Love Has Left [Chapter 2]

Saturday, September 17, 2016

Padahal di comment gua udah janji mau updatenya agak lebih cepet KARENA GUA BILANG UDAH JADI CHAPTER DUA-NYA, tapi laptop gue berkata lain. Ga ngerti kenapa laptop gua ini gamau connect wifi, padahal wifinya baik-baik aja karena HP gue bisa, laptop bokap bisa, dll dll. Jadi ini gue update setelah laptop gue gatau diapain jadi sekarang udah bisa lagi. Karena gue ga ngerti gimana caranya edit di HP dan gua males cari tahu, layarnya kecil.

As promised, chapter 2 is here.
“Hari ini aku bisa mengantarmu pulang, Minseok.” Seperti biasa, Jongdae mengantarkan Minseok ke sekolah dan mereka sudah sampai di parkiran. “Aku akan menyelesaikan rapat hari ini lebih cepat, Aku juga ingin mengajakmu ke mall.”

“Ke mall? Tumben sekali?” Minseok mengerutkan keningnya, bingung. “Memangnya ada keperluan apa?”

Jongdae mengambil helm yang diberikan Minseok, menyimpannya dan mengikuti langkah Minseok ke lingkungan sekolah. “Tidak ada apa-apa, hanya ingin mengajakmu jalan-jalan.”

“Mengajakku kencan, begitu?” Pipi Jongdae merona merah. “Yah, kau boleh menganggapnya begitu kalau kau suka,” Sebenarnya mengajakmu kencan sih, hanya mengatakannya secara halus.

“Kau tidak perlu berlatih soal? Lebih baik kau fokus. Ujian akhir semakin dekat.”

“Aku sudah bosan berlatih.” Jawab Jongdae santai. “Lebih baik berjalan-jalan denganmu, kan? Kau juga butuh jalan-jalan. Setiap hari kau pulang sendirian dan dirumah juga sendirian sementara aku mengerjakan soal terus.”

Minseok tidak tau ini senyumnya yang keberapa, tapi tanpa sadar dia sudah tersenyum. “Dasar anak pintar yang sombong,” balasnya sambil memukul kecil tangan Jongdae, “Tapi aku menerima tawaran kencanmu.”

Jongdae membalas dengan senyuman lebar andalannya, tertawa kecil. “Sekarang aku tahu kenapa banyak lelaki yang menyukaimu, Minseok,” Sepanjang jalan menuju kelas Minseok, Jongdae memperhatikannya. “Aku selalu merasa bahagia ketika bersamamu. Terima kasih sudah bersedia menghangatkan rumahku dan kembali tersenyum.”

Rasanya Minseok hampir menangis, Tidak tahu kalau ada orang yang merasa bahagia dengannya. “Kau juga sudah banyak membantuku. Kau melakukan banyak hal, termasuk membagi rumahmu denganku.”

"Aku tidak menyesal," Jawab Jongdae sambil tertawa, "Tentu saja. Itu hal terbaik yang pernah aku pilih." Tidak ada sekalipun dia tidak tersenyum ketika bersama dengan Minseok. Tidak tahu bagaimana, kehadian Minseok selalu membuat nyaman. "Jangan lupa, nanti aku jemput di kelas mu ya?"


Minseok mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Ketika Jongdae tidak kunjung datang, Minseok mengirim pesan kalau dia ingin menunggu dikantin saja, kakinya sudah lelah berdiri. Dengan sebuah permintaan maaf, Jongdae juga berjanji tidak akan lebih lama lagi. Menunggu adalah hal paling membosankan, apalagi menunggu di sekolah. 

Pikirannya jadi teringat akan Luhan. Sebenarnya, sampai hari ini dia tidak bisa melupakan Luhan. Dulu, lelaki itu yang selalu ada disisinya. Dia memberikan waktunya hanya untuk Luhan, tidak ada siapa-siapa lagi. Tapi mengingat dia bukan satu-satunya yang diinginkan Luhan, membuatnya membenci lelaki itu. Luhan tidak perlu mengasihaninya sejauh ini, sampai menyakiti hatinya dan membuatnya menangis tanpa sepengetahuan Jongdae. Dia juga sadar, Jongdae sudah berusaha untuk mengembalikan senyumnya dan membuatnya melupakan Luhan.

Minseok mendapati gambaran bayangan hitam yang menghampirinya. Ketika dia sadar dari lamunannya, itu bukan Jongdae. Tapi siapapun itu, Minseok tidak mengenalnya.

“Ke atap sekolah.” Yang paling pendek dari mereka berbicara. Minseok ditarik dengan paksa oleh ketiga orang itu, dia tidak bisa melawan.

Salah satu dari mereka menarik kasar Minseok sampai dia jatuh dan menabrak tembok. Membuka kacamata dan masker hitamnya. Itu Luhan. “Hai, Minseok. Kita bertemu lagi. Dan pertemuan kali ini, tidak akan menyenangkan.”

Dua lelaki lain ikut membuka kacamata dan maskernya. Chanyeol dan Sehun. “Kau harus 
tau siapa saja orang yang akan membuatmu terluka.” Chanyeol memaksa Minseok berdiri dan bersender di tembok. “Luhan sudah memberikan luka di hatimu, aku akan membantu memberi luka secara fisik.”

