GUE BAHAGIA MAMPUS JANTUNG GUE KEK MAU MELEDAK GIMANA GATAULAH ;;;; THANK YOU FOR EXPECTING LOVE HAS LEFT! Kenapa si excited banget kalo ada ff baru. Kalo gua ga update aja, dikejar mulu. [digampar. nggak kok, gue becanda. gue seneng ditagih-tagih wkwkwk] Janji deh ini ga bakal ngecewain. Tapi emangnya ff gue pernah ngecewain ya? [digampar pt. 2]
I'm so proud of mancemans. can't say much lol
I'm so proud of mancemans. can't say much lol
▲
Mobil mewah dengan kecepatan sedang itu memasuki
gerbang sekolah yang hampir ditutup. Disaat semua orang harus berlari
tergesa-gesa, mobil itu hanya perlu berjalan santai menuju lahan parkir.
Ketika mobil itu melewati jalan setapak khusus
penumpang mobil, “Kau turun disini ya untuk hari ini, Minseok,”
Minseok terkejut untuk beberapa saat. Tidak seperti
biasa, kekasihnya memintanya untuk turun mendahului dirinya, tapi dia tetap
menurut. “Terima kasih, Lu.”
Minseok tidak membantah banyak dan langsung turun dari kursi di sebelah pengemudi. "Aku akan mengunjungi jam istirahat nanti, Sayang. Sampai bertemu lagi." Luhan memberikan kalimat perpisahan sekaligus janji untuk kekasihnya itu. Berharap Minseok akan memaafkan dirinya karena sedang tergesa-gesa.
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu." Jawab Minseok cepat, tanpa ingin menahan luhan lebih lama lagi. Dia agak berlari menuju kelasnya dengan pikiran yang mengganjal tentang Luhan hari ini.
▲
Tidak butuh waktu lama untuk memaafkan Luhan. Hari itu juga, Luhan langsung mentraktirnya di kedai favorite mereka sepulang sekolah tadi. Luhan juga menyampaikan permohonan maaf untuknya, dengan sebuah kecupan manis yang sangat menenangkan hati dan pikiran Minseok. Yang mengingatkan dia bahwa Luhan mencintainya.
"Ehm," Luhan membuka sebuah percakapan baru lagi. "Sepertinya aku harus meminta maaf lagi padamu besok," Sambung Luhan.
Minseok mengernyit bingung. "Apa?" Katanya singkat. Tidak suka dengan kesalahan lain yang akan Luhan perbuat, "Hari ini aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku harus mengantar Baekhyun ke toko buku." Minseok tidak suka. "Kenapa harus kau? Memangnya tidak ada orang lain lagi?"
Luhan meletakkan sendok dan garpunya, tidak berharap
Minseok langsung mengerti. “Minseok, kami berdua sekelompok. Setidaknya agar
tugas ini lebih cepat selesai, tolonglah.” Jawab Luhan pelan, tidak ingin
memulai pertengkaran seperti kemarin.
“Apa itu juga sebabnya kau menurunkanku didepan jalan
pagi ini, Luhan? Karena hal yang sama?” Tanya Minseok menuntut. Ini sudah
menjadi beban pikirannya sejak masuk tadi, walaupun luhan menepati janjinya
untuk datang ke kelasnya pada jam istirahat. “Kau, dengan Baekhyun hari ini?” Air
mata sudah berkumpul di sudut matanya. Menahannya mati-matian.
Luhan menghela nafas berat, dia kembali menjawab
dengan lelah, “Sudahlah, kau terlalu berlebihan. Aku minta maaf, aku tidak
ingin merusak mood mu di pagi hari-“
"Tapi kau sudah." Potong Minseok cepat. Berlebihan, katanya? "Kau tidak tau kalau aku memikirkan begitu lama apa yang sedang kau lakukan setelah aku turun tadi. Kenapa kemarin kau tidak datang-"
"Kim Minseok." Luhan menundukkan kepalanya berat. "Kau ingin kita bertengkar terus setiap hari? Bersikap biasalah. Kau itu, kenapa sih?" Tanya Luhan tidak sabar.
"Aku? Kenapa?" Minseok sudah menangis di tempat duduknya. Tidak menyangka Luhannya sudah tidak mengerti lagi tentang perasaannya. "Aku tidak apa-apa. Sana, pergi dengan Baekhyunmu. Kan kau harus mengerjakan tugas." Jawab Minseok ketus dan meninggalkan makanannya yang tinggal setengah dan membereskan barang-barangnya.
"Minseok, aku-"
"Sudah sudah, aku bisa pulang sendiri. aku akan ke kasir." Jawab Minseok lagi tanpa membiarkan Luhan berkata apapun.
Luhan tidak bisa membiarkan Minseoknya membayar, uangnya tidak boleh dihabiskan untuk hal seperti ini. "Tidak usah, aku yang selalu membayar untukmu. Minseok, hati-hati."
Perkataan Luhan tidak dibalas. Minseok menunggu sebentar. Tidak mendapati "Aku mencintaimu' di akhir kalimat Luhan, Minseok beranjak dari kursinya dan Luhan bisa melihat Minseok menaiki bus menuju rumahnya.
▲
"Aku minta maaf untuk kemarin." Luhan memulai pembicaraan melalui ponsel ketika ada jawaban dari seberang sana. "Aku benar-benar terpaksa mengantar Baekhyun."
Minseok bernafas. Memikirkan jawaban apa yang tepat untuk dia berikan. "Sayang? Kau masih disana?" Minseok kembali dari lamunannya, membetulkan posisi duduknya. "Iya, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf kemarin tidak bisa mengerti."
