It Hurts. [Chapter 2]

Monday, February 04, 2013

anw, maaf ke gap banget antara episode 1 sama episode 2. but actually ya kurang lebih seginilah jeda per-episodenya di blog gue, HEKHEK. Berlaku untuk semua fanfiction/fiction yang ada disini.


"Nuguseyo?" tanyaku dari balik pintu. Tidak ada jawaban dari balik pintu. “ada keperluan apa?” aku benar – benar sedang tidak mood  dengan kehadiran seorang tamu. Tapi, mengingat pintunya tidak terkunci, jadi tidak ada salahnya. Kubuka pintu itu… dan aku tidak tau lagi harus berkata apa.

Chapter 2

Taemin… Lee Taemin ada dibalik pintu itu. Siapa? Aku sungguh tidak percaya. Sekali lagi, apa yang ada di dalam kepalanya itu, sih? Dia lupa dengan semua catatan yang diberikan padanya atau apa?

“Lee Taemin!” teriakku begitu aku sadar –kalau ini bukan mimpi-. “Pabo! Kau tahu pabo? Aish, apa-apaan kau pulang hujan-hujanan begini…” tidak tahu apa aku harus marah atau sedih. “Aku ‘kan sudah sering ingatkan jangan hujan-hujanan… Lee Taemin! kau pernah mendengarkan atau tidak?!”

Aku takut sesuatu yang aneh akan terjadi padanya. Selama aku berbicara, dia tidak menjawab sepatah kata pun. Aku membawanya ke kamarnya dan mengambil baju ganti. “Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?!”

Selama dia mengganti bajunya, dia bergerak lama sekali. Wajahnya pucat. ”mianhae.”  Katanya dengan suara sekecil mungkin. Aku- bukan itu yang aku harapkan.

“Bukan itu maksudku. Yang aku inginkan adalah ‘Aku bisa jelaskan,’  bukan maaf-mu.”

Dia duduk di kasurnya dan menarik selimut sampai ke dadanya. “Aku bisa jelaskan,” jawabnya setelah beberapa lama dia terdiam. Dan terus terdiam.

“Apa yang akan kau jelaskan?” Tanyaku tidak sabar.

“Aku tidak ingin membiarkanmu mengkhawatirkan aku karena aku tidak pulang. Aku-“

“Tapi hujan-nya semakin deras, Oppa… Seperti baru pertama kali saja kau meninggalkan aku dirumah? Aku bisa mengerti apalagi dengan hujan badai diluar sana.”

“Iya- Iya, aku tahu tentang badainya. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan meninggalkanmu sendirian dirumah. Aku tidak tahu kenapa cuma aku yang bingung apakah aku harus pulang atau tidak.”

“Hah? Memangnya kemana teman – teman kantormu yang lain?”

“Tetap di kantor. Lalu-“

“Lalu apa yang harus kau pertimbangkan! Tentu saja kau harus tetap bersama teman – temanmu! Aishh, Oppa….”

“Lalu apa yang kau harapkan? Itu‘kan pilihanku aku mau pulang atau tidak! Dan-“

“Taemin Oppa!” Tiba – tiba dia sesak nafas dan terduduk di ranjangnya. Ini kali pertamanya dia begini sejak dia pulang dari rumah sakit dua tahun lalu. “Oppa! Kau bisa dengar aku?!”

Aku panik. Baiklah, sangat panik. Aku langsung menelepon ambulans dan membawanya ke rumah sakit –untung saja, mengingat hujan badai diluar sana-. Please, ku mohon dia baik – baik saja, kataku dalam hati. Aku terpaksa membayangkan hal – hal terburuk yang mungkin terjadi. Misalnya, dia harus dioperasi. Operasi. Mungkin ini sudah saatnya Taemin melakukan operasi.

“Sudah tidak ada gunanya lagi Lee Taemin melakukan operasi,” kata Choi uisanim.

“Apa dia baik – baik saja?”

“Maafkan kami, tapi tuan Lee Taemin tidak baik – baik saja,” Choi uisanim melanjutkan. 
“Leukemia yang dia miliki sudah jauh lebih kuat dari dua tahun lalu. Kami, akan berusaha semampu kami untuk sekarang. Maaf, kami tidak bisa menjamin selanjutnya.”