Chanyeol menendang dan menginjak Minseok di kepala dan dadanya. Membuat Minseok terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Minseok hanya bisa meringkuk, tidak tau kenapa dia hanya bisa menerima dan berharap Jongdae akan datang. Masih belum cukup, Sehun mencekik lehernya kuat sampai Minseok berdiri dan bersender di tembok lagi. Menghajarnya dengan kepalan tangan kuat. Mengangkat Minseok sampai sejajar dengan tinggi Sehun, dan membenturkan kepalanya pada tembok dengan keras.

Setelah itu, kedua lelaki itu meninggalkan dia sendiri dengan Luhan. Situasi yang sangat tidak dia harapkan. Dengan wajah lebam dan darah di sudut bibirnya, Minseok bertahan tanpa air mata sedangkan Luhan menatapnya dengan senyum. “Aku harap setelah ini kau akan membenciku. Jangan hadir lagi di pikiran dan mimpiku, Kim Minseok. Jangan membuatku kembali mencintaimu.”

Minseok tidak mengerti arti semua itu. Dia hanya melihat Luhan berjalan meninggalkannya disudut atap dengan darah yang juga keluar dari kepalanya. Dia mencoba bangun, tapi pandangannya kabur dan kepalanya berat. Hal terakhir yang dia lihat adalah beberapa orang yang menghampirinya, dan salah satunya adalah Jongdae.


“Brengsek!” Jongdae mengumpat keras begitu Minseok sampai dirumah sakit. “Kenapa tidak ada yang melihat sesuatu, hah? Memang sekolah begitu sepi sampai tidak ada siapapun di kantin?!”

“Jam sore kantin memang sudah tutup, dan yang tersisa di sekolah hanya tinggal pengurus organisasi saja-“

“Harusnya begitu, kan?” Jongdae memotong cepat. Emosinya benar-benar berada di puncak kepalanya. “orang yang memukul Minseok sampai pingsan tidak mungkin pengurus kan?”

“Tentu saja, Jongdae. kami semua baru meninggalkan ruangan setelahmu.” Joonmyeon menjawab semua pertanyaan Jongdae dengan takut. Sebagai ketua organisasi, dia bertanggung jawab atas siswa yang masih berkeliaran di jam sore.

“Aku benar-benar marah.” Jawab Jongdae sambil mendengus nafas kasar. “Bagaimana kalau sesuatu terjadi dengan Minseok.”

“Aku juga tidak berharap hal seperti itu akan terjadi,” Jawab Joonmyeon. “Kita akan bertanya pada Minseok ketika dia sadar. Lebih baik sekarang kau beristirahat, masih ada Tao dan Yifan yang menjaga Minseok.”

“Tidak perlu, lebih baik kalian pulang saja.” Jongdae duduk di depan ruangan Minseok, kepalanya menghadap langit-langit rumah sakit. “Minseok tanggung jawabku.”

Joonmyeon membalas dengan senyum. “Kami akan membantumu, bagaimanapun hal ini terjadi di lingkungan sekolah. Sekolah juga akan bertanggung jawab.”


Minseok sadar setelah dia koma selama tiga hari. Selama itu juga, Jongdae tidak masuk sekolah. Untuk masalah ini, Sekolah bertanggung jawab atas semua biaya sampai Minseok keluar dari rumah sakit.

“Aku benar-benar takut kehilanganmu, Kim Minseok.” Jongdae membuka pembicaraan, ketika dia sedang menyuapi Minseoknya dengan bubur. “Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

Minseok menelan dengan susah payah, menarik nafas dalam. “Aku tidak tau siapa saja mereka, tapi mereka meminta uang padaku. Mungkin mereka tidak tau aku ini orang miskin atau apa, jadi karena aku tidak memiliki uang aku dihajar sampai pingsan.”

Minseok yakin, berbohong adalah pilihan yang tepat. Menutupi kesalahan Luhan, lelaki brengsek yang masih dicintainya itu supaya tidak berurusan dengan amarah Jongdae dan teman-temannya. “Tetap saja, mereka harus ditemukan dan aku akan memberikan pelajaran pada mereka.”

Minseok kaget setengah mati, membulatkan matanya. “Kumohon Jongdae, jangan. Sebentar lagi ujian akhir, aku tidak ingin kau terlibat masalah. Ini tidak perlu diperpanjang.”

“Bagaimana tidak? Aku sangat yakin orang yang melakukan ini padamu pasti anak sekolah kita.” Jawab Jongdae sambil memberikan air pada Minseok. “Dia tau lokasi supaya tidak ada yang melihatmu.”

Minseok juga khawatir, takut Jongdae akan nekat melakukan sesuatu. Tapi dia juga senang Jongdae berhasil menemukannya sesaat sebelum dia tidak sadarkan diri. “Bagaimana kau bisa menemukanku waktu itu?”

“Aku benar-benar khawatir ketika tidak mendapatimu di kantin. Benar-benar takut. Kebetulan semua pengurus tau aku akan pulang bersamamu, mereka membantu mencarimu juga. Semua kelas dan lab sudah dikunci jadi tidak mungkin kau berada disana. Satu-satunya tempat yang terpencil adalah atap sekolah. Jadi kami mencari disana, dan aku menemukanmu dibalik tembok itu.”