Luhan mengembangkan senyumnya yang tidak bisa dilihat Minseok. "Kemarin itu salahku. Aku terlanjur bilang mau mengantarnya. Seharusnya aku bertanya padamu dulu." Lanjut Luhan. "Kau memaafkanku, kan?"
"Ada alasan untuk bilang tidak?"
"Terima kasih, Sayang. Kau yang terbaik," Luhan merebahkan dirinya di atas kasur. "Besok aku jemput seperti biasa, kan?"
"Tentu saja." Jawab Minseok, juga merebahkan dirinya di atas kasur. Dia tidak tau kalau posisinya sekarang sama dengan Luhan. "Selamat malam, Luhan."
▲
Luhan tidak menjawab panggilan teleponnya sama sekali. Pesan juga tidak dibalas. Minseok benar-benar khawatir, mengenai apa yang sedang Luhan lakukan sekarang. Tengah malam Minseok menelepon Luhan terus, berdoa semoga setidaknya Luhan belum tidur, dan tidak lama Luhan menjawab teleponnya.
"Halo, sayang."
"Luhan. Kau ada dimana? Kenapa tidak pernah mengangkat panggilanku?"
"Aku bilang kan aku akan datang kalau urusanku sudah selesai, aku sibuk."
"Itu tidak menjelaskan apa-apa."
"Sudah dulu, ya. Nanti aku akan datang kalau sempat."
"Kalau sempat? Ya sudah. Kalau tidak ada waktu lebih baik tidak usah datang."
"Oh, maumu begitu? Baiklah. Kau sudah punya orang lain lagi untuk mengantarmu."
"Aku tidak bilang begitu! Kalau sedang sibuk sebaiknya kau mengabariku,"
"Aku sudah bilang kalah akan datang kalau sudah selesai!"
"Kau tidak datang selama dua minggu, Luhan!"
"Terserah lah! Aku akan datang untuk memberimu uang saku dan uang sewa eumah saja!"
"Luhan!"
Telepon sudah ditutup oleh Luhan.
▲
"Maaf sudah merepotkanmu lagi, Jongdae," kata Minseok ketika dia berhasil turun dari sepeda motor yang sudah terparkir rapih. "Aku selalu merepotkanmu belakangan ini."
Jongdae hanya memasang senyum lebar andalannya. "Tidak masalah, aku kan selalu berangkat pagi jadi kita pasti tidak terlambat. Tapi kenapa belakangan Luhan tidak menjemputmu?"
Minseok diam sesaat. "Oh, tahun ini kan kalian ujian akhir, jadi dia sedang sibuk. Ayo naik." Jawab Minseok singkat tanda dia tidak ingin melanjutkan percakapan ini lebih lama lagi. Minseok sendiri sudah memikirkan perubahan sikap Luhan yang drastis ini untuk berhari-haridan berbohong adalah pilihan tepat supaya Jongdae
tidak bertanya lebih lanjut lagi. Karena dia tidak tahu alasannya.
▲
"Kemana kita hari ini, Luhan?" Baekhyun bertanya dengan nada merayu sambil melingkarkan tangannya di lengan Luhan yang bebas. "Bagaimana kalau kita ke rumahku?"
Luhan tampak risih dan berusaha melepaskan lingkaran
tangan Baekhyun. “Baek, ayolah. Ini tempat umum. Kalau Minseok lihat
bagaimana?”
“Minseok kan sangat patuh padamu, Lu. Dia pasti
langsung pulang begitu kau suruh.” Jawab Baekhyun yakin. “Lagi pula ini sudah
diluar lingkungan sekolah, tidak ada anak sekolah kita yang akan melihat.
Ayolah, Lu, rangkul tanganku sebentar saja?” Baekhyun meminta manja.
"Jadi kita kerumahmu, Baek?"
▲
Minseok berjalan resah di dalam rumahnya. Luhan sama sekali tidak mengabarinya sleama seminggu ini. Di sekolah, seperti biasa. Luhan memang rutin mengunjunginya di jam istirahat, tapi Minseok takut seseorang akan lebih sering bertemu dengan Luhan, seseorang akan lebih sering membuat Luhan tertawa, seseorang akan lebih sering menemani Luhan.
"Minseok, kumohon duduklah. Aku pusing melihatmu seperti itu terus. Ayo makan, aku sudah memanaskannya." Jongdae memanggil setelah dia sampai di ruang tengah.
Minseok memang meminta Jongdae untuk datang kerumahnya akhir-akhir ini sekalian
untuk membantu tugas dan menemaninya.
“Jongdae,” Panggil Minseok dengan suara pelan. “Apa
aku merepotkanmu?” Tanyanya tidak kalah pelan, seperti ingin menangis.
▲
“Aku lihat akhir-akhir ini kau dekat dengan Baekhyun.
Apa kau menjalin hubungan dengannya?” Chanyeol baru memiliki waktu senggang
setelah beberapa hari ini berkutat dengan rumus-rumus, sama seperti Luhan.
Luhan
melirik Chanyeol sekilas, kemudian menjawab, "Well, Untuk kali ini kau
terlambat mengetahui berita tentangku, Chanyeol."
Chanyeol
membulatkan matanya. yang dirumorkan oleh anak klub basket selama ini benar.
“Serius kau? Sejak Kapan? Kau, Bagaimana dengan Minseok?”
“Menurutmu,
orang seperti Luhan akan tertarik dengan orang seperti Kim Minseok?”