Dunia ini terbuat dari apa, sih? Rasanya bergoyang – goyang terus. Sudah sekitar dua jam aku melihat Taemin dari luar ruangannya, dia tidak kunjung sadar sejak di ambulans tadi. Kami- Aku… Tuhan, tolong bangunkan dia, untuk saat ini saja. Masih banyak yang harus aku katakan padanya… jangan ambil dia sekarang. Percakapan terakhir kami bahkan terjadi saat kami bertengkar. Bukan perpisahan yang baik, kurasa.

Aku mendengar beberapa suster berteriak, “Lee Hyo mi! Panggilkan Lee Hyomi!” Lalu tidak lama Choi uisanim keluar dari ruangan Taemin. “Lee Taemin mencari anda.”

Apa? Jadi maksudnya dia sadar, begitu? Tidak ada waktu untuk berpikir. “Taemin Oppa!” Aku berhambur masuk ke ruangannya. “Kau bisa lihat aku?! Oppa?!” aku memegang tangannya… yang sangat dingin.

Dia hanya bisa mengangguk. Tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa waktu. “Lee Hyomi, mianhae. Aku sangat menyayangimu.”

Oppa, oppa! Wae? Aku juga sangat menyayangimu, jangan pergi kemana – mana…” Aku tidak bisa tidak menangis, mengingat kalau dia keluargaku satu-satunya. “Aku menyayangimu Lee Taemin, maafkan aku kita bertengkar hari ini…”

“Aku meninggalkan sesuatu untukmu, ada dilemari kamarku. Itu semuanya untukmu. Aku lebih menyayangimu.”

Aku melihat garis putih panjang itu di kardiogram miliknya. Tentu saja aku melihatnya. Aku mundur beberapa langkah selama Choi uisanim melakukan … sesuatu, seperti menghidupkannya kembali.

“Sudah cukup, uisanim.” Aku sudah merasa bersyukur percakapan terakhir kami bukan pertengkaran, dan mengetahui bahwa dia menyayangiku sampai mati. “Aku tidak apa-apa… aku senang sudah bisa berbicara dengannya.”

Agassi?” kata seorang suster disebelahku. “Kami benar-benar minta maaf. Kami sudah melakukan semampu kami tapi hal ini tidak bisa dihindari.”

Aku membalas suster itu dengan tersenyum. “Tidak apa-apa, memang benar hal ini tidak bisa dihindari. Terima kasih atas bantuannya.” Choi uisanim mendatangiku dan mengajakku ke ruangannya.

“Lee Taemin pasti kakak yang baik untukmu,” Choi uisanim memulai pembicaraan setelah dia mempersilakan aku duduk di sofa panjang dalam ruangannya. “Dia sebelum ini pernah berkata padaku mengenai suatu hal, Hyomi-ssi,”

Aku tidak begitu mendengarkan karena satu-satunya hal yang ada di kepalaku sekarang adalah pemakaman Taemin.

"Dia menitipkan surat ini untukmu. Sepertinya dia sudah tau hal ini akan terjadi dan memintaku memberikannya padamu."

Choi uisanim memberikan amplot coklat padaku. "Apa isinya, uisanim?

"Kau yang berhak membukanya."

Setelah mendengar itu, aku menarik benang dari amplop dengan sangat takut. Takut dengan isi surat. Taemin tidak pernah berkata apa-apa sebelumnya, jadi semua hal-hal buruk melintas begitu saja di kepalaku. 

Surat itu tidak panjang, khas tulisan tangan Taemin yang kecil dan berantakan. 

Pertama-tama, Hyomi, alasan mengapa aku memberikan ini pada Choi-uisanim. kau tidak pernah membawa teman ke rumah jadi aku anggap tidak ada teman yang kau percayai.

Kedua, alasan mengapa aku menulis surat. Aku tidak ingin mengatakan ini langsung padamu karena aku tau akan membuatmu sedih... kalau aku membicarakan hal seperti ini, tapi, tolong letakkan aku bersama ayah dan ibu. Beberapa kotak juga tidak apa-apa, yang penting dekat dengan mereka. 

Aku benar-benar minta maaf, kalau kau menangis atau merasa sedih saat membaca ini. Hyomi, kau anak yang sangat baik dan sangat kuat, aku yakin kau bisa melakukan semuanya sendiri mulai sekarang. Aku menyayangimu.

Apa-apaan ini? Dia menyiksaku bahkan setelah dia tidak ada. Menulis surat yang membuatku tidak tau – sebaiknya merasa sedih karena dia menyinggung kehidupan setelah kematiannya atau senang karena kalimat terakhirnya itu. 