Ini kali pertama Minseok melihat Jongdae menangis. “Aku minta maaf. Ini semua salahku,” Jongdae meraih tangan Minseok, mengusapnya halus dan menggenggam tangan itu. “Seharusnya kau pulang duluan seperti biasanya-“

“Bukan salahmu,” Minseok memotong kalimat Jongdae, balas memegang tangan Jongdae. “Bukan salah siapa-siapa, seharusnya aku yang meminta maaf. Kita tidak jadi kencan ke mall.”

Jongdae jadi tertawa mendengar balasan Minseok, “Aku berjanji akan mengajakmu kencan setelah ujian akhir ini, Minseok. Kali ini kau akan tinggal di kamar dan tidak boleh kemana-mana.”

“Waktu itu aku hanya kaget jadi tidak bisa melawan,” Jawab Minseok, mengamati gurat khawatir Jongdae, “Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Kalau begitu, buktikan itu padaku,” Jongdae meletakkan mangkuk bubur yang dia pegang di nakas sebelah Minseok. “Aku juga berharap kau berhenti menangis untuk lelaki brengsek itu.”

Minseok hanya bisa membulatkan matanya, terkejut. “Selama kau koma, kau terus mengucapkan namanya dan menangis.” Jawab Jongdae sambil menunduk. “Aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak mau kau terus terluka karena dia.”

Minseok terdiam membisu. Menunduk, tidak bisa mengatakan apa-apa. Ternyata tanpa dia sadari, dia juga menyakiti perasaan Jongdae dengan kebenaran.

“Aku tau melupakannya mungkin sulit, tapi dia tidak baik untukmu. Aku tidak percaya kau masih bisa tersenyum setiap hari diatas luka yang dia berikan padamu.”

“Aku minta maaf. Aku bukannya tidak bisa melupakannya. Tapi, dia memberikan luka yang cukup untuk membuatku terus mengingatnya.” Minseok memandang Jongdae yang hanya menunduk, dia juga takut Jongdae akan melakukan hal-hal aneh.

“Kau istirahat saja, Aku akan kembali dan mengambil beberapa pakaian.” Kata Jongdae akhirnya sambil beranjak bangun dari kursinya. “menurut dokter, besok kau sudah boleh pulang.”

“Kalau begitu kau jemput aku besok? Hari ini tidak perlu kembali lagi.” Jawab Minseok, kali ini dia benar-benar sudah menyusahkan lelaki itu. “Apa yang kau bicarakan? kau mau aku mati khawatir dirumah? Aku akan kembali mungkin 2-3 jam lagi.” Bantah Jongdae, sambil mengambil helmnya dan berjalan menuju pintu.

“Jongdae,” Panggil Minseok ketika dia sudah hendak membuka pintu kamarnya, “Terima kasih, aku benar-benar sudah merepotkanmu.”

Jongdae membalas dengan senyumnya, “Tidak apa-apa, aku sudah sangat senang melihatmu kembali lagi.”

Setelah Jongdae keluar dari kamar Minseok, Joonmyeon dan Yifan juga ikut bangkit berdiri.

"Luhan, kita akan menemui Luhan."  




Joonmyeon melangkahkan kaki paling gusar. Sebagai anak teladan disekolah, berkelahi bukan pilihan untuknya. Berbeda dengan Yifan dan Jongdae yang senang berkelahi, melangkah dengan mantap didepannya. “Aku mengerti kalau kita melihat Luhan waktu itu, tapi bukan berarti dia pelakunya,” Buka Joonmyeon. Wajahnya memberikan gurat khawatir paling jelas.

Yifan menoleh sedikit ke arah Joonmyeon, “Tidak tahu kenapa, aku justru berpikir kalau dia pasti pelakunya,” Jawab Yifan dan melihat kearah Jongdae. 

“Setidaknya, aku tidak ingin ada perkelahian diantara kalian.” Joonmyeon menyerah untuk menghentikan semua ini.

Mereka sampai di depan rumah Luhan, memencet bel beberapa kali. Tidak berapa lama, Baekhyun lah yang membuka pintu. “Yifan? Ada keperluan apa?”

“Yang pasti bukan denganmu, kecil,” Jawab Yifan ketus dan melewati pandangannya ke atas kepala Baekhyun, melihat isi rumah itu. “Panggilkan Luhan.”

Baekhyun mengerjapkan matanya bingung, “Ada keperluan apa dengan Luhan?” Yifan memutar matanya lelah, Tidak tahan lagi untuk langsung melihat Luhan. “Cerewet sekali, sih? Panggilkan saja!”

Baekhyun bergetar kaget menanggapi kalimat ketus Yifan, membuka pintu lebih lebar lagi, “Si-Silahkan masuk kalau begitu.” Lalu Baekhyun berlalu masuk ke dalam dan tidak lama dia keluar bersama Luhan. “Ada apa?”

“Suruh si kecil itu masuk, kami tidak punya urusan dengannya,” Kembali, Yifan terus memberikan jawaban ketus. “Duduk disitu, Luhan.”

Yifan memimpin pertemuan kali ini dengan sangat baik, bukan Joonmyeon yang biasanya memimpin rapat. “Tiga hari lalu, aku lihat kau masih berkeliaran di lingkungan sekolah di sore hari. Kau tau kan, pengurus organisasi sedang rapat dan hanya kami lah yang masih berhak berada disekolah. Kau ada keperluan apa waktu itu?”