"Kau
brengsek, Lu.” Chanyeol menyeringai. “By
the way, Apa yang kau harapkan dari lelaki miskin seperti Minseok?”
Luhan
mengangkat bahu sekilas, "Tidak ada. Aku hanya merasa kasihan dengannya.
Bagaimana dia berangkat kesekolah dan makan setiap hari kalau tidak ada aku?"
▲
“Luhan,
Aku membuatkan bekal untukmu. Kita makan berdua ya?” Ketika Luhan berada
didepan kelas hendak datang ke kelas Minseok, didepannya sudah ada Baekhyun
yang menunggu. Luhan tidak tau harus bagaimana. “Hmm, aku tidak bisa Baek. Aku
harus bertemu dengan Minseok hari ini. Aku sudah mengabaikannya terlalu lama.
nanti dia bisa curiga, Sayang.”
“Sudahlah,
Kau kan rutin mengirimkan uang untuknya? Tidak ada yang dia butuhkan darimu
selain uangmu. Tapi aku, aku sangat membutuhkan kehadiranmu, Lu. Jadi lebih
baik sekarang kau temani aku makan bekal ini ya di koridor?”
Minseok
melihat semua itu. Suap-suapan itu. Sentuhan yang masing-masing diberikan
Baekhyun dan Luhan untuk satu sama lain. Hal yang seharusnya Luhan lakukan
hanya untuk Minseok, bukan pada lelaki lain. Seharusnya, dia tidak usah mencari
Luhan kalau Luhan sendiri tidak mencarinya, Luhan memang tidak membutuhkannya.
Apa yang dicari Luhan dari lelaki miskin seperti dirinya? Luhan memang berhak
dapat yang lebih baik darinya, kalau dipikir-pikir Minseok memang tidak
memiliki nilai lebih dibanding Baekhyun.
“Lu,
aku ke kantin sebentar. Ada yang ingin kau titipkan?” tanya Chanyeol begitu dia
melewati Luhan yang sedang makan bekal bersama Baekhyun di koridor.
“Aku
ingin kau lihat keadaan Minseok dikelasnya, dan beritahu aku. Belikan dia 2
buah susu strawberry dan berikan padanya, katakan itu dariku. Permintaan maaf.”
Jawab Luhan.
Chanyeol
memandang jijik kearah Luhan. “Cih, Munafik. Sudah ada satu lelaki lalu untuk
apa yang itu masih kau urusi?”
“Setidaknya
dia harus diberi pemberitahuan, Chan. Sudah sana lakukan perintahku saja.”
“Pemberitahuan
itu harus diberikan secepatnya, Lu. Kau tidak ingin menyakiti lelaki miskin itu
lebih lama lagi.” Perintah Chanyeol yang menuntut itu tidak dipikirkan Luhan.
Dia punya caranya sendiri untuk Minseok.
Langkah
Chanyeol terhenti ketika dia melihat Minseok sendirian dibalik tembok koridor. ‘Minseok pasti sudah dengar dan melihat
semuanya,’ pikir Chanyeol. Sosok
yang terluka itu memandang kosong kelantai. Chanyeol mendekati Minseok, “Sudah
tau, kan? Kalau kau masih punya otak sebaiknya kau tinggalkan dia
setelah ini.”
Minseok
kembali dari lamunannya, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan
satu bulirpun air mata untuk orang yang tidak mencintainya. Minseok balik
bertanya, “Sudah berapa lama aku dikhianati?”
“Kau
pantas mendapatkannya.” Jawab Chanyeol ketus. “Kau pikir saja dengan logika. Memangnya
orang populer seperti Luhan berhak didapatkan oleh lelaki miskin sepertimu?
Dari awal, Luhan hanya kasihan padamu. Maafkan dia kalau kau merasa dia mencintaimu,
yang nyatanya tidak-“
Luhan
mendengar suara Chanyeol dibalik temboknya. seperti berbicara dengan seseorang,
Luhan menghampiri sumber suara itu, “Chanyeol, kau kan kusuruh-“ Luhan mematung
ditempatnya. “ Minseok?”
Minseok
bersusah payah mempertahankan sisa kebahagiaan yang dia miliki untuk menarik
sudut bibirnya yang menangis. “Hai, Luhan. Aku datang untuk menanyakan
kabarmu.” Keadaan berubah canggung.
“Oh.”
Balas Luhan pendek. “Chan? Apa yang kau bicarakan dengan Minseok?” Luhan
bertanya menyelidik.
Chanyeol
hanya tersenyum santai menanggapi pertanyaan Luhan. “Aku ke kantin dulu,
membeli 2 susu strawberry untuk tuan putri kesayangan Luhan. Bukankah kau
merindukannya, Lu?” Sindir Chanyeol.
▲
“Luhan?”
“Hmm?”
Lagi, lagi dan lagi. Minseok seharusnya sadar. Tatapan lelah dan suara tidak bersahabat yang dia dapat akhir-akhir ini bukan karena Luhan sedang banyak pikiran, tapi karena Luhan memang tidak mencintainya. Dia salah tentang Luhan. Salah selama dua tahun.
“Aku ingin bertanya,” Buka Minseok ketika mereka berada di atap sekolah. “Apa?” Kembali, hanya jawaban malas yang dia dapat dari Luhan.
“Mengenai Kau, Aku, dan. Baekhyun.” Jawab Minseok mantap, tanpa berpikir bahwa dia salah sedikitpun. Luhan, hatinya sedih. Lelaki brengsek seperti dirinya harus menyakiti hati Minseok yang polos itu. Namun kesedihannya itu berhasil dia sembunyikan dibalik tampang tak pedulinya yang dia latih hanya untuk Minseok.