“Kau baik-baik saja?” Sejujurnya, aku tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa aku baik-baik saja ketika aku baru kehilangan anggota keluarga? Konyol. Ditambah surat tidak direncanakan ini, aku tidak tau lagi ekspresi seperti apa yang harus aku tunjukkan.

"Taemin Oppa memintaku untuk menaruhnya dekat dengan ayah dan ibu," Jangan menangis, Hyomi, jangan menangis. "Jadi, bagaimana memproses kematiannya sekarang?"

"Hyomi-ssi, tenangkan dirimu tidak apa-apa," Choi uisanim berusaha menenangkanku dengan memanggil seorang suster dan memberiku teh manis hangat. "Tidak perlu terburu-buru."

Bagaimana tidak perlu? 

Setelah berbincang untuk waktu yang lumayan lama, Kami berjalan keluar dari ruangannya. “Lee Hyomi, silahkan beristirahat dulu disini, diluar hujan masih sangat deras. Saya akan panggilkan suster.” Aku mengambil kursi di hall yang luas itu, tidak lama ada seorang suster yang mendatangiku.

Agassi, Ini coklat hangat untuk anda.” Aku mengambilnya dan merasakan panas di kedua telapak tanganku. Meminum sedikit, rasanya nyaman dan menghangatkan seluruh badan. “Anda baik-baik saja?”

“Terima kasih.” Aku sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan terakhirnya itu.

“Ada lagi yang bisa saya bantu?” Suster itu sangat ramah, setelah teh dia memberikanku satu botol minuman Vitamin C. “Tidak, terima kasih. maaf merepotkan.”

Setelah dia meninggalkanku, aku memandang kosong langit-langit ruangan. Benar kata Choi uisanim, televisi di ruang tunggu menayangkan berita hujan lebat yang masih belum reda, jadi aku pasti tidak bisa pulang. Tidak mungkin ada bus atau taksi yang beroperasi sekarang, tidak ada pilihan selain menunggu dan mencoba beristirahat disini. Aku sedang fokus menonton televisi ketika ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Maaf, keberatan kalau aku bergabung denganmu?”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya membenarkan posisi dudukku. “Eoh, tidak, tidak. Silahkan duduk.” Aku memandangnya untuk beberapa saat. Lelaki itu mengenakan jaket tebal seperti untuk musim dingin dan bahkan penghangat tangan. Sangat berbeda denganku yang hanya mengenakan sweatshirt dan jeans denim.

Sepertinya dia menangkap tatapan aneh dariku. “Tidak nyaman ya melihat pakaianku? Diluar sangat dingin agassi, badai memang sudah berlalu tapi hujan masih turun.” Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua tangannya dan mendekap tubuhnya sendiri.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku mengerti. “Kau baru tiba?” Aku bertanya padanya.
“Teman satu dormku baru saja masuk. Dia kecelakaan karena hujan badai ini.” Dia menyandarkan badannya, tapi kemudian dia bangun lagi. “Kau ingin kopi? Ah- siapa namamu?”

Aku menanggapinya dengan tertawa dan mengulurkan tanganku. “Lee Hyomi, dan aku ingin kopi.”

“Namaku Kim Jongwoon. aku akan segera kembali.”  Setelah melepaskan pagutan tangan kami, dia bangkut dari kursinya dan berjalan menuju mesin minuman yang ada di ujung koridor. Memberikan satu gelasnya untukku dan kembali duduk.

Keadaan sangat sepi dengan hanya ditemani suara dari televisi, hingga dia memanggilku. “Apa kau baik-baik saja? Sepertinya ada yang sedang mengganggumu.”

Apa wajahku begitu kusut sampai pikiran rumit pun bisa terbaca? Semua orang terus bertanya apakah aku baik disaat aku sama sekali tidak merasa baik-baik saja. Sekarang ditambah laki-laki ini, yang bahkan tidak tau apa-apa.

“Iya, aku baik-baik saja.” Aku membalas singkat, tidak membuka mataku sedikitpun.

“Kau bisa menceritakan keresahanmu padaku, pasti akan sangat meringankan pikiranmu yang berat sekarang.”

Aku membuka mataku dan melihatnya, lelaki ini agak menyeramkan. Pikiranku yang berat? Jangan – jangan dia bisa baca pikiranku. “Kau tau apa tentangku?”

“Tidak, tidak. Aku melihat matamu yang lelah, jadi aku menyimpulkan ada sesuatu yang sedang mengganjal. Maaf kalau aku mengganggumu.”