Luhan terdiam sesaat, memandang Yifan tenang. “Aku memang kembali lagi untuk mengambil buku tugasku di rak barang tertinggal.”

“Lalu?” Yifan tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, “Aku tau kau melakukan hal lain,”

Luhan memandang mereka satu persatu dengan tatapan bingung, “Hal lain apa?”

“Misalnya, menghajar Kim Minseok sampai pingsan?” Tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Jongdae memandang Yifan tenang, dia mengajak orang yang tepat. 

“Menghajar Minseok apa?” Jawab Luhan sambil mengerutkan keningnya.

“Minseok koma selama tiga hari, dan kami yakin kau yang membuatnya seperti itu.” Sambung Yifan yang sudah tidak sabar ingin menangkap basah Luhan. 

“Aku tidak tahu, dan aku rasa itu tidak ada hubungannya denganku.” Jawab Luhan sambil bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. “Kalau tidak ada urusan lain, sebaiknya kalian segera pergi. Teman-teman, ujian akhir 4 hari lagi. Aku hanya mengingatkan.” Kata Luhan sambil menebar senyumnya.

Yifan mendengus kesal, tidak habis pikir. “Baiklah, aku harap kau akan mengaku lain kali.” Yifan sudah mengepalkan tinjunya kuat, siap menghajar Luhan. Tapi Joonmyeon menarik tangan kekasihnya itu. “Wu Yifan, kumohon.”

Suasana berubah dingin, Jongdae tidak kalah kesal dengan Yifan. Masalahnya, dia sangat yakin lelaki itu adalah penjahat dibalik semua ini. Tapi dia juga mengingat Joonmyeon, Joonmyeon pasti tidak suka kalau namanya tercemar akibat berkelahi; apalagi kalau ada yang melukai kekasihnya itu. “Yifan, kita tinggalkan saja.”

Yifan hanya mendesah putus asa dan kesal, kecewa karena tidak memiliki bukti. “Luhan, lebih baik kau tahu apa yang kau lakukan. Jangan berurusan dengan Wu Yifan, kau tahu itu.” Kata itu.” Kata Yifan ketika mereka berjalan menuju pintu yang telah dibukakan Luhan.


Luhan menutup pintu itu perlahan, sambil melihat ketiga temannya berlalu meninggalkan rumahnya. Akhirnya, dia bisa bernafas lagi.

“Sial.” 

“Luhan? Apa maksud Yifan? Kau berkelahi dengan Minseok?” Baekhyun keluar dari balik kamar, rupanya dia mendengar percakapan mereka.

Luhan menghela nafas berat. “Bertemu dengannya saja tidak, Sayang. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, yang pasti tidak ada hubungannya denganku.” Jawab Luhan sambil merangkul Baekhyun dan kembali ke kamarnya.

“Kau benar-benar mencurigakan, kau tau?” Baekhyun memberi tatapan menyelidik untuk Luhan, tidak tahu sudah yang keberapa. “Aku tidak suka melihatmu begini.”

Luhan membalas tatapan menyelidik itu, “Tunggu sampai ujian akhir selesai, aku akan mengajakmu keluar, Baek. Lagipula sekarang kau juga harus belajar dan fokus.”

Bertemu dengannya saja tidak apanya.  Aku bertemu dengan Minseok, bahkan melihat wajahnya yang menyedihkan itu. Tidak berbicara sedikitpun, menampar saja tidak. Minseok tidak seperti mu Baekhyun, cerewet.


Luhan benar-benar pusing, dia sudah tidak tahan dengan Baekhyun. Suara cerewetnya, kemauannya yang banyak, perintah-perintah yang dia berikan.  Ditambah sifat keras kepalanya yang sangat menjengkelkan dan tidak merubah suasana menjadi lebih baik.

Sangat bukan Minseok. Luhan tidak melihat Minseok. Dia kira, Baekhyun akan menjadi segalanya. Tapi kenyataannya, mendekati saja tidak. Baekhyun lebih tampan – tapi bukan itu yang Luhan cari. Semua yang Luhan butuhkan ada pada Minseok, tapi dia sudah membuang Minseok; melukainya dan menyiksanya. Kebahagiaan yang Luhan dapat bersama Baekhyun hanya terukur dimasa-masa awal. membagi ciuman dan pelukan, hanya terjadi pada masa awal mereka. Semakin lama, Luhan bisa melihat sifat Baekhyun yang sebenarnya.

“Luhan, tolong jemput aku  dan teman-teman di toko buku Jin”

“Luhan, aku tidak bawa uang. Bisa tolong kau yang bayar?”

“Aku tidak mau makan ini, kemarin kan sudah.”   “Aku juga tidak mau disini, aku bosan.”

Sifat Baekhyun yang pemarah, yang Luhan tidak bisa mengerti. Luhan tidak  tahu kapan dia marah kapan dia tidak, karena semua tergantung pada Baekhyun. Ketika dia bilang tidak, dia bisa saja sedang menyimpan dendam. Dan ketika Luhan tidak bisa menyadari perubahan, Baekhyun menjadi semakin cerewet :

“Kau tidak mengerti lagi tentangku”  “Kau benar-benar sudah tidak mengerti lagi”

“Tidak, aku tidak marah. Kau saja yang berlebihan.”  “Aku bilang aku tidak marah!”