“Kau sudah tahu? Baguslah kalau begitu.”
Brengsek! Bisa-bisanya kau bicara setenang itu untuk masalah serumit ini, Luhan? Minseok tidak percaya akan ucapan Luhan. Tanpa seizinnya, bulir air mata mengalir dari sudut mata indahnya yang biasa hanya dia gunakan untuk tertawa, bukan menangis.
“Aku lihat kau sangat dekat dengan si kutu buku itu.” Kata Luhan dingin. “Dia juga temanku, aku tau pasti kalau dia menyukaimu. Sangat cocok, Kau dengan si pengurus organisasi itu, haha.” Luhan mengangkat sudut bibirnya, tertawa malas. Meremehkan.
“Kenapa, kau mempermainkanku?” Tanya Minseok singkat. Tidak mengindahkan apa yang dikatakan Luhan. Dia rasa pertanyaan itu sudah cukup untuknya.
“Karena kau hanya cocok jadi mainanku.” Jawab Luhan dingin. “Jujur saja ya, aku merasa terbebani dengan kehadiranmu. Lupakan hal yang kita lakukan bersama. Lupakan waktu yang sudah kita habiskan bersama. Kim Minseok, kau tidak bisa apa-apa tanpaku karena hidupmu bergantung pada uangku.” Luhan memutuskan untuk pergi, melangkah melewati Minseok yang hanya bersandar pada tembok disebelahnya.
“Apa yang kau rasakan di hatimu saat mata kita saling bertemu, Luhan?”
Langkahnya terhenti ketika suara parau Minseok sampai pada pendengarannya. Dia tidak pernah menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar, dia tidak berlatih untuk pertanyaan itu. Luhan tau, dia mencintai lelaki polos yang juga mencintainya itu, tapi saat ini dia lebih mencintai Baekhyun. Menyangkal rasa yang dia miliki, Luhan menjawab dingin, "Tidak ada."
▲
"Minseok?" Jongdae melihat sahabatnya itu dalam keadaan kacau. "Ada apa?"
Minseok tidak ingin terlihat kacau, ini masih jam sekolah. Tapi, hatinya tidak memiliki cukup kebahagiaan untuk dia tampilkan. “Luhan…”
Jongdae hanya butuh kata itu untuk dapat mengerti pikiran Minseok. Luhan, lelaki brengsek itu. “Hari ini kau menginap dirumahku saja. Sampai kau merasa baikan, Minseok.” Jongdae bersumpah, setelah 2 tahun waktu yang mereka habiskan, kemana perasaan Luhan pergi? Untuk apa Luhan selalu memberinya uang dan tidak pernah lupa membayar sewa rumah Minseok?
“Katanya aku hanya cocok jadi mainannya.” Kata Minseok dingin, dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar Jongdae. “Memang benar, aku hanya cocok jadi mainannya. Coba lihat Baekhyun? Impian semua lelaki ada pada dirinya. Aku? Siapa yang memperhatikan si miskin Kim Minseok?” sambungnya sambil mengingat kembali kalimat Luhan. Yang menyakitkan itu.
“Kau pantas dapat yang lebih baik.” Jawab Jongdae singkat. Dia berusaha memperbaiki suasana hati Minseok. “Kau masih punya aku. Well, aku tidak bisa membayar 2 rumah sekaligus, jadi mulai sekarang kau boleh tinggal dirumahku. Kau tidak perlu membayar-“
“Tidak bisa.” Potong Minseok cepat. “Aku sudah banyak menyusahkan Luhan, aku tidak mau kau lelah denganku juga.”
Jongdae hanya tertawa menanggapi jawaban Minseok. “Kau tidak menyusahkanku. Aku sudah katakan, aku senang membantumu dan mengetahui kau baik-baik saja.”
Disebelahnya, Minseok sudah menangis. Menjambak rambutnya frustasi. “Aku tidak tahu. Biarkan aku berusaha sendiri, Jongdae.” Minseok menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
“Aku benar-benar ingin membantumu, kau juga harus fokus pada banyak hal.” Hanya senyum yang dapat diberikan Jongdae. “Besok kau sudah boleh pindah ke rumahku.”
“Menurutmu begitukah?” Jongdae semakin melebarkan senyumnya, senang mendapati Minseoknya akan tinggal di rumahnya sebentar lagi. “Aku akan membantu.” Jawab Jongdae akhirnya sambil bangun dan merapihkan tempat tidur untuk Minseok.
▲
Minseok memang setuju untuk pindah ke rumah Jongdae dan berhenti menyewa rumah lamanya. Tapi, sikapnya berubah drastis. Minseok tidak tertawa lagi. Minseok tidak fokus pada pelajarannya. Di rumah pun, Jongdae mengakui bahwa nafsu makannya terus berkurang. “Minseok, ayo dimakan,” Kata Jongdae dengan nada memaksa, melihat Minseok tidak menyentuh makanannya sama sekali. “Nanti kau semakin lapar.”
Tanpa melihat wajah khawatir Jongdae, Minseok menjawab dingin, “Aku tidak nafsu makan.”
Jongdae semakin memperlihatkan wajah khawatirnya. “Kau sudah makan sesuatu hari ini? mungkin diluar?”
Masih memandang kosong makanan yang berada di depannya, Minseok menjawab pelan, “Aku belum makan apapun dari pagi.”