Aku mengabaikannya setelah itu. Tidak sopan, benar, apalagi setelah dia mentraktirku dengan secangkir kopi, tapi tiba-tiba aku tidak ingin bicara mengenai masalahku. Bukannya karena lelaki ini, tapi mengingatnya lagi bukan suatu hal yang aku inginkan untuk sekarang.

Semakin dipikirkan, aku semakin merasa bersalah. Lelaki yang masih duduk di sebelahku ini tidak bicara apa-apa lagi setelah itu dan sepertinya aku sudah kelewatan menanggapi sikap ramahnya. 

“Kakak laki-lakiku meninggal tadi malam.” Lelaki itu menoleh ke arahku, dan dia tersenyum. 

“Ceritakan saja padaku.”

“Namanya Lee Taemin, dia hanya seorang staff kantor dan kakak yang baik untukku. Pertama kali dia divonis dokter dengan Leukemia adalah tiga tahun lalu, tapi hari ini dia pergi. Aku tidak sedih, tapi tentu saja tidak bahagia. Aku tidak ingin pulang ke rumah karena setelah ini hanya akan ada aku sendiri, dan aku tidak menginginkan kenyataan seperti itu.”

Aku terus bercerita kepada lelaki itu, Kim Jongwoon, dan dia terus mendengarkan. Terkadang dia mengangguk-anggukan kepalanya dan mengatakan beberapa patah kalimat, tapi dia lebih sering diam dan mendengarkan. 

"Setelah ini aku harus mengurus hal-hal lain, yang berhubungan dengan kematiannya, dan-"

"Aku bersedia menemanimu." 

Apa? 

Jongwoon-ssi, kita ini baru saja kenal satu jam yang lalu. 

"Tidak, kau tidak perlu melakukannya karena kau kasihan padaku-"

"Kau membutuhkan seseorang. Tolong jangan berpikir aku melakukannya karena kasihan. Aku melakukannya karena aku tau rasanya sendirian dan kehilangan, dan tidak ingin kau merasakannya terlalu lama."

Bicara apa dia ini? "Kalau begitu maaf telah mencer-"

"Kurasa pertemuan ini direncanakan oleh Tuhan. Supaya aku bisa membantumu melewati kesulitan."

Dia, Jongwoon, berakhir dengan menceritakan masalahnya juga.

Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi dan hujan sudah tidak lebat, dia menawariku untuk makan di kantin rumah sakit, dan aku menyetujuinya. Aku belum makan apa-apa dari kemarin sore.

Tidak tau bagaimana, aku sangat menyukai menceritakan sesuatu padanya, Kim Jongwoon, yang lebih tua dariku dan aku seharusnya lebih sopan sejak awal. Walaupun rasanya air mata sudah berada di sudut mataku, aku berusaha tidak menangis.

Ketika seorang suster datang untuk memberikan informasi lanjutan mengenai Taemin juga untuk memanggilku ke ruangan Choi uisanim, Jongwoon ikut. Setelah melihat keadaan temannya yang tabrak lari itu dan dia sudah baik-baik saja, aku mengijinkannya. 

Jongwoon dan aku menghabiskan satu jam lainnya di café itu, dan dia menawarkan tumpangan dengan mobilnya, dan lagi, aku menyetujuinya karena aku sangat membutuhkannya. Dia mengantarkanku sampai di depan rumahku.

Aku turun dari kursi penumpang. “Terima kasih banyak, Jongwoon-ssi. Untuk tumpangannya dan waktumu.”

“Tidak masalah, aku bersedia mendengarkanmu lagi lain kali kalau kau membutuhkannya. Kau sudah memiliki nomorku, ingat. Jangan lupa segera hubungi nomor itu kalau kau ingin seseorang untuk menemanimu.”

“Baik. Aku benar-benar berterima kasih atas pertolonganmu. Kita akan bertemu lagi lain kali.” Dia bilang harus kembali ke rumah sakit karena harus menjaga temannya. Hari ini kami dua langkah lebih dekat, kami bertukar nomor dan tempat tinggal kami lumayan dekat. Dia dan temannya tinggal di apartemen diatas bukit.

Ketika aku selesai mandi, jam sudah menunjukkan pukup setengah 6 pagi dan badanku rasanya sangat lelah jadi aku mengunjungi kamar Taemin dan merebahkan badanku di kasurnya. Aku terbangun pukul 8 pagi dan teringat akan ucapannya tentang sesuatu yang ada di dalam lemari kamarnya.