“Kau sudah tidak peduli lagi padaku, untuk apa bertanya lagi?”


Minseok sedang asik memasak ketika dia mendengar ada yang mengetuk pintu. “Jongdae, ada yang mengetuk pintu.”

Jongdae bangkit dari duduknya di dapur dan berjalan menuju pintu, membukanya, dan mengerutkan keningnya dengan gurat tidak suka. “Luhan?”

Luhan mendongak, mendengar namanya dipanggil. “Oh, Jongdae. Aku pikir Minseok yang akan membukakan pintu.”

“Dia sedang sibuk.” Jawab Jongdae singkat, tatapannya lurus ke mata Luhan, sementara Luhan hanya menatap tenang. “Aku yang masuk atau dia yang keluar, kalau begitu?”

Jongdae hanya mendengus kasar menanggapi pertanyaan Luhan, tapi kemudian dia membuka pintu lebih lebar. “Silahkan masuk,” Luhan mengikuti langkah Jongdae yang duduk di ruang tamu, menatapnya.

“Aku juga punya urusan denganmu Jongdae.”

Jongdae menaikkan sebelah alisnya. “Ada apa?” Luhan ikut duduk di sofa panjang itu, menyilangkan sebelah kakinya, “Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Langsung saja ke intinya.” Jawabnya singkat, ia menunggu. Jantungnya juga berdegup kencang.

“Mengenai Minseok,” Kata Luhan, menghela nafas berat. “Aku yang membuatnya babak belur seperti itu.”

Jongdae membulatkan matanya, kaget. Detik berikutnya dia langsung bangkit berdiri, dengan tinju yang terkepal kuat di tangan kanannya. Mengangkatnya tinggi dan mendaratkannya di pipi kiri Luhan. “Pengecut! Tidak berani mengaku waktu itu, hah? Bajingan! “ Jongdae terus mendaratkan tinjunya di pipi Luhan, membuat wajah pucat itu menjadi merah dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.

Luhan tidak membalas sama sekali, hanya menunduk. Badannya tersungkur duduk tapi dia terus bangun lagi, walaupun dia tau dia hanya akan mendapatkan tinju dari Jongdae. “Aku minta maaf.”

Sementara suara menggoreng menutupi apa yang sedang terjadi di ruang tamu, Minseok gelisah kenapa Jongdae tidak kunjung kembali ke dapur. Akhirnya dia memutuskan untuk mematikan kompornya dan menyusul Jongdae. Tapi yang dia lihat ketika dia sampai bukan cuma Jongdae, tapi juga ada Luhan. Yang berdarah-darah.

“Kim Jongdae!” Minseok menjerit histeris melihat sahabatnya memukuli lelaki di hadapannya seperti orang kesetanan seperti itu. “Sudah, berhenti!”

Mereka berdua melihat Minseok, tapi Luhan tidak bisa terus mengangkat wajahnya karena pelipisnya juga sudah berdarah-darah.

Jongdae menjauhi badan Luhan, kepalan tangannya berlumuran darah. Menghapus keringat didahinya dengan tangannya yang sama, tidak peduli kalau darah Luhan juga tercetak di dahinya. “Bajingan ini yang membuatmu terluka.” Jongdae berkata marah, benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. “Minseok sudah susah menjalani setiap hari dengan luka yang kau berikan, apa kau perlu menghajarnya? Bahkan memukul saja dia tidak bisa, Luhan. Kau sudah kehilangan akal sehatmu.” Jongdae melanjutkan dengan nada putus asa.

“Aku tau.” Luhan menjawab lirih, menghapus darah yang ada di sudut mulutnya. “Aku melakukannya karena aku mencintainya.”

Jongdae menarik sudut bibirnya tajam, bernafas kasar melalu sudut bibir itu. “Oh, kau akan segera membunuhnya juga, kalau begitu.”

Minseok tidak bisa mengerti situasi dingin yang sedang berada diantaranya sekarang. Dia tidak tahu harus bagaimana, suasananya benar-benar canggung. “Hai, Minseok. Aku datang untuk menanyakan kabarmu.” Luhan memaksakan sudut bibirnya untuk naik meskipun rasanya sangat perih, pandangannya juga kabur.

Minseok benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dia ingin membantu Luhan, tapi takut itu akan melukai Jongdae. Dia hanya menatap Jongdae, matanya bertanya apa yang harus dia lakukan.

“Dia datang karena ada urusan denganmu, Minseok.” Jawab Jongdae, seolah mengerti apa yang ditanyakan Minseok. “Aku akan pergi keluar, aku berikan kalian waktu berdua. Aku harap kau sudah tidak ada disini ketika aku kembali, Luhan. Kalau kau tidak ingin aku menghajarmu untuk yang kedua kalinya.”


Minseok membantu mengobati luka yang ada di wajah Luhan, semuanya tampak parah. Sedikit-sedikit Luhan meringis ketika kapas ber-alkhohol itu mengenai lukanya. “Aku minta maaf, Minseok. Aku kira, dengan begitu aku akan berhenti mencintaimu. Tapi aku malah semakin merindukanmu.”