“Kau selalu suka makan. Kemana perginya semua nafsu makanmu itu?” Tanya Jongdae menuntut, karena ini bukanlah Minseok yang biasanya, bukan Minseok sahabatnya.
“Pergi.” Minseok menghela nafas sebentar. “Pergi bersama Luhan.”
▲
Berbanding terbalik dengan kehidupan Minseok yang menderita, Luhan dapat menebar senyum indahnya setiap hari. Selalu terlihat bahagia dan mesra dengan kekasih barunya itu. Seperti sekarang ini, sepasang kekasih itu sedang berbagi pelukan hangat di koridor sekolah, tidak mengindahkan tatapan tajam Jongdae yang tertuju pada mereka.
Jongdae menggertakan giginya, tangannya terkepal kuat. Mengontrol emosinya mati-matian. Bisa-bisanya dia bahagia dengan semua luka yang dia berikan pada Minseok. Tak mampu lagi menahan amarahnya yang memuncak, Jongdae melangkah gelisah menhampiri Luhan. Mengapit lengan lelaki itu dan menyeretnya paksa ke atap sekolah.
“Luhan,” Jongdae memanggil marah ketika dia menghantamkan Luhan ke tembok dibelakangnya, melepaskan cengkramannya dengan kasar.
Luhan hanya memandang santai kearah Jongdae. “Santai, kawan. Jangan emosi begitu.”
Luhan hanya memandang santai kearah Jongdae. “Santai, kawan. Jangan emosi begitu.”
Jongdae benar-benar ingin menghajar lelaki dihapadannya. Menahan emosinya mati-matian. “Kenapa, kau mempermainkan Minseok?” Jongdae berusaha setenang mungkin.
“Karena aku tidak mencintainya.” Jawab Luhan santai.
Jongdae memandang tajam, “Lalu kenapa kau seolah mencintainya? Menjalin hubungan dengannya? Peduli padanya?”
“Kau pikir saja, Jongdae. Dia pasti sudah tinggal di jalanan atau mati kalau tidak ada uangku.” Jawab Luhan dengan nada meremehkan, matanya memandang Jongdae santai. Berbanding terbalik dengan Jongdae yang setengah mati menahan marah. “aku hanya kasihan padanya.”
Jongdae menggertakan giginya, emosinya benar-benar tersulut. “Demi Tuhan! Kau penjahat!” Jongdae mendengus kasar. “Dia mencintaimu, Luhan!”
“Dengarkan aku, Kim Jongdae. Aku sudah memutuskan hubungan dengan jelas. Lagipula, kenapa dia harus bertahan dengan cintanya itu? Apa dia bodoh?”
Kepalan tangan Jongdae semakin kuat. Benar-benar ingin menghajar lelaki dihadapannya sampai mati. Tapi dia tau itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan sisa pengendalian diri yang ada, Jongdae berkata dingin, “Mulutmu, brengsek! Mulut manismu satu-satunya hal yang membuatnya bertahan pada cinta yang tidak pernah ada!”
Luhan semakin tertawa meremehkan, melangkahkan kaki jenjangnya kearah Jongdae. Masih dengan nada remehnya, “Sampaikan pada temanmu itu. Dia terlalu bodoh untuk mengharapkan lelaki populer seperti Luhan.”
“Kalau dia terus mencintaimu dengan semua luka yang kau berikan, kau masih tega meninggalkannya demi orang lain?”
Luhan terdiam. Lagi, dia tidak pernah menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar. Tidak ada satupun dari mereka yang bergerak, dua pasang mata itu bertemu. Mencoba bicara melalu tatapan.
Luhan memutuskan kontak mata itu, mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat. Melangkahkan kakinya melewati Jongdae, "Kau tau pilihanku. Aku mencintai Byun Baekhyun."
maafkan aku Jongdae. Seharusnya kau sudah menghajarku dengan kepalan tanganmu itu tapi kau memilih untuk menahannya. Aku memang benar, Minseok sangat cocok denganmu. Kalian berdua sama-sama sangat baik.
▲
Maafkan aku Jongdae." Minseokmembuka percakapan ketika melihat Jongdae membuka pintu. “aku dengar, kau berkelahi dengan Luhan?”
Jongdae kembali memberikan senyum hangat untuk Minseok. “Dari mana kau dengar itu? Aku sama sekali tidak berkelahi dengan Luhan. Beradu mulut, yeah.”
Minseok mengerutkan keningnya bingung, “Beradu mulut seperti perempuan, maksudmu?”
“Terima kasih, aku anggap itu pujian, Kim Minseok.” Jongdae memilih untuk tertawa ketika mendengar jawaban Minseok. “Tapi aku lebih suka pilihan seperti lelaki, karena suara kami tidak melengking.”
Minseok juga ikut tertawa, “Well, Aku menerima itu. Kau beradu mulut seperti lelaki.” Jawab Minseok sambil mengikuti langkah Jongdae ke dapur. “Kenapa, kau melakukan itu? Maksudku, dengan Luhan?”
Jongdae mengangkat kedua bahunya, dia juga tidak tahu kenapa. “Aku hanya merasa aku harus melakukan itu. Aku tidak bisa membiarkan Luhan terus tertawa sementara kau terus menangis.”
Minseok menunduk, memilin ujung bajunya. “Aku rasa dia tidak mau tau hal itu.”
Jongdae ikut duduk di depan Minseok, menghela nafas berat. “Aku minta maaf, aku hanya tidak tahan melihat perubahanmu. Kau seharusnya tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini.”
“Chanyeol bilang, aku pantas mendapatkannya.”