Aku meraih pintu lemari yang tidak pernah aku buka. Taemin selalu menguncinya, dan dia bilang aku tidak perlu membersihkan lemari itu, karena tidak ada apa-apa didalamnya. Tapi kali ini, lemari itu tidak terkunci. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat isi lemari itu.
Sebuah amplop coklat berukuran sedang dan sebuah tas kerja berwarna hitam ada di dalam, sisanya lemari itu kosong. Di balik pintu tertempel sebuah amplop lain berwarna putih. Aku mengambilnya dan membaca surat yang ada didalamnnya.

Untuk Lee Hyomi,

Hyomi-ah, kalau oppa sudah menyuruhmu membaca surat ini berarti oppa sudah tidak bisa menemanimu lagi. Pertama-tama, kau adik yang kuat. Aku tau kau pasti tidak akan menangis, iya kan? Jangan menangis. Sering-seringlah datang ke kamarku kapanpun kau ingin.

Aku tentu tidak akan meninggalkanmu tanpa tanggung jawab, eoh? Oppa sangat menyayangimu. Aku selalu memikirkan caranya supaya kau bisa terus bahagia bahkan setelah aku tidak ada.
Kau sudah 17 tahun, setelah ini pergilah ke bank dan buat rekening milikmu sendiri. Lee Hyomi, kau anak yang baik. Aku sangat bahagia dan tidak menyesal memilikimu. Baiklah, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Oppa akan sangat merindukanmu.

-Lee Taemin.

Baiklah aku janji tidak akan menangis setelah ini, tapi biarkan aku menangis untuk yang terakhir kali. Oh, amplop dan koper dihadapanku. Aku menaruh surat dari Taemin di atas mejanya dan mengalihkan perhatianku ke dalam lemari coklat itu. Aku mengambil tas kerja itu dan membukanya.

Di dalamnya ada amplop coklat. Isinya 50.000 won. Dan 50.000 won. Dan 50.000 won. 10 lembar … 20 lembar … dan aku tidak menghitung lagi. amplop itu berisi, mungkin seratus lembar 50.000 won dan di atas amplop coklat itu ada tanda tangan Taemin dan tanggal dia selesai mengisi amplop itu.

Di dalamnya juga ada beberapa dokumen dan kertas. Aku menemukan satu buku rekening atas nama Taemin dan surat didalamnya, dan aku tidak bisa mengerti jumlah yang tertera dalam buku itu.

Setelah menghitung jumlah nol dari total saldo, aku semakin tidak mengerti. 60 juta won. Serius, 60 juta won? Itu pasti jumlah yang sangat banyak. Darimana dia dapat uang sebanyak itu? Tercatat bulan lalu adalah kali terakhirnya mengisi buku rekening. Tapi sesuatu yang mengganjal pikiranku adalah, mengapa dengan uang sebanyak ini, dia selalu menolak operasi?

Sambil berpikir, aku mengambil surat lain dari Taemin:

Hyo-ah, gunakan uangnya untuk keperluanmu sehari-hari, uang sekolah dan tutor, rekreasi, dan apapun yang kau butuhkan.  Aku sudah melunasi rumah ini, akhirnya setelah 8 tahun. Jangan lupa untuk belajar, tapi kau juga tidak boleh melewatkan waktu untuk bersenang – senang. Aku tidak tau uang yang aku siapkan cukup untuk berapa tahun, tapi aku harap bisa menutupi keperluanmu sampai saatnya kau bisa mencari pekerjaanmu sendiri.

Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Aku mendapatkan penyakit untuk suatu alasan, mungkin supaya aku bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhanmu. Mungkin supaya aku lebih menghargai waktu yang kita lewati bersama, yang kita habiskan bersama. Hyomi, sebelum kau mengetahui tentang penyakitku aku sudah tahu bahwa aku akan mati dalam waktu dekat. Tidak peduli apakah aku akan mati dalam beberapa bulan atau tahun – tapi aku pasti akan meninggalkanmu cepat, karena itu kau tidak perlu repot untuk memperpanjang waktuku di dunia ini. Karena kita akan bertemu lagi nanti. Aku lebih memilih untuk berjuang lebih keras lagi karena aku tidak ingin meninggalkanmu begitu saja.