Minseok tidak mengerti. “Kau kan memang tidak pernah mencintaiku,” Jawab Minseok singkat. “Kau mengatakannya. Chanyeol mengatakannya.”

Luhan mendesah lelah, dia mengakui ini salahnya. “Aku-“ dia berhenti. “Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Kau pasti tidak percaya.”

“Mungkin, tapi aku sudah memaafkanmu.” Jawab Minseok yang masih fokus membersihkan luka-luka itu. “Aku menghargai kalau kau mau menjelaskan sesuatu.”

“Kau bersedia berjalan-jalan denganku?” tanya Luhan.

“Dengan luka-luka yang ada diwajahmu?” Minseok balik bertanya sambil mengerutkan keningnya. “Baiklah.”

“Aku memang sempat mencintai Baekhyun.” Luhan membuka pembicaraan ketika Minseok selesai mengirim pesan pada Jongdae dan keluar dari rumah. “Tapi semua sikapnya, berbanding terbalik denganmu.”

Minseok hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lanjutkan,”

“Kau benar-benar mengerti tentangku. Kau banyak mendengarkan.” Luhan melanjutkan sedikit-sedikit, meringis di setiap kalimatnya. “Sementara Baekhyun, dia hanya peduli pada uangku.”

“Kau juga bilang aku begitu, kan. Aku hanya butuh uangmu.”

“Aku hanya mengatakan itu agar kau membenciku. Tidak mudah kan, membenci seseorang yang sudah menghabiskan waktu dua tahun denganmu?”

“Setelah kau mengatakan itu juga masih tidak mudah. Setelah temanmu menghajarku juga masih tidak mudah.” Jawab Minseok, menanggapi pertanyaan Luhan. “Tentu kau harus berpikir kenapa aku tidak memberi tahu Jongdae kalau waktu itu kau pelakunya.”

“kau memang memiliki hati yang terbaik, Kim Minseok.” Balas Luhan, memberikan senyumnya yang terbaik untuk Minseok. “aku tidak menyesal masih mencintaimu sampai sekarang.”

Minseok hanya terdiam, lebih memilih untuk mendengarkan dan tidak banyak berbicara. “Belum lagi, waktu itu kita sering bertengkar, ketika Baekhyun hadir dan menemaniku. Aku tidak sibuk, Minseok. Aku bersama  Baekhyun.”

“Aku tidak kaget.” Jawab Minseok tenang. “Aku hanya berusaha berpikir positif walaupun aku tau kau menemukan kebahagiaan lain.”

“Aku minta maaf, aku tidak sadar sudah melukaimu.” Luhan menunduk dalam, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. “Aku mencintaimu, Minseok. Aku bahagia bersamamu. Mau kah kau menjadi pacarku? Lagi?”

Mendengar itu, Minseok hanya tertawa. “Untuk apa? Kau kembali hanya untuk pergi.”

Luhan mempertahankan senyumnya, walaupun situasinya tidak cocok. “Kau tidak perlu menjawab hari ini,” Begitu dia mendapat penolakan dari Minseok. “Ayo kita kembali ke rumah Jongdae."

Jongdae yang membukakan pintu lagi. "Aku masuk ya," Minseok menoleh sedikit ke arah Luhan dan mendapat anggukan darinya. "Sampai bertemu lagi, Minseok." 

Sementara itu, Jongdae tetap bertahan di ambang pintu. Terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. “Kalau begitu aku juga pulang, Jongdae. Aku minta maaf sudah mengganggumu.”

Luhan membalikkan badannya, tapi dia berhenti ketika mendengar suara Jongdae memanggilnya. “Aku juga minta maaf. Menghajarmu.” Jongdae berdeham sedikit kemudian melanjutkan kalimatnya, “bisa ku bilang –tidak sengaja. Pokoknya aku minta maaf.”

“Ya, ya, tentu saja kau tidak sengaja. Aku yang sudah membuatmu marah, kau sudah susah payah menjaga Minseok tapi aku dengan mudah melukainya.”

Jongdae akhirnya bisa tersenyum dengan lega, “Aku akan menghajarmu kalau kau melakukannya lagi.” 

Luhan memasukkan satu tangannya ke dalam sakunya. “Aku tau.”


Dia tidak tahu rasanya kehilangan Minseok, sampai dia benar-benar kehilangan dan merasakan kosong yang menyakitkan.

Luhan berjalan pulang –sengaja tidak membawa mobil- melangkahkan kakinya menuju halte bus. Rasa pahit mulai merambat tangannya, yang tidak sempat memegang Minseok walaupun dia sangat ingin. Luhan sudah memberikan Minseok rasa sakit dengan berkata jahat –ditambah luka lebam yang terlihat. Perlahan-lahan wajahnya terasa sakit; dia kehilangan sentuhan Minseok.

Luhan duduk di antrian paling belakang, sebenarnya tidak ingin pulang. Luhan masih ingin melihat Minseok lebih lama lagi. Belum lagi si cerewet Baekhyun, harus bagaimana menjelaskannya.

“Luhan!”

Luhan menoleh ke asal suara. “Benar-benar sial.”  -kalau tau seperti ini- dia tidak akan bilang akan ke rumah Jongdae. Itu Baekhyun.