Jongdae menarik sudut bibirnya tajam sambil mendengus kasar. “teman brengseknya itu sama saja, Minseok. Dan kau masih percaya saja pada ucapan orang tidak punya otak?”
Minseok menatap Jongdae dengan sudut matanya yang membendung air, “Lalu aku harus bagaimana? Itu yang dia katakan padaku. Seperti itulah kenyataannya dan itu terdengar masuk akal.”
Jongdae membalas tatapan lelah itu. “kenyataannya Luhan memang brengsek. Dan kau mencintai lelaki brengsek itu.”
“Aku tau.” Minseok tertawa kecil, meremehkan dirinya sendiri. “Aku memang bodoh, kan?”
“Kau harus buktikan kalau kau bisa bahagia tanpa dia. Dia tidak pantas mendapatkan setetespun air mata mu.”
“Sayangnya, sejak hari pertama pun aku sudah meneteskan air mata untuknya.” Minseok menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku tidak mengerti kenapa dia begitu sih, tapi memang Baekhyun cocok dengan Luhan-“
Jongdae memotong kalimat Minseok. “Minseok, aku sudah sangat lama mengenal Luhan. Dia memang lelaki populer, dia punya segalanya. Tapi dia bukan orang yang akan membuang orang yang sangat berharga di hidupnya.”
“Kau lupa aku tidak pernah jadi orang yang berharga dalam hidupnya? Baekhyun itu yang paling cocok sekarang-”
“Tapi kita tau Baekhyun adalah seorang penggoda, dan tidak heran Luhan akan jatuh ke tangannya.”
“Jongdae, tidak baik berkata seperti itu terhadap orang lain. Tapi, secara kebetulan Baekhyun memang seorang penggoda.”
Jongdae tertawa terbahak menanggapi kalimat Minseok. “Setidaknya, kau harus berterima kasih padanya karena sudah menjauhkan orang jahat darimu.” Jongdae beranjak bangun dari tempat duduknya, “Kau masak apa?”
Minseok ikut bangun dan berjalan mengambil peralatan makan, “Aku juga baru sampai, tadi bus-nya mogok di tengah jalan.” Jawabnya sambil mengambilkan nasi. “aku hanya sempat masak nasi dan ikan tumis. Yah, lumayan kan?”
Jongdae kembali tertawa, rumahnya jadi lebih hangat dengan kehadiran Minseok. “Tentu, tanpamu aku pasti hanya merebus ramen dan kimchi.”
Minseok juga mengambilkan beberapa potong ikan untuk dia dan Jongdae. “Jangan terlalu sering makan ramen, Jongdae. Makanan itu tidak baik.” Minseok masih berjalan kesana kemari, mengambil air dan menyalakan lampu dapur sementara Jongdae sudah duduk rapih. “Tapi mengenai ucapan terima kasih untuk Baekhyun, akan aku sampaikan lain kali." Jawabnya sambil tertawa, meremehkan Baekhyun?
▲
“Selamat ulang tahun, Baekhyun. Aku mencintaimu,” Luhan bersusah payah membuat surprise untuk ulang tahun Baekhyun ditengah jadwal belajarnya yang padat. Ketika Baekhyun sampai dirumah, dia bisa melihat banyak balon beterbangan dan sebuah kue di ruang tamunya.
Baekhyun menatap kagum semua itu. “Wa! Terima kasih, Luhan!” matanya nanar menatap keseluruhan ruangan, tidak mendapati satupun bungkus kado. “Omong-omong, mana hadiah untukku?”
“Aku tidak akan lupa,” kata Luhan sambil merogoh sesuatu dari saku celananya. “Satu buah kado untuk Byun Baekhyun, dari orang yang paling mencintaimu.”
Baekhyun menatap kado itu antusias, langsung membukanya. Ketika kertas kado itu tidak lagi menghalangi hadiah didalamnya, raut wajahnya berubah tak suka. “Apa ini? jam tangan?”
Luhan mengernyit bingung. “Kenapa?” Luhan tidak mengerti.
“Aku tidak menginginkan ini!” jawab Baekhyun kasar sambil melemparkan hadiah itu ke sofa. “Aku ingin tas yang waktu itu aku tunjuk di toko!”
“Aku tidak menginginkan ini!” jawab Baekhyun kasar sambil melemparkan hadiah itu ke sofa. “Aku ingin tas yang waktu itu aku tunjuk di toko!”
Luhan menatap sedih hadiahnya yang Baekhyun lempar begitu saja. “Aku minta maaf. Aku akan belikan tas itu untukmu. Tapi setidaknya, jangan lempar jam tangan itu. Aku membelikannya khusus untukmu.” Luhan merasa marah dan tidak dihargai.
“Biarkan saja! Karena aku memang tidak menginginkannya!” Sahut Baekhyun ketus sambil berjalan marah menuju kamarnya, tanpa mengindahkan kehadiran Luhan yang mematung diruang tamunya.
Luhan memandang kosong jam tangan itu - hadiahnya yang tidak diinginkan Baekhyun – terduduk di lantai, menangis. Luhan mengingat kembali ulang tahun Minseok – walaupun hanya dua tahun waktu yang dia berikan untuknya - tapi Minseok tidak pernah menolak satupun pemberiannya. Minseok selalu senang akan semua hal yang Luhan berikan untuknya.
"Kim Minseok, aku merindukanmu."
▲
“Apa yang kau pikirkan?” Baekhyun membuka percakapan begitu dia melihat wajah kusut Luhan. “Kau menampilkan raut wajah seperti itu lagi.”