Aku tidak bisa tidak meneteskan air mata untuknya, sedih dan marah menjadi satu setelah membaca pemikirannya selama ini. Taemin sangat menyayangiku, dan aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Dan bagaimana dengan 60 juta won ini? Jumlah yang sangat besar membuatku takut untuk menyimpannya dimanapun. Bahkan dengan uang sebanyak ini mungkin aku tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan untuk beberapa tahun kedepan. Mungkin aku bisa melanjutkan S2 dengan uang yang ditinggalkan Taemin. 

Mungkin aku bisa berhenti memusingkan partime-job apa yang harus aku ambil selama libur semester ini, dan banyak mungkin lainnya. Aku benar-benar tidak mengerti seberapa besar 60 juta won itu, karena tidak pernah terbayang olehku untuk memiliki uang sebanyak ini.

Aku meninggalkan buku tabungan itu bersama surat-surat lainnya di atas meja, dan beralih pada dokumen lain. Ada surat tanah rumah ini yang akhirnya lunas setelah kami kontrak selama 8 tahun, atas namaku. Dan surat atas kepemilikan lain.

Lagi, aku tidak bisa tidak menangis untuk beberapa jam setelahnya. Menjatuhkan badanku yang lelah di ranjang hangat Taemin, yang akan selamanya ku rindukan.


Aku bangun hari berikutnya setelah terlelap di kamar Taemin, dan aku memulai aktivitas di luar rumah dengan pergi ke bank. Setelah aku pikir-pikir, tidak baik mengambil uang jutaan won sekaligus. Aku juga masih kurang mengerti mengenai proses deposit dan sejenisnya, jadi aku berencana untuk tidak mengambil uang di rekening Taemin untuk sekarang.

Hari itu aku, akhirnya dengan saran Taemin, membuka rekening milikku dengan 2 juta won yang ada di amplop coklat. Di jalan pulang aku membeli beberapa bahan makanan dan juga membeli bunga untuk aku taruh di kamar Taemin.

Taemin sudah pernah mengajarkanku bagaimana caranya membuat daftar pengeluaran, dan aku memulai daftar milikku sendiri hari itu. Dokumen-dokumen penting aku masukkan kembali ke lemari Taemin dan menguncinya kecuali surat buatannya, yang aku bawa ke kamarku. 

Tiga bulan lagi ujian kenaikan tingkat akan berlangsung, jadi belajar bukan lagi pilihan. Setelah berkutat dengan rumus-rumus seharian, aku mulai merasa bosan. Setelah mandi dan membereskan buku-buku latihan, aku mengambil ponsel dan melihat apa yang bisa aku lakukan. Dan aku teringat Jongwoon.

“Halo,”

“Halo. Ini dengan Kim Jong Woon?”

“Benar Hyomi-ssi.”

“Ah, apa kau sedang sibuk?”

“Tidak, ingat cerita tentang temanku yang masuk rumah sakit? Dia sudah pulang, jadi aku pun sudah ada dirumah.”

“Ah begitu. Kau ada acara hari ini?”

“Kau ingin pergi ke suatu tempat?”

“Ahm- aku. Aku bosan sehabis belajar. Kau bisa datang?”


Let's get it straight, jangan tanya gue 'emangnya bener kalo leukemia dan kehujanan bisa sampe kayak gitu' soalnya gue nggak tau hehe. It actually depends on personal matter(s). My friend died because of leukemia and that was what actually happened to him, jadi gue gatau apa kejadian itu berlaku buat semua orang yang menderita leukemia ato nggak.

Obvious banget ya Hyomi sama Yesung. yaudahlahya, biar keliatan mau dibawa kemana fanfiction ini. Nggak keliatan buru-buru kan. Nggak lah.

Chapter ini dua kali lipat lebih panjang dari yang pertama, 2.645 kata. Oke jadi di chapter selanjutnya itu bakal jadi flashback Hyomi terakhir, JANJI TERAKHIR. Dan tahun yang dipake untuk ‘saat ini’ adalah 2014, like, KEREN GA SI GUE FANFIC INI KAYAK DIMASA DEPAN GITU. Kalo dihitung kan, awal cerita itu flashback tahun 2010 dan itu pertama kali Taemin divonis leukemia, dan tiga tahun kemudian Taemin meninggal. Satu tahun lagi nggak usah di jelasin deh kayaknya, soalnya bakal kepanjangan wkwkwk jadi untuk chapter depan, sisa sedikit lagi flashback baru habis itu ‘saat ini’. I'm literally sorry, kelamaan flashback sampe 3 chapter hahaha


-kairay.

You Might Also Like

0 Comments

Like us on Facebook

Flickr Images