“Luhan, kau tidak datang!” Belum sampai, Baekhyun sudah menggerutu sambil menghentak-hentakkan kakinya disetiap langkahnya. “Kau juga mengabaikan pesan-pesanku!” Luhan tidak mengangkat kepalanya sama sekali. Tidak berniat menanggapi. “Luhan!”  Baekhyun memukul tangan Luhan sekali, menyadarkannya kalau disana ada seseorang sedang berbicara dengannya. “Kau tau aku tidak suka saat kau mengabaikanku!”

Luhan mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan wajahnya yang penuh plester pada Baekhyun.

Baekhyun membentuk mulutnya seperti O besar dan menutupnya dengan satu tangan, terkejut. “Apa yang terjadi padamu!” Baekhyun menjerit, tapi itu tidak memperbaiki suasana hati Luhan. “Kau-“

“Bukan urusanmu.” Bus sudah datang. Luhan bangun dari tempat duduknya, tidak memandang Baekhyun sama sekali. “Lu, jelaskan sesuatu padaku!” Baekhyun terus berteriak sementara Luhan melangkahkan kakinya perlahan menuju bus. Benar-benar tidak menginginkan Baekhyun ataupun suara melengkingnya sekarang.

Luhan berjalan menaiki bus, dibelakangnya ada Baekhyun yang masih setia mengikut dengan wajah mengkerut karena tidak mendapatkan penjelasan apa-apa. “Aku lelah, Baek. Berhenti menemuiku untuk sementara.” Setelahnya Luhan hilang dibalik pintu yang menutup.


Perasaannya benar-benar pahit. Dibandingkan perih di wajahnya yang belum berkurang, melihat Minseok masih tertawa di atas lukanya terasa lebih sakit. Luhan benar-benar tidak tahu mana yang lebih menyakitkan –Jongdae yang sangat baik menjaga Minseok atau kenyataan bahwa Minseok mungkin tidak akan pernah menerimanya lagi.  Mengetahui dia tidak merasa terkejut dengan kenyataan itu, Luhan tertawa paksa. Minseok yang dulu mencintainya tidak akan kembali lagi – karena Luhan yang sudah membuatnya menjauh dan belajar menjalani hari tanpa seorang Luhan.

Minseok sudah menolaknya – dia tidak mengharapkan Luhan kembali. Luhan tidak suka kenyataan itu, dia hanya memberikan dirinya sendiri kesempatan kedua untuk minta Minseok lagi. Bukan memberi Minseok kesempatan untuk menjawabnya lain kali.

Ting tong. 

Bel rumahnya berbunyi, setelah 1 minggu tidak pernah ada yang datang. Dengan langkah malas dia berjalan menuju pintunya, dan membuka pintu itu.

Mengetahui siapa yang ada di balik pintu itu, Luhan sama sekali tidak merubah ekspresi di wajahnya. “Baek, aku sudah katakan. Berhenti menemuiku.”

Baekhyun mendengus nafas dari hidungnya dan melipat tangannya di dada, mendorong dirinya sendiri masuk tanpa perlu diijinkan oleh Luhan.  “Aku sudah memberikanmu satu minggu untuk berpikir mengenai kesalahanmu. Juga untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi padamu minggu lalu.”

Luhan menutup pintu, mengikuti langkah Baekhyun yang duduk di sofa dengan masih menyilangkan tangannya. “Kesalahanku adalah membiarkanmu masuk diantaraku dan Minseok; dan yang terjadi padaku bukan urusanmu.”

Baekhyun kaget – matanya melotot dan dia langsung berdiri dari sofa. “Apa katamu!” Baekhyun menunjuk Luhan, ekspresinya kusut. “Aku memberikan waktuku untukmu, Luhan!”

“Ya, ya,” Luhan menjawab malas. “Terserahmu sajalah. Tapi kau orang paling egois yang pernah aku temui, Baek – dan aku tidak tahu apa kau bisa perbaiki sikapmu itu atau tidak.”

Baekhyun tidak bisa mengontrol emosi yang memuncak di mulut dan kepalanya – sangat panas. “Kau bersikap semaumu, Lu. Aku sudah tau ada sesuatu yang mencurigakan darimu dan harusnya sejak itu pula aku mengakhiri hubungan kita.”

“Oh kau sudah berpikir begitu?” Luhan mengangkat kepalanya sekarang; merasa tertarik tentang kemana pembicaraan ini akan berakhir. “kau memang sebaiknya meminta sejak dulu.”

“Memang benar, aku sangat marah padamu!  Kita sampai disini saja kalau begitu!” Baekhyun melebihi lengkingan suaranya yang biasa, dan dia sudah menangis sementara Luhan hanya menatapnya datar, “Memang itu yang aku inginkan – sekarang urusan kita sudah beres; kau bisa langsung keluar dari rumahku.”

Baekhyun kembali membulatkan matanya, tidak menyangka apa yang dikatakan Luhan. “Lu, tapi aku-“ Luhan sudah bangkit dari sofanya dan berjalan menuju pintu, membukanya bersemangat. “Aku sudah membuka pintu cukup lebar untukmu.”

Baekhyun mengejar Luhan – berlari sambil menangis. Suaranya bergetar, dan suaranya rendah hampir tidak terdengar. “Luhan maaf, aku tidak ingin berpisah-“

“Terlambat, kau sudah memintanya. Lagipula kau tidak perlu meminta maaf, kalau kau tidak memintanya duluan maka aku yang akan memintanya.”