Luhan mengalihkan pandangannya pada Baekhyun, memberikannya senyuman indah. “Tidak, aku tidak sedang memikirkan apa-apa.”
Baekhyun masih memandangi Luhan, tidak mendapatkan kata-kata lain lagi. “Apa?” tanya Luhan, merasa risih dengan tatapan menyelidik dari Baekhyun.
“Tidak.” Jawab Baekhyun singkat, mengalihkan pandangannya dari Luhan. “tidak biasanya kau menjawabku sesingkat itu.”
Luhan memegang kepalanya, menatap langit-langit kamarnya. “Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena aku terlalu-“
“terlalu banyak berkutat dengan rumus-rumus?” Potong Baekhyun cepat. “Sampai kapan kau akan memberikanku alasan seperti itu? Omong kosong.”
Luhan tidak bisa menjawab, dia memang sedang memikirkan banyak hal. Ujian akhirnya yang semakin dekat, latihan tambahan disekolah dan lainnya. Juga perkataan terakhir Jongdae. tentang Minseok.
“Sampai kapan, Lu?” Pertanyaan Baekhyun menuntut. Semakin menuntut. “Aku tidak tau. Aku hanya sedang pusing.”
“Jangan berbohong padaku.” Baekhyun melipat tangannya di dada. “Ada yang kau sembunyikan dariku?”
Luhan memandang Baekhyun. Memberikannya tatapan setenang mungkin, berharap Baekhyun tidak bisa melihat keresahannya. “Lihat, aku tidak menyembunyikan apa-apa.”
Baekhyun menatap mata Luhan lama, kemudian dia mengalihkan pandangannya. “Baiklah, aku percaya padamu. Tapi sebaiknya kau merubah sikap mencurigakan mu itu. Aku jadi agak khawatir padamu, Luhan.”
Luhan memberi senyuman lagi untuk Baekhyun, dalam hati menghela nafas lega. “Aku minta maaf membuatmu khawatir, tapi aku tidak apa-apa."
aku hanya merindukan Minseok. Itu saja.
▲
Minseok berbicara sendiri ketika dia tiba sepulang sekolah. tidak mendapati hal lain yang bisadia lakukan, dia bosan. “Aku sebaiknya belajar memasak makanan lain sebelum Jongdae bosan dengan masakanku.” Akhirnya Minseok memilih untuk langsung mandi dan mengganti baju, mengambil tasnya. Juga mengirim pesan untuk Jongdae supaya dia tidak khawatir. Aku pergi ke supermarket. Tidak usah mengantarku ok?
Tidak lama dia langsung mendapat balasan dari Jongdae. Tidak boleh! Tunggu aku, sebentar lagi aku pulang. Minseok kembali duduk di meja makan, menaruh ponselnya dan berpikir. Tidak lama dia kembali mengetik balasan untuk Jongdae. Tidak perlu, aku akan buat surprise untukmu hari ini. jangan makan diluar ya!
“Hmm.” Minseok kembali berpikir dan berbicara sendiri. “Aku akan coba memasak sesuatu yang tidak pernah aku buat.” Sambil menunggu sampai di supermarket, Minseok memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya dan mencari resep makanan.
“Bagaimana kalau yang berkuah? Jongdae kan suka ramen.” Pikirnya sambil memilih-milih resep yang cocok. “tapi kalau mencoba sekarang sepertinya tidak sempat. Cari resep yang praktis saja.”
Minseok terus memilih-milih resep, tidak ada yang terlihat disukai Jongdae. “Ah, aku belum pernah memasak kimbap untuk Jongdae.” Minseok memilih resep itu pada akhirnya, melihat variasi kimbap dari resepnya. “Kimbap telur dan salmon? Baiklah.”
Begitu sampai di supermarket, Minseok sudah tau apa yang akan dia buat. Dia langsung mengambil keranjang dan berjalan menuju blok ikan. Memilih-milih untuk beberapa saat, dan mengambil potongan salmon yang paling cerah dan lumayan murah, tentunya.
Minseok mengitari supermarket, sambil berpikir apalagi yang harus dia tambahkan di kimbap nanti selain salmon dan telur yang tidak ada dirumah. “menambahkan wortel sepertinya tidak apa-apa,” mengingat Jongdae tidak begitu menyukai sayuran, dia tetap mengambilnya. “Warnanya kan sama seperti salmon, dia pasti tidak menyadarinya,” Minseok tertawa sendiri, mengakui pikiran liciknya.
Dia juga mengambil rumput laut dan beberapa bumbu, pergi ke kasir dan membayar semua itu. Ketika dia sedang menunggu bus, dia mendapat pesan dari Jongdae. Aku mengancam akan merebus ramen kalau kau tidak membiarkanku menjemputmu. Aku. Sangat. Lapar. Minseok tertawa melihat pesan dari Jongdae, tapi juga langsung membalasnya. Kebetulan aku masih menunggu bus. Jemput aku, kalau begitu?
Tidak lama, pesannya langsung dibalas. Yes. Di supermarket biasa kan? Beri aku 5 menit. Minseok tertawa senang, mendapati kebahagiaan dari Jongdae mengembalikan senyumnya yang dulu. Aku menunggu.
Tidak sampai 5 menit, Jongdae sudah kelihatan. “Ada apa kau ke supermarket? Aku lihat nasi masih banyak, ramen juga masih banyak.” Jongdae memasang senyum lebarnya yang tidak bisa dilihat Minseok.
“Aku tampar kau kalau masih membicarakan ramen.” Minseok memberikan tatapan tajam untuk Jongdae, “Pokoknya aku akan berikan surprise, aku harap kau masih lapar dan belum merebus ramen.”
Jongdae tertawa sambil memberikan helm untuk Minseok. “Aku memegang janji lho. Aku langsung menjemput kesini karena aku sangat lapar. Ayo naik.”
Minseok menerima helm dari Jongdae dan langsung naik. “Sedikit pesan saja untukmu, surprise ku adalah makanan.” Jongdae kembali tertawa, dia sudah menebak. “Kau dari supermarket. Tentu saja kau akan memasak nanti ‘kan?”
"Minseok mempererat pegangannya pada jaket Jongdae. “karena kau sudah lapar, aku tidak sangka kau akan menggunakan otakmu untuk berpikir.”
"Aku anggap itu pujian, Kim Minseok."
▲
Ketika sampai, Minseok langsung menuju dapur. memasak nasi, memotong salmon dan menggoreng telur sendirian, sementara Jongdae sudah duduk rapih di meja makan. Dilarang bergerak kemanapun.
“Aku hanya berpikir aku bisa membantumu.” Jongdae memainkan sendok dan garpu di piring kosong yang diberikan Minseok. “Akan selesai lebih cepat, kan?”
“Kalau kau membantu, nanti jadi tidak surprise lagi.” Jawab Minseok, tanpa mengalihkan pandangannya dan melanjutkan menggoreng.
“Wa,” Jongdae menatap kagum Kimbap itu, “Terlihat enak. Kau belum pernah masak ini, ya?”
“Memang belum. kan surprise untukmu, Jongdae.” Jawab Minseok, sambil menaruh telapak tangan didagunya dan memandang Jongdae. “Aku hanya pernah membeli kimbap dari restoran cepat saji, dan aku juga belum pernah makan kimbap isi telur.” Jawab Jongdae, masih melihat-lihat potongan kimbap itu. “Kau sangat tahu aku suka telur.”
Minseok tersenyum senang, tampaknya dia berhasil memasak sesuatu yang baru. “Sudah boleh kau coba, semoga kau suka ya.” Jongdae memasukkan satu potong Kimbap besar kedalam mulutnya, mengunyah dan langsung membulatkan matanya. “Yaampun, ini enak sekali.” Katanya sambil lanjut mengunyah. “Aku belum pernah makan yang seperti ini, dari restoran sekalipun.”
“Kau sedang memuji masakanku?” Tanya Minseok, kembali mengembangkan senyumnya. “Aku tidak tahu kalau rasanya akan enak.”
“Kau juga harus coba, aku tidak bohong. Rasanya memang enak.” Jawab Jongdae, juga menaruh beberapa potong kimbap ke piring kosong Minseok. “Well, sejauh ini masakanmu selalu enak, sih.”
Minseok juga memasukan satu potong kimbap kedalam mulutnya. Masih agak panas, tapi enak. Dia juga bisa merasakan wortel disitu, sedikit heran kenapa Jongdae belum protes juga. “kau tau kan kalau aku juga memasukkan wortel kedalam kimbap ini?”
Jongdae membulatkan matanya kearah Minseok, “Masukkan apa? Wortel?” Tanyanya sambil mengunyah. “Aku tidak menyadarinya – tampaknya aku bisa makan sayuran itu.”
Minseok mencapai 2 langkah baru hari ini: memasak makanan baru dan menambah daftar sayuran yang disukai Jongdae.
▲
“Kita bicarakan ini nanti, Baek,” Luhan memijat kepalanya yang penat ketika dia tidak bisa langsung mengerti tentang materi yang sedang dia pelajari. “Aku sedang sibuk.”
Baekhyun yang sedang menceritakan acara shopping ke mall bersama teman-temannya kemarin berhenti, melirik Luhan dan mengerucutkan bibirnya. “Kau hanya sedang mengerjakan soal?”
“Ya. Itu artinya aku sedang sibuk.” Luhan menjawab singkat, dan kembali berkutat dengan buku soalnya, mendapati Baekhyun berhenti dan keadaan berubah tenang.
Baekhyun yang duduk di kasur Luhan merubah posisinya menjadi bersila dan menyilangkan tangannya di dada. “Aku hanya ingin membagi ceritaku. Jadi sekarang kau lebih melilih soal-soal dibanding aku.” Baekhyun semakin mengerucutkan bibirnya.
Luhan tidak menjawab sama sekali, pandangannya terpaku pada buku tugas dan soal yang ada di hadapannya sekarang. “Bahkan sekarang kau sudah berani mengabaikanku!”
“Byun Baekhyun, kau terlalu berisik. Nanti setelah aku selesai kau boleh cerita, untuk sekarang tahanlah. Kepalaku jadi pusing.” Baekhyun benar-benar tidak bersuara lagi, tapi matanya tidak pindah; memandang Luhan. “Baiklah, aku akan pergi keluar sebentar. Nanti aku akan kembali lagi setelah kau selesai mengerjakannya. Kan kau harus fokus.”
Kali ini Luhan mengangkat kepalanya, melihat Baekhyun yang membereskan barangnya dan bersiap-siap. Akhirnya, Baekhyun dapat mengerti. “Terima kasih, Baek. Aku tau kau bisa mengerti-“
“Aku tidak sedang mengerti. Aku sedang marah.” Baekhyun hanya memandang Luhan tajam, meninggalkan Luhan dengan pikirannya sendiri yang tidak dia mengerti tentang Baekhyun.
-kairay.
0 Comments