Baekhyun menggenggam tangan Luhan erat, tidak ingin melepaskannya. Tidak berkata apa-apa, hanya menyampaikan air mata yang mengalir dan yang terbendung di sudut matanya. Tapi perlahan, dia juga keluar dari rumah itu. Membalikkan badannya, menatap Luhan.”Ini yang kau inginkan? Kau pikir Minseok akan kembali padamu? Teruslah berharap dan jangan pernah bangun – karena itu hanya akan ada di mimpimu.”

Terserah – Luhan tau kenyataannya, tapi dia memilih untuk tidak mempercayai yang bukan keinginannya. Luhan percaya Minseok akan kembali; karena dia yakin mereka masih saling mencintai.


Luhan tidak yakin kapan waktu yang tepat untuk menghubungi Minseok –tidak ada privasi; dirumah itu ada Jongdae. Tapi setidaknya, sudah tidak ada yang menghambat hubungan mereka; dia dan Baekhyun sudah tidak ada apa-apa lagi. Luhan meraih ponselnya, mencari nomor Minseok, menemukannya dan akan menghubungi nomor itu. Satu minggu jeda yang cukup dia rasa.

“Halo.”

“Hai Minseok, kau masih menyimpan nomorku?” Jantungnya berdegup kencang untuk beberapa kalimat pertama. 

“Tentu saja.”

“Kau menjawab lebih singkat dibandingkan dulu.”

“Benarkah? Aku minta maaf  kalau begitu. Apa ini mengganggumu?”

“Tidak- tidak. Aku hanya ingin bicara denganmu.”

“Baiklah?”

“Aku akan datang lagi kerumah Jongdae. kau masih tinggal disana?”

“Kalau tidak, aku tinggal  dimana lagi?”

“Aku kesana sekarang.”

“Aku akan beritahu Jongdae.”

“Apa? Untuk apa?”

“Aku belum ada dirumah sekarang- tapi mungkin sudah saat  kau sampai. Untuk berjaga kalau kau datang lebih dulu aku akan beritahu Jongdae.”

“Kau ada dimana?”

“Aku di pasar dekat halte 331.”

“Aku akan menjemputmu, tunggu di halte itu.”

“Mengantarku  pulang, ‘kan?”

“Tentu saja.”

“Baiklah, 5 menit lagi aku selesai.”

“Tunggu aku.”

Itu adalah kali pertama Luhan merasa Minseok adalah miliknya –lagi- Percakapan itu panjang, tapi terasa sebentar untuk Luhan. Bibirnya mengembang senyum lagi akhirnya, hatinya juga. Luhan merasa tenang dan dapat bernafas lega – sampai disini semua berjalan dengan baik.


Minseok sudah menunggu 5 menit, tapi Luhan atau mobilnya belum kelihatan. Minseok memang lebih suka menunggu daripada ditunggu, karena rasanya lebih santai supaya tidak terburu-buru. Mengenai Luhan, dia senang lelaki itu kembali memperhatikannya. Minseok masih mencintainya, karena ada sesuatu dalam Luhan yang tidak bisa dilupakan – karena Luhan pernah menjadi segalanya untuk Minseok. Jongdae terus memperingati, tapi dia juga mendukung apapun keputusannya, karena dia tau Minseok masih menginginkan lelaki itu. Selalu menginginkan lelaki itu. Tapi Minseok juga tidak ingin seperti lelaki murahan;  asal menerima saja walaupun dia sudah tau Luhan seperti apa. Jongdae yang menjaganya saat Luhan tidak ada, lelaki itu juga menyukai Minseok – dia bisa lihat, walaupun Jongdae tidak pernah mengakuinya. Mereka-

“Sampai kapan kau akan melamun, Minseok?”  Tidak tau sejak kapan, Luhan sudah duduk disebelahnya dengan mobil yang terparkir di depan mereka. “Luhan? Sejak kapan?”

“Aku memanggilmu dari mobilku, tapi kau terus memandang kebawah. Jadi aku turun dan menemanimu duduk, tapi kau tidak bergerak selama 3 menit.”

Pikirannya memang rumit, Minseok tidak terbiasa terganggu oleh hal-hal seperti ini. “Maaf, Lu. Ayo antar aku pulang,”


“Dan bicara denganku,” Sambung Luhan, sambil membantu Minseok membawa bahan makanan yang dibelinya. “Aku merindukan saat berdua denganmu.”


HAJAR AJA JONGDAE! GAUSAH TAKUT JOONMYEON BAKAL TERCEMAR ELAH SEMUA ORANG UDAH PASTI BAKAL BELAIN DIA KETIMBANG LUHAN- oops.

Jongdae nih boyfriend goal banget ga si. DIMANA GUA BISA CARI PACAR PERHATIAN MAMPUS KEK JONGDAE? TT_TT



-kairay.

You Might Also Like

1 Comments

  1. SUMPAH YA ITU CHANYEOL ANJ bye gasuka bet gue ;;; muncul cuman buat gebukin minseok doang apadah SEUN JUGA AH bye brb menangos

    ReplyDelete

Like us on Facebook

Flickr